Postur anak yang terlihat membungkuk sering kali baru disadari ketika ia duduk mengerjakan tugas, bermain gadget, atau berjalan dengan bahu condong ke depan. Awalnya kondisi tersebut mungkin dianggap sebagai kebiasaan biasa, terutama jika anak masih bisa kembali berdiri tegak ketika diingatkan. Namun, perubahan postur yang berlangsung terus-menerus tetap perlu diperhatikan karena penyebabnya tidak selalu sama pada setiap anak.
Sebagian kasus memang berkaitan dengan kebiasaan duduk dan aktivitas sehari-hari, tetapi bentuk punggung yang tampak membulat juga dapat berhubungan dengan kelainan struktur tulang belakang tertentu. Karena itu, memahami penyebab postur anak bungkuk membantu orang tua mengetahui kapan cukup melakukan perbaikan kebiasaan dan kapan sebaiknya membawa anak untuk menjalani pemeriksaan medis.
1. Terlalu Sering Duduk Membungkuk
Salah satu penyebab postur anak bungkuk yang paling mudah dijumpai adalah kebiasaan duduk dengan posisi tubuh kurang ideal. Anak mungkin menundukkan kepala, membulatkan bahu, atau melorot di kursi ketika belajar, membaca, bermain, maupun menonton. Bila dilakukan berulang setiap hari, posisi tersebut dapat menjadi kebiasaan yang sulit disadari.
Duduk membungkuk juga membuat sejumlah otot bekerja dengan pola yang kurang seimbang. Anak akhirnya merasa posisi membungkuk lebih nyaman dibanding mempertahankan tubuh tegak dalam waktu lama, terutama bila daya tahan otot tubuhnya belum baik.
Kebiasaan ini tidak berarti tulang belakang anak pasti mengalami kerusakan permanen. Namun, postur yang terus-menerus kurang baik dapat berkaitan dengan kifosis postural dan keluhan seperti ketegangan atau rasa tidak nyaman pada punggung. Postural kyphosis sebagai jenis kifosis yang biasanya berkaitan dengan postur buruk dan sering ditemukan pada remaja.
2. Terlalu Lama Menggunakan Gadget dan Komputer
Ponsel, tablet, dan laptop telah menjadi bagian dari aktivitas belajar maupun hiburan anak. Masalah muncul ketika perangkat ditempatkan terlalu rendah sehingga anak harus terus menundukkan kepala untuk melihat layar. Bahu biasanya ikut bergerak ke depan dan punggung bagian atas menjadi lebih membulat.
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menjelaskan bahwa layar komputer yang tidak berada pada ketinggian yang sesuai dapat membuat anak mengambil posisi tubuh kurang baik. Penggunaan laptop juga kerap membuat anak membungkuk mendekati keyboard dan layar.
Posisi tempat menggunakan perangkat ikut berpengaruh. Belajar menggunakan laptop sambil duduk di sofa, tempat tidur, bean bag, atau lantai membuat tubuh lebih sulit mempertahankan posisi netral. Karena itu, perangkat sebaiknya digunakan di area kerja yang memungkinkan posisi layar, kursi, meja, serta kaki anak mendapatkan dukungan yang sesuai.
3. Kurang Bergerak dan Kekuatan Otot Tubuh Belum Optimal
Anak yang banyak menghabiskan waktunya dengan duduk cenderung memiliki kesempatan lebih sedikit untuk bergerak aktif. Aktivitas fisik sebenarnya ikut membantu membangun kekuatan serta daya tahan otot yang mempertahankan tubuh selama duduk maupun berdiri.
Anak yang terlalu sedentari dapat mengalami keluhan punggung yang berkaitan dengan lemahnya otot inti dan postur kurang baik. Otot inti mencakup kelompok otot di sekitar perut dan punggung yang ikut mendukung kestabilan tubuh ketika melakukan berbagai aktivitas.
Karena itu, memperbaiki postur bukan sekadar meminta anak untuk terus “duduk tegak”. Aktivitas fisik yang sesuai usia tetap dibutuhkan agar tubuh terbiasa bergerak dan otot mendapatkan stimulasi. Jenis aktivitas tidak harus selalu berupa olahraga khusus; bermain aktif, berjalan, berenang, atau aktivitas fisik lain yang disukai anak dapat membantu mengurangi waktu sedentari.
