Javed Akhtar Tanggapi Film Dhurandhar, “Apa yang Salah dengan Propaganda?”

Javed Akhtar Tanggapi Film Dhurandhar, "Apa yang Salah dengan Propaganda?"

Pernyataan Javed Akhtar kembali memicu perbincangan hangat di industri film Bollywood. Kali ini, ia menanggapi kontroversi seputar film Dhurandhar yang disebut-sebut sebagai “film propaganda”. Alih-alih menolak label tersebut, Akhtar justru mengajukan pertanyaan yang menggelitik: apa sebenarnya yang salah dengan propaganda?

Propaganda atau Sekadar Sudut Pandang?

Dalam komentarnya, Javed Akhtar menyoroti bagaimana istilah “propaganda” kerap digunakan secara longgar dan cenderung subjektif. Ia menilai bahwa setiap film, pada dasarnya, selalu membawa sudut pandang tertentu—baik itu sosial, politik, maupun budaya. Dengan kata lain, tidak ada karya yang benar-benar netral.

Ia bahkan secara tegas mempertanyakan logika di balik pelabelan tersebut dengan mengatakan, “Setiap cerita pasti mengambil sikap, tetapi apakah itu menjadi propaganda hanya karena narasinya tidak sesuai dengan sebagian penonton? Setiap orang berhak menyebarkan ide-idenya. Apa yang salah dengan film propaganda?” Pernyataan ini memperjelas bahwa menurut Akhtar, sudut pandang dalam film tidak seharusnya langsung dicurigai sebagai sesuatu yang negatif.

Lebih jauh, Akhtar juga menekankan bahwa film adalah medium ekspresi. Para pembuat film memiliki kebebasan untuk menyampaikan ide, opini, bahkan kritik melalui karya mereka. Dalam konteks ini, propaganda tidak selalu berarti manipulatif, melainkan bisa menjadi bagian dari proses komunikasi kreatif.

Sukses Film dan Kontroversi

Kesuksesan Dhurandhar di box office justru berjalan beriringan dengan kritik tajam dari sejumlah pihak. Film ini dianggap oleh sebagian penonton terlalu sarat muatan ideologis, bahkan dinilai mencampurkan fakta dan fiksi secara sensitif. Namun di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai karya yang berani dan relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Fenomena ini bukan hal baru di industri perfilman. Banyak film besar yang menuai respons beragam, terutama ketika menyentuh isu-isu yang dekat dengan identitas nasional atau politik. Dalam kasus Dhurandhar, perdebatan yang muncul justru memperkuat posisinya sebagai film yang “dibicarakan”, sesuatu yang sering kali menjadi indikator keberhasilan tersendiri di dunia hiburan.

Pada akhirnya, pernyataan Javed Akhtar tidak hanya membela satu film, tetapi juga mengajak publik untuk melihat film dengan perspektif yang lebih kritis dan terbuka. Alih-alih terjebak pada label, ia mendorong penonton untuk menilai isi, pesan, dan dampak sebuah karya secara lebih mendalam.