Skip to content

Ciri Orang yang Lebih Suka Mendengarkan daripada Banyak Bicara Menurut Psikologi

Ada orang yang mudah menghidupkan percakapan dengan cerita panjang, tetapi ada pula yang tampaknya lebih nyaman berada di sisi sebaliknya. Mereka tidak terburu-buru menceritakan pengalaman sendiri, jarang mendominasi obrolan, dan justru terlihat antusias ketika orang lain berbicara. Sikap seperti ini terkadang membuat mereka dianggap pendiam, padahal diam belum tentu berarti tidak tertarik dengan percakapan.

Dalam psikologi komunikasi, kemampuan mendengarkan juga tidak sesederhana persoalan introvert atau ekstrovert. Peneliti yang membahas high-quality listening menunjukkan bahwa belum ada satu ciri kepribadian yang secara konsisten membedakan pendengar baik dan buruk. Mendengarkan lebih tepat dilihat sebagai keterampilan yang terlihat melalui perhatian, respons, pertanyaan, dan cara seseorang memberikan ruang kepada lawan bicara.

1. Tidak Merasa Harus Selalu Mengisi Keheningan

Salah satu ciri orang yang lebih suka mendengarkan daripada banyak bicara dapat terlihat dari kenyamanannya menghadapi jeda dalam percakapan. Ketika lawan bicara berhenti beberapa detik untuk berpikir, mereka tidak selalu buru-buru menyelipkan cerita baru atau mengganti topik hanya karena suasana menjadi hening.

Sikap tersebut berbeda dengan tidak peduli atau kehilangan minat. Dalam percakapan yang sehat, jeda justru dapat memberi kesempatan bagi seseorang untuk menyusun pikiran, mengingat sesuatu, atau mencari kata yang tepat sebelum melanjutkan cerita. Mengutip Psychology Today, rasa nyaman terhadap keheningan menjadi salah satu hal yang dapat mendukung kemampuan mendengarkan dengan lebih baik.

Karena tidak merasa harus menjadi pusat percakapan, orang seperti ini biasanya lebih mudah memberikan ruang kepada orang lain untuk menyelesaikan ceritanya. Mereka baru merespons ketika memang ada sesuatu yang ingin ditanyakan atau ditanggapi, bukan sekadar berbicara agar percakapan tidak berhenti.

2. Lebih Sering Mengajukan Pertanyaan Lanjutan

Orang yang benar-benar memperhatikan pembicaraan biasanya tidak hanya menunggu giliran untuk berbicara. Mereka mengikuti alur cerita dan kemudian mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan apa yang baru saja disampaikan.

Pertanyaan tersebut bisa sangat sederhana, seperti menanyakan apa yang terjadi selanjutnya, bagaimana seseorang merasakan suatu kejadian, atau meminta penjelasan tentang bagian cerita yang belum jelas. Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa perhatian mereka masih berada pada pengalaman lawan bicara, bukan sedang sibuk menyiapkan cerita tentang dirinya sendiri.

Dalam pembahasan mengenai high-quality listening, pertanyaan lanjutan dan permintaan klarifikasi termasuk sinyal verbal yang cukup kuat untuk menunjukkan bahwa seseorang benar-benar mengikuti percakapan. Pendengar bukan hanya menerima suara, tetapi berusaha memahami isi pesan dan memastikan bahwa pemahamannya tidak keliru.

3. Jarang Memotong Pembicaraan Hanya untuk Menceritakan Diri Sendiri

Dalam percakapan sehari-hari, pengalaman orang lain sering mengingatkan seseorang pada pengalaman pribadinya. Ketika mendengar teman bercerita tentang pekerjaan, misalnya, muncul dorongan untuk langsung mengatakan, “Aku juga pernah mengalami hal yang sama.” Respons seperti itu sebenarnya wajar, tetapi jika terus dilakukan, arah percakapan dapat berpindah dari orang yang sedang bercerita kepada diri sendiri.

Orang yang lebih menikmati peran sebagai pendengar biasanya mampu menahan dorongan tersebut. Mereka mungkin memiliki pengalaman serupa, tetapi tidak merasa harus segera menyampaikannya sebelum lawan bicara menyelesaikan cerita.

Bukan berarti mereka tidak pernah membicarakan diri sendiri. Perbedaannya terletak pada timing. Mereka cenderung menunggu sampai topik sebelumnya selesai atau sampai pengalaman pribadinya memang dapat membantu memperjelas percakapan, bukan menggunakannya untuk mengambil alih perhatian.