4. Meja dan Kursi Belajar Kurang Sesuai
Area belajar yang digunakan setiap hari dapat memengaruhi posisi tubuh anak. Kursi yang terlalu tinggi, meja terlalu rendah, atau layar komputer yang tidak sejajar dapat membuat anak mencari posisi yang terasa lebih nyaman, meskipun akhirnya harus membungkuk.
Mengutip dari Layanan fisioterapi anak Northamptonshire Healthcare NHS Foundation Trust mencantumkan tempat duduk yang kurang sesuai di sekolah maupun rumah sebagai salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap postur buruk pada anak.
Saat duduk, anak idealnya memiliki dukungan yang membuat kaki dapat bertumpu dengan stabil dan tubuh tidak perlu terus condong untuk menjangkau meja. Jika kaki belum mencapai lantai, pijakan kaki dapat membantu. Posisi layar komputer juga dapat disesuaikan agar anak tidak terus-menerus menundukkan kepala saat belajar.
5. Tas Sekolah Terlalu Berat atau Dipakai dengan Cara yang Kurang Tepat
Tas sekolah sering dicurigai sebagai penyebab berbagai masalah tulang belakang pada anak. Beban yang terlalu berat memang dapat membuat anak condong ke depan ketika berjalan serta menimbulkan ketegangan pada punggung, leher, dan bahu. Namun, hal ini perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Penggunaan tas yang tidak tepat dapat menyebabkan nyeri punggung, leher, atau bahu, tetapi tas sekolah belum terbukti menyebabkan skoliosis atau masalah punggung jangka panjang. Jadi, tas berat tidak tepat bila langsung dianggap sebagai penyebab tulang belakang menjadi skoliosis.
Anak sebaiknya menggunakan kedua tali bahu agar beban tersebar lebih merata dan tas berada dekat dengan tubuh. Sebaiknya berat tas tidak melebihi sekitar 15 persen dari berat badan anak. Jika anak harus membungkuk ke depan hanya untuk menopang tasnya, beban tersebut sudah terlalu berat.
6. Kebiasaan Menggunakan Satu Sisi Tubuh
Sebagian anak terbiasa membawa tas pada satu bahu, bersandar pada satu sisi ketika duduk, atau mempertahankan posisi tubuh asimetris dalam waktu lama. Kebiasaan seperti ini dapat membuat beberapa kelompok otot menerima beban lebih besar daripada sisi lainnya.
Pada penggunaan tas, misalnya, penggunaan kedua tali backpack dengan panjang yang seimbang sehingga beban berada pada kedua sisi tubuh. Jika menggunakan tas satu tali, membawa tas melintang di tubuh dinilai lebih baik dibanding hanya menggantungkannya pada satu bahu.
Namun, posisi tubuh yang tidak simetris tidak boleh langsung dianggap menyebabkan skoliosis. Melansir dari Boston Children’s Hospital, skoliosis bukan disebabkan oleh postur buruk maupun penggunaan backpack. Karena itu, jika bahu atau bentuk punggung anak tampak tidak seimbang secara menetap, pemeriksaan lebih lanjut lebih tepat daripada hanya menyalahkan kebiasaan membawa tas.
7. Kifosis Scheuermann
Tidak semua penyebab postur anak bungkuk berasal dari kebiasaan sehari-hari. Pada sebagian anak dan remaja, bentuk punggung yang membulat dapat berkaitan dengan Scheuermann’s kyphosis, yaitu jenis kifosis struktural.
Pada kondisi ini, tulang belakang atau vertebra tidak tumbuh dalam bentuk yang biasa. Bagian belakang vertebra dapat tumbuh lebih cepat dibanding bagian depan sehingga tulang berbentuk seperti baji dan menghasilkan lengkungan tulang belakang.
Berbeda dengan membungkuk karena kebiasaan, kelengkungan akibat masalah struktural cenderung tidak mudah hilang hanya dengan meminta anak berdiri lebih tegak. Karena itu, bentuk punggung yang terus terlihat membulat atau semakin nyata seiring pertumbuhan sebaiknya diperiksakan kepada tenaga kesehatan.
8. Kelainan Tulang Belakang Bawaan
Pada kasus yang lebih jarang, kifosis dapat sudah berkaitan dengan perkembangan tulang belakang sejak anak berada dalam kandungan. Kondisi tersebut dikenal sebagai congenital kyphosis atau kifosis kongenital.
Kifosis kongenital terjadi ketika tulang belakang bayi tidak berkembang sebagaimana mestinya sehingga lengkungan menjadi semakin terlihat ketika anak tumbuh. Masalah perkembangan vertebra menjadi salah satu penyebab kifosis pada anak.
