Film Bollywood ‘The Kashmir Files’ dilarang tayang di Singapura, ini alasannya

foto: bbc.com

Singapura menolak dan melarang The Kashmir Files tayang di negaranya. Menurut beberapa sumber, film ini dinilai cukup meresahkan karena menggambarkan muslim yang provokatif dan sepihak. Film ini juga mempertontonkan umat Hindu yang dianiaya dalam konflik yang sedang terjadi di Kashmir. Jika film ini tetap mendapatkan izin, mereka khawatir akan menyulutkan permusuhan antar umat beragama.

Dilansir Keeping Times dari indiatimes.com Jumat (13/5), pihak berwenang menilai film berbahasa Hindi itu “melampaui” pedoman klasifikasi film Singapura, kata Otoritas Pengembangan Media Infocomm (IMDA) dalam pernyataan bersama dengan Kementerian Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda (MCCY) dan Kementerian Dalam Negeri. (MHA).

“Film ini akan ditolak klasifikasinya karena penggambaran Muslim yang provokatif dan sepihak serta penggambaran umat Hindu yang dianiaya dalam konflik yang sedang berlangsung di Kashmir,” kata pihak berwenang kepada Channel News Asia.

“Representasi ini berpotensi menimbulkan permusuhan di antara komunitas yang berbeda, dan mengganggu kohesi sosial dan kerukunan beragama dalam masyarakat multiras dan multiagama kita,” sambung mereka.

“Di bawah pedoman klasifikasi film, materi apa pun yang merendahkan komunitas ras atau agama di Singapura akan ditolak klasifikasinya,” tambah mereka.

Singapura memiliki populasi yang terdiri dari banyak etnis diantaranya China, Melayu dan India. Negara ini mempunyai undang-undang yang mengatur tentang hukuman bagi siapapun yang mengganggu keharmonisan warga negara yang beragam. Dengan kata lain Singapura tak mau ambil resiko terhadap hal-hal yang sensitif terkait keberagaman dan etnis.

Film yang dirilis Maret 2022 ini menceritakan kisah mengenai sekitar 200 umat Hindu Kashmir yang melarikan diri dari wilayah mayoritas muslim setelah adanya pemberontakan pada 1989 hingga 1990. Menurut data resmi yang dikeluarkan pemerintah, terdapat 219 pemeluk Hindu yang terbunuh dalam konflik tersebut.

foto: imdb.com

Saat ini di negara asalnya, film besutan sutradara Vivek Ranjan Agnihotri ini menjadi salah satu film dengan pendapatan tertinggi. Ditambah lagi banyak sekali pujian yang dilontarkan, salah satunya dari Perdana Menteri India, Narendra Modi dan para pengikut Hindu sayap kanannya. Sang PM India ini menyatakan bahwa apa yang digambarkan dalam film adalah sebuah kebenaran.

Sebaliknya, para pengkritik film, ahli sejarah dan umat muslim menyebut film ini jauh sekali dari fakta yang ada di lapangan. Film dengan durasi 170 menit ini juga seperti menunjukan topik-topik yang dekat sekali dengan politik kepentingan dari pemerintahan nasionalis Hindu Nareda Modi.

Pengakuan ini jelas membuat sebagian orang yang tidak setuju dengan pandangan Narendra Modi mengatakan bahwa Perdana Menteri India tersebut. Banyak pihak menilai film ini sebagai bukti bahwa semakin bobroknya polarisasi antar umat beragama di India saat ini.