Menyiapkan tas darurat sering kali berfokus pada makanan, air minum, pakaian ganti, dan obat-obatan. Padahal, ketika bencana terjadi dan seseorang harus meninggalkan rumah dengan cepat, ada sejumlah barang kecil yang justru bisa sangat dibutuhkan, mulai dari salinan dokumen penting hingga alat penerangan dan perlengkapan kebersihan pribadi.
Tas darurat sebaiknya tidak hanya berisi kebutuhan untuk bertahan hidup, tetapi juga perlengkapan yang membantu keluarga tetap aman, sehat, dan mudah berkomunikasi selama proses evakuasi. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Selasa (13/10), berikut barang yang sering terlupakan saat menyiapkan tas darurat beserta tips untuk memastikan isinya sesuai dengan kebutuhan setiap anggota keluarga.
1. Salinan Dokumen Penting
Dokumen penting sering kali tidak masuk dalam daftar utama ketika seseorang menyiapkan tas darurat. Padahal, ketika rumah terdampak banjir, kebakaran, gempa bumi, atau bencana lainnya, dokumen seperti kartu identitas, kartu keluarga, akta kelahiran, dan dokumen asuransi dapat diperlukan untuk mengurus administrasi, memperoleh bantuan, atau membuktikan identitas.
Simpan salinan dokumen yang relevan dalam kantong kedap air agar tidak mudah rusak akibat hujan maupun cipratan air. Pilih wadah yang ringkas dan letakkan di bagian tas yang mudah dijangkau, tetapi tetap terlindung dari kelembapan.
Selain salinan fisik, simpan pula salinan digital di perangkat atau penyimpanan daring yang aman. Pastikan dokumen digital dilindungi kata sandi jika memuat informasi sensitif, dan jangan hanya mengandalkan ponsel karena baterai dapat habis atau perangkat berisiko rusak saat keadaan darurat.
2. Uang Tunai dalam Pecahan Kecil
Uang tunai kerap dilupakan karena banyak orang terbiasa mengandalkan pembayaran digital untuk berbelanja dan melakukan transaksi sehari-hari. Namun, ketika terjadi bencana, jaringan internet, listrik, mesin ATM, atau layanan pembayaran elektronik bisa mengalami gangguan sehingga transaksi digital tidak selalu dapat digunakan.
Siapkan uang tunai secukupnya dalam pecahan kecil agar lebih mudah digunakan untuk membeli air minum, makanan, ongkos transportasi, atau kebutuhan mendesak lainnya. Tidak perlu membawa seluruh uang simpanan; sesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan keluarga, kemungkinan durasi evakuasi, dan kemampuan penyimpanan yang aman.
Letakkan uang di dalam kantong kedap air dan pisahkan dari dompet yang biasa dibawa. Cara ini membantu mengurangi risiko seluruh uang hilang sekaligus apabila salah satu tempat penyimpanan rusak atau terjatuh.
3. Peluit untuk Meminta Pertolongan
Peluit merupakan perlengkapan berukuran kecil yang mudah tersisih ketika tas darurat diisi dengan barang-barang berukuran besar. Meski sederhana, alat ini dapat membantu seseorang menarik perhatian tim penyelamat atau orang lain ketika terpisah dari rombongan, berada di lokasi yang sulit dijangkau, atau tidak mampu berteriak dalam waktu lama.
Dibandingkan terus-menerus berteriak, penggunaan peluit dapat membantu menghemat tenaga. Pilih peluit yang kokoh, mudah ditiup, dan memiliki tali atau pengait agar tidak gampang hilang ketika dibutuhkan.
Simpan peluit di saku luar tas atau gantungkan pada bagian yang mudah diraih. Beri tahu anggota keluarga tempat penyimpanannya dan jelaskan kapan alat tersebut perlu digunakan untuk meminta bantuan.
4. Power Bank dan Kabel Pengisi Daya
Ponsel berperan penting dalam keadaan darurat karena dapat digunakan untuk menghubungi keluarga, menerima informasi resmi, mencari petunjuk evakuasi, dan membagikan lokasi. Namun, fungsinya akan terbatas apabila baterai habis ketika listrik belum tersedia kembali.
Sediakan power bank yang sudah terisi penuh beserta kabel pengisi daya yang sesuai dengan perangkat keluarga. Jika memungkinkan, pilih kapasitas yang memadai untuk kebutuhan komunikasi selama evakuasi, tetapi tetap pertimbangkan berat dan ukuran agar tas tidak terlalu membebani.