Baca Juga: Hal Kecil yang Sering Dilupakan Tapi Berdampak Besar pada Hubungan

4. Memberikan Tanda bahwa Mereka Mengikuti Percakapan

Pendengar yang terlibat biasanya tidak hanya duduk diam tanpa menunjukkan respons apa pun. Mereka dapat memberikan tanda kecil seperti mengangguk, mempertahankan kontak mata secara wajar, menunjukkan ekspresi yang sesuai, atau memberikan respons singkat ketika orang lain berbicara.

Bahasa tubuh semacam ini membantu memberi sinyal bahwa cerita yang disampaikan tidak jatuh ke ruang kosong. Psychology Today menjelaskan bahwa mendengarkan dapat terlihat melalui sinyal nonverbal, paralinguistik, maupun verbal, mulai dari ekspresi wajah hingga respons yang secara langsung berkaitan dengan isi pembicaraan.

Meski demikian, bahasa tubuh saja belum membuktikan seseorang benar-benar memahami cerita. Seseorang bisa mengangguk tanpa mengikuti pembicaraan. Karena itu, tanda yang lebih kuat biasanya muncul ketika respons nonverbal tersebut disertai pertanyaan, komentar yang relevan, atau kemampuan mengingat bagian penting dari percakapan.

5. Berusaha Memahami Sebelum Memberikan Penilaian

Tidak semua cerita membutuhkan nasihat. Terkadang seseorang berbicara karena ingin menyampaikan kegelisahan, menceritakan kejadian yang baru dialami, atau sekadar ingin memiliki tempat untuk mengungkapkan pikirannya.

Orang yang lebih suka mendengarkan biasanya cukup peka terhadap hal tersebut. Alih-alih langsung mengatakan apa yang seharusnya dilakukan, mereka cenderung mencoba memahami konteks terlebih dahulu. Mereka mungkin bertanya lebih banyak sebelum memberikan pendapat atau memilih menahan komentar ketika lawan bicara sebenarnya hanya ingin didengar.

Sikap tidak tergesa-gesa menghakimi juga sering muncul dalam pembahasan mengenai kualitas mendengarkan. Mendengarkan dengan baik dapat melibatkan pertanyaan yang relevan, klarifikasi, serta sikap yang tidak langsung memberikan penilaian terhadap orang yang sedang berbicara.

6. Memiliki Rasa Ingin Tahu terhadap Sudut Pandang Orang Lain

Kebiasaan banyak mendengarkan terkadang muncul bukan karena seseorang tidak punya cerita, tetapi karena ia memang tertarik memahami bagaimana orang lain memandang suatu kejadian. Percakapan menjadi kesempatan untuk memperoleh perspektif yang mungkin berbeda dengan pengalaman pribadinya.

Rasa ingin tahu tersebut terlihat ketika seseorang tidak hanya bertanya tentang fakta, tetapi juga mengenai alasan, perasaan, atau proses berpikir orang lain. Mereka dapat tertarik mendengar mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu meskipun dirinya mungkin akan memilih jalan yang berbeda.

Beberapa pembahasan psikologi tentang pendengar efektif mengaitkan rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap pengalaman dengan komunikasi yang lebih baik. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti setiap orang yang gemar mendengarkan pasti memiliki satu tipe kepribadian tertentu. Kemampuan mendengarkan dapat dilatih dan juga sangat dipengaruhi oleh hubungan antara dua orang yang sedang berbicara.

7. Sering Menangkap Detail yang Terlewat oleh Orang Lain

Ketika seseorang tidak sibuk memikirkan kalimat berikutnya yang ingin ia ucapkan, lebih banyak perhatian dapat diarahkan kepada informasi yang sedang disampaikan. Inilah salah satu alasan mengapa orang yang terbiasa mendengarkan terkadang cukup baik mengingat detail percakapan.

Mereka mungkin masih mengingat nama orang yang pernah disebut, masalah kecil yang diceritakan beberapa hari sebelumnya, atau perubahan nada ketika topik tertentu muncul. Saat bertemu kembali, detail tersebut dapat muncul dalam pertanyaan sederhana seperti menanyakan perkembangan masalah yang pernah diceritakan.

Kemampuan tersebut tidak berarti orang yang sedikit bicara otomatis memiliki ingatan lebih baik. Yang lebih masuk akal adalah perhatian yang diberikan pada percakapan memungkinkan lebih banyak informasi diproses. Mendengarkan secara aktif memang melibatkan perhatian, interpretasi terhadap isi pembicaraan, kemudian memberikan respons yang menunjukkan bahwa informasi tersebut benar-benar diterima.

8. Tidak Langsung Menawarkan Solusi untuk Setiap Masalah

Ketika mendengar seseorang mengeluh, respons spontan yang sering muncul adalah mencari jalan keluar. Masalah pekerjaan dibalas dengan saran pindah kerja, konflik dengan pasangan langsung disambut nasihat hubungan, sementara keluhan kecil segera diberikan daftar solusi.

Orang yang terbiasa menjadi pendengar biasanya lebih berhati-hati. Mereka dapat mencoba memahami apakah lawan bicara benar-benar membutuhkan saran atau hanya ingin mengeluarkan isi pikirannya. Jika tidak yakin, mereka bahkan bisa bertanya terlebih dahulu sebelum memberikan pendapat.

Cara seperti ini membuat percakapan terasa lebih berpusat pada kebutuhan orang yang sedang bercerita. Mendengarkan bukan berarti harus menyelesaikan semua masalah, sebab terkadang respons yang paling dibutuhkan justru berupa perhatian, klarifikasi, dan kesempatan untuk mengungkapkan pikiran tanpa segera diarahkan ke solusi.

9. Lebih Selektif Mengenai Hal yang Ingin Mereka Katakan

Sebagian orang yang tidak banyak bicara sebenarnya memiliki banyak pikiran, tetapi tidak semuanya langsung diucapkan. Mereka cenderung memilih informasi yang dianggap relevan sebelum menyampaikannya kepada orang lain.

Dalam percakapan kelompok, misalnya, orang seperti ini mungkin cukup lama mendengarkan sebelum akhirnya memberikan komentar. Ketika berbicara, respons mereka sering berkaitan dengan beberapa informasi yang sebelumnya sudah disampaikan oleh anggota kelompok lain.

Kebiasaan tersebut dapat membuat mereka terlihat tenang atau pendiam. Namun, sekali lagi, pola ini tidak dapat digunakan untuk memastikan tipe kepribadian seseorang. Ada orang yang banyak bicara tetapi tetap sangat mampu mendengarkan, dan ada pula orang pendiam yang sebenarnya tidak terlalu memperhatikan percakapan.

10. Membuat Orang Lain Merasa Aman untuk Bercerita

Salah satu tanda paling terasa dari kualitas mendengarkan justru datang dari respons orang lain. Seseorang yang mampu memberikan perhatian tanpa terus memotong atau menghakimi sering menjadi tempat yang cukup nyaman bagi teman, pasangan, atau rekan kerja untuk berbagi cerita.

Hal tersebut dapat terjadi karena pendengar memberikan sinyal bahwa pengalaman lawan bicara dianggap penting. Parafrase, pertanyaan yang sesuai, dan usaha memastikan bahwa pesan sudah dipahami dapat menyampaikan kesan bahwa pembicara benar-benar mendapat perhatian.

Melansir dari laman American Psychological Association, bahwa perilaku mendengarkan berkualitas dapat menyampaikan pesan interpersonal seperti bahwa pembicara dianggap penting dan layak mendapat perhatian. Penelitian tentang mendengarkan juga mengaitkan kualitas ini dengan rasa kedekatan, kepercayaan, serta hubungan interpersonal yang lebih positif.

Apakah Orang yang Suka Mendengarkan Pasti Introvert?

Tidak. Anggapan bahwa introvert selalu menjadi pendengar yang lebih baik sementara ekstrovert lebih suka berbicara memang terdengar masuk akal, tetapi bukti penelitian tidak mendukung pembagian sesederhana itu.

Dalam wawancara APA mengenai riset mendengarkan, peneliti Guy Itzchakov menjelaskan bahwa penelitian sejauh ini belum menemukan karakteristik kepribadian yang secara jelas membedakan pendengar baik dan buruk. Beberapa studi memang menemukan hubungan tertentu dengan agreeableness, tetapi secara umum kemampuan mendengarkan lebih tepat dipandang sebagai keterampilan yang dapat dikembangkan.

Kualitas mendengarkan juga dapat berubah tergantung dengan siapa seseorang berbicara. Seseorang mungkin sangat nyaman mendengarkan sahabatnya tetapi kurang terlibat ketika berbicara dengan orang lain. Karena itu, kebiasaan banyak mendengarkan sebaiknya tidak digunakan sendirian untuk memberi label kepribadian kepada seseorang.

Baca Juga: Pemalu dan Introvert, Dua Hal yang Selama Ini Dianggap Sama

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apakah pendengar yang baik pasti memiliki empati tinggi?

Tidak dapat dipastikan hanya dari kebiasaan mendengarkan. Namun, perhatian dan upaya memahami sudut pandang orang lain dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih empatik.

2. Bagaimana mengetahui seseorang benar-benar mendengarkan?

Perhatikan apakah responsnya berkaitan dengan cerita, mengajukan pertanyaan relevan, meminta klarifikasi, atau mampu merangkum kembali maksud pembicaraan.

3. Apakah kemampuan mendengarkan bisa dilatih?

Bisa. Memberikan perhatian penuh, tidak buru-buru memotong, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan melakukan parafrase merupakan beberapa keterampilan yang dapat dilatih.