Periksa kondisi power bank secara berkala, terutama sebelum musim hujan atau ketika terdapat potensi bencana. Simpan perangkat dalam keadaan kering dan ikuti petunjuk penyimpanan dari produsennya. Ponsel juga sebaiknya digunakan secara hemat dengan mengurangi aktivitas yang tidak mendesak agar daya bertahan lebih lama.
5. Senter dan Baterai Cadangan
Sebagian orang memasukkan senter ke dalam tas darurat, tetapi lupa memastikan bahwa alat tersebut berfungsi atau menyediakan baterai cadangan. Padahal, gangguan listrik dapat membuat rumah, tempat pengungsian sementara, atau jalur evakuasi menjadi gelap, terutama pada malam hari.
Pilih senter berukuran ringkas dengan cahaya yang cukup untuk menerangi jalan dan membaca petunjuk di sekitar. Senter kepala juga dapat menjadi pilihan karena memungkinkan kedua tangan tetap bebas untuk membawa barang atau membantu anggota keluarga.
Periksa baterai dan tombol senter secara berkala. Jika menggunakan baterai isi ulang, pastikan dayanya mencukupi sebelum disimpan. Hindari menempatkan baterai lepas bersama benda logam tanpa pelindung karena kontak yang tidak disengaja dapat menimbulkan risiko korsleting.
6. Obat Pribadi dan Salinan Informasi Medis
Kotak P3K sering dianggap sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kesehatan selama evakuasi. Padahal, perlengkapan pertolongan pertama belum tentu mencakup obat rutin yang diperlukan seseorang untuk menjaga kondisi kesehatannya.
Siapkan obat pribadi sesuai kebutuhan dan petunjuk tenaga kesehatan, terutama jika ada anggota keluarga yang menggunakan obat secara teratur. Periksa tanggal kedaluwarsa, kondisi kemasan, serta persyaratan penyimpanan obat agar tetap layak digunakan. Untuk obat yang membutuhkan suhu khusus, ikuti petunjuk penyimpanan dan rencanakan cara menjaganya selama perjalanan.
Sertakan pula catatan singkat mengenai alergi, kondisi medis yang relevan, obat yang sedang digunakan, dan kontak tenaga kesehatan jika diperlukan. Informasi ini dapat membantu petugas memberikan pertolongan ketika seseorang kesulitan menjelaskan kondisinya. Simpan obat dalam kemasan aslinya jika memungkinkan agar nama dan petunjuk penggunaannya tetap jelas.
7. Perlengkapan Kebersihan Pribadi
Sabun, tisu, dan sikat gigi mungkin tampak sebagai barang tambahan yang bisa dibeli setelah sampai di tempat pengungsian. Kenyataannya, akses terhadap air bersih, toilet, dan fasilitas mandi bisa terbatas, sehingga perlengkapan kebersihan pribadi dapat membantu menjaga kenyamanan sekaligus mengurangi risiko masalah kesehatan.
Masukkan sabun berukuran kecil, sikat dan pasta gigi, tisu kering, tisu basah, hand sanitizer, serta pembalut atau perlengkapan menstruasi sesuai kebutuhan. Kantong untuk menyimpan sampah dan pakaian kotor juga berguna agar barang bersih tidak tercampur dengan barang yang sudah digunakan.
Pilih perlengkapan berukuran praktis dan sesuaikan isinya dengan jumlah anggota keluarga. Jika membawa bayi, tambahkan popok, perlengkapan pembersih, dan kebutuhan khusus lainnya. Bagi orang yang memiliki kebutuhan kebersihan tertentu, prioritaskan barang yang sulit digantikan ketika fasilitas umum terbatas.
8. Masker dan Pelindung Diri
Masker sering terlupakan karena tidak selalu dianggap sebagai perlengkapan utama menghadapi bencana. Padahal, kondisi lingkungan setelah bencana dapat dipenuhi debu, asap, atau partikel lain yang mengganggu pernapasan. Masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan terhadap partikel tertentu, meskipun perlindungannya bergantung pada jenis masker dan kondisi lingkungan.
Simpan beberapa masker bersih di dalam kemasan atau kantong tertutup agar tidak tercampur dengan barang kotor. Sesuaikan jenis masker dengan kebutuhan dan risiko yang mungkin dihadapi. Untuk situasi yang melibatkan asap pekat, bahan kimia, atau udara yang diduga beracun, masker biasa bukan perlindungan yang memadai; utamakan menjauhi area berbahaya dan mengikuti arahan petugas.
Lengkapi tas dengan sarung tangan kerja yang sesuai, jas hujan ringan, dan alas kaki yang kuat jika ruang penyimpanan memungkinkan. Barang-barang tersebut dapat membantu melindungi tubuh ketika harus berjalan melalui lingkungan yang basah atau dipenuhi puing, tetapi hindari memasuki bangunan rusak atau area yang dinyatakan berbahaya.
9. Peluit Identitas dan Informasi Kontak Keluarga
Ketika anggota keluarga terpisah selama evakuasi, mengandalkan nomor telepon yang tersimpan di ponsel bisa menjadi masalah. Perangkat dapat hilang, rusak, atau kehabisan baterai, sementara seseorang mungkin tidak hafal nomor kontak kerabat yang dapat dihubungi.
Sediakan kartu kecil yang berisi nama, nomor telepon keluarga atau kontak darurat, serta informasi penting lain yang memang diperlukan. Untuk anak-anak dan orang yang membutuhkan bantuan khusus, kartu tersebut dapat membantu petugas menghubungi keluarga apabila mereka terpisah dari pendampingnya.
Simpan kartu di tempat yang aman dan mudah ditemukan, misalnya di kantong bagian dalam tas atau dompet kecil. Batasi informasi sensitif yang dicantumkan agar tidak menimbulkan risiko privasi jika kartu jatuh ke tangan orang yang tidak dikenal. Pastikan nomor telepon yang ditulis masih aktif dan dapat dihubungi.
10. Peta Lokal dan Petunjuk Evakuasi
Peta kertas sering dianggap tidak diperlukan karena ponsel sudah memiliki aplikasi navigasi. Namun, ketika jaringan komunikasi terganggu atau baterai habis, peta sederhana dapat menjadi cadangan untuk membantu mengenali jalan keluar, titik kumpul, dan lokasi fasilitas penting.
Simpan peta lingkungan tempat tinggal yang memuat jalur evakuasi resmi, lokasi tempat pengungsian yang ditetapkan pemerintah setempat, serta beberapa alternatif rute apabila jalan utama tidak dapat dilewati. Informasi tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi wilayah karena jalur aman untuk banjir belum tentu sama dengan jalur evakuasi untuk gempa bumi atau bencana lainnya.
Jangan mengandalkan peta lama tanpa memeriksa apakah informasi di dalamnya masih berlaku. Pelajari jalur evakuasi bersama keluarga dan ikuti arahan petugas ketika terjadi keadaan darurat. Peta merupakan alat bantu, bukan pengganti informasi keselamatan terkini.
11. Perlengkapan Khusus Bayi, Lansia, dan Penyandang Disabilitas
Tas darurat keluarga tidak seharusnya hanya berisi barang-barang umum yang dianggap cocok untuk semua orang. Bayi, lansia, penyandang disabilitas, dan anggota keluarga dengan kebutuhan kesehatan tertentu mungkin memerlukan perlengkapan tambahan agar dapat dievakuasi dengan aman.
Untuk bayi, pertimbangkan popok, susu atau makanan yang sesuai, botol, serta perlengkapan kebersihan. Bagi lansia atau penyandang disabilitas, siapkan kacamata cadangan jika tersedia, alat bantu dengar beserta baterainya, tongkat, atau kebutuhan lain yang digunakan sehari-hari. Kebutuhan ini perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.
Jika ada anggota keluarga yang memerlukan bantuan untuk berjalan atau berpindah tempat, susun rencana evakuasi yang melibatkan pendamping dan mempertimbangkan aksesibilitas jalur. Bicarakan kebutuhan tersebut sejak awal agar keluarga tidak baru mencari perlengkapan ketika situasi sudah mendesak.
12. Buku Catatan dan Alat Tulis
Buku catatan dan alat tulis terlihat sederhana sehingga sering tidak masuk daftar perlengkapan darurat. Padahal, keduanya dapat digunakan untuk mencatat pesan, nomor telepon, alamat tempat pengungsian, informasi penting, atau instruksi yang perlu disampaikan kepada anggota keluarga.
Pilih buku berukuran kecil dan alat tulis yang praktis dibawa. Simpan bersama kartu kontak darurat atau dokumen penting agar mudah ditemukan. Kantong tahan air dapat membantu melindungi kertas dari hujan dan kelembapan.
Perlengkapan ini juga berguna ketika ponsel tidak dapat digunakan untuk menyimpan atau menampilkan informasi. Meski demikian, catatan tertulis sebaiknya hanya memuat informasi yang diperlukan dan tidak menyertakan kata sandi, PIN, atau data rahasia yang dapat disalahgunakan.
13. Kantong Kedap Air dan Kantong Sampah
Perlengkapan darurat yang sudah disiapkan dapat kehilangan fungsinya apabila basah, kotor, atau tercampur dengan sampah. Karena itu, kantong kedap air dan kantong sampah merupakan barang pendukung yang sebaiknya tidak diabaikan ketika menyusun tas darurat.
Kantong kedap air dapat digunakan untuk melindungi dokumen, pakaian bersih, ponsel, dan barang kecil yang sensitif terhadap air. Sementara itu, kantong sampah membantu memisahkan sampah, pakaian kotor, atau barang yang sudah digunakan agar isi tas tetap lebih teratur selama perjalanan.
Pilih beberapa ukuran sesuai kebutuhan dan simpan dalam kondisi terlipat agar tidak memakan banyak ruang. Perlu diingat, kantong biasa tidak otomatis menjamin perlindungan terhadap air sepenuhnya. Untuk barang penting, gunakan wadah yang memang dirancang untuk perlindungan tersebut dan periksa penutupnya sebelum berangkat.
14. Daftar Isi Tas dan Jadwal Pemeriksaan
Barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam tas darurat belum tentu siap digunakan ketika dibutuhkan. Makanan bisa kedaluwarsa, baterai kehilangan daya, obat-obatan melewati tanggal penggunaan, atau kebutuhan anak berubah seiring bertambahnya usia. Karena itu, daftar isi tas dan pemeriksaan berkala juga perlu disiapkan.
Buat daftar sederhana yang mencatat nama barang, jumlah, tanggal kedaluwarsa jika ada, serta waktu terakhir barang diperiksa. Simpan daftar tersebut di dalam tas atau tempelkan pada bagian yang mudah dilihat. Dengan begitu, anggota keluarga dapat memeriksa kelengkapan tanpa harus mengeluarkan seluruh isi tas.
Jadwalkan pemeriksaan secara berkala dan lakukan pengecekan tambahan ketika ada perubahan kebutuhan keluarga atau peringatan potensi bencana. Pastikan tas diletakkan di tempat yang mudah dijangkau, tidak menghalangi jalur keluar, dan dapat diangkat oleh orang yang akan membawanya. Untuk kebutuhan dasar, gunakan panduan Tas Siaga Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai acuan dalam melengkapi persediaan.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa saja barang yang sering terlupakan saat menyiapkan tas darurat?
Barang yang kerap terlewat antara lain salinan dokumen penting, uang tunai pecahan kecil, peluit, kabel pengisi daya, baterai cadangan, perlengkapan kebersihan, serta kebutuhan khusus anggota keluarga.
2. Berapa lama kebutuhan dalam tas darurat sebaiknya mencukupi?
Tas Siaga Bencana umumnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama sekitar tiga hari atau 72 jam pertama. Jumlah persediaan perlu disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, kondisi wilayah, dan kebutuhan khusus masing-masing orang.
3. Di mana sebaiknya tas darurat disimpan?
Simpan tas darurat di lokasi yang mudah dijangkau, dekat jalur keluar yang aman, dan tidak terhalang barang lain. Hindari tempat yang berisiko terendam air atau sulit diakses ketika keadaan mendesak.
4. Seberapa sering isi tas darurat harus diperiksa?
Periksa secara berkala, misalnya setiap tiga hingga enam bulan, dan lakukan pengecekan tambahan sebelum musim atau periode dengan risiko bencana yang lebih tinggi. Pastikan makanan dan obat-obatan belum kedaluwarsa serta baterai dan perangkat elektronik masih berfungsi.
5. Apakah satu tas darurat cukup untuk seluruh keluarga?
Satu tas besar belum tentu praktis untuk semua anggota keluarga. Sesuaikan jumlah dan ukuran tas dengan kemampuan membawanya, jumlah anggota keluarga, serta kebutuhan bayi, lansia, penyandang disabilitas, dan orang yang menggunakan obat rutin.