Kondisi bawaan tentu berbeda dengan postur membungkuk akibat terlalu lama bermain gadget atau duduk tidak tegak. Karena berkaitan dengan struktur tulang belakang, evaluasi dokter dibutuhkan untuk menilai bentuk kurva serta menentukan pemantauan atau penanganan yang sesuai.
9. Kondisi Neuromuskular atau Masalah Medis Tertentu
Beberapa kondisi medis dapat memengaruhi otot, saraf, maupun perkembangan tulang belakang sehingga postur anak terlihat berbeda. Dalam situasi ini, membungkuk bukan sekadar kebiasaan yang dapat dikoreksi dengan mengubah posisi duduk.
Beberapa kondisi neuromuskular seperti spina bifida, cerebral palsy, dan muscular dystrophy dapat berkaitan dengan kifosis. Trauma, infeksi, serta beberapa kondisi lainnya juga dapat berhubungan dengan kelainan lengkung tulang belakang.
Penyebab seperti ini tentu jauh lebih jarang dibanding masalah postur sehari-hari. Orang tua juga tidak perlu mencoba menyimpulkan penyebabnya sendiri hanya berdasarkan bentuk tubuh anak. Pemeriksaan tenaga medis menjadi langkah yang lebih tepat bila perubahan postur disertai masalah gerak, kelemahan, nyeri, atau keluhan lain.
Cara Membedakan Kebiasaan Membungkuk dan Kelainan Tulang Belakang
Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah apakah postur tersebut fleksibel. Anak yang membungkuk karena kebiasaan biasanya masih mampu memperbaiki posisi ketika diminta untuk berdiri atau duduk lebih tegak.
Sebaliknya, bentuk punggung yang tetap membulat meskipun anak mencoba menegakkan badan bisa membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Kifosis struktural merupakan deformitas tulang belakang yang lebih kaku dan berbeda dari sekadar “round back” fleksibel akibat postur.
Perhatikan pula perubahan bentuk tubuh dari waktu ke waktu. Jangan hanya melihat posisi punggung ketika anak sedang menggunakan ponsel atau kelelahan. Amati bagaimana posturnya ketika berdiri santai, berjalan, dan mencoba menegakkan badan karena informasi tersebut dapat membantu ketika berkonsultasi dengan dokter.
Cara Membantu Memperbaiki Kebiasaan Postur Anak
Jika penyebab postur anak bungkuk lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan, beberapa penyesuaian sederhana dapat dilakukan secara bertahap. Tujuannya bukan membuat anak mempertahankan posisi tubuh yang kaku sepanjang hari, tetapi membantu tubuh berada dalam posisi yang nyaman dan lebih netral saat beraktivitas.
Beberapa langkah yang dapat dicoba antara lain:
- Atur posisi layar lebih baik. Tempatkan layar komputer mendekati ketinggian pandangan sehingga anak tidak harus terus menunduk.
- Gunakan meja dan kursi yang sesuai. Pastikan kaki mendapat tumpuan serta anak tidak harus membungkuk untuk membaca atau menulis.
- Batasi waktu duduk terus-menerus. Selipkan waktu berdiri dan bergerak setelah anak belajar atau menggunakan perangkat cukup lama.
- Dorong aktivitas fisik. Aktivitas sesuai usia membantu anak tetap aktif dan melatih berbagai kelompok otot tubuh.
- Periksa isi tas sekolah. Keluarkan barang yang tidak perlu dan gunakan kedua tali bahu saat membawa backpack.
- Perhatikan posisi ketika memakai gadget. Hindari kebiasaan terus-menerus menggunakan laptop sambil membungkuk di tempat tidur atau sofa.
- Hindari terus-menerus memarahi anak karena membungkuk. Lebih efektif mencari penyebabnya, memperbaiki lingkungan belajar, serta membangun kebiasaan postur secara bertahap.
Jika sudah terdapat kifosis struktural, langkah penanganannya berbeda. Fisioterapi, brace, pemantauan, atau tindakan lainnya hanya diberikan sesuai penyebab dan tingkat keparahan serta berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apakah anak sering main HP bisa membuat posturnya bungkuk?
Penggunaan HP dalam posisi terus-menerus menunduk dapat mendorong kebiasaan postur kurang baik, terutama bila berlangsung lama tanpa berganti posisi.
2. Apakah tas sekolah berat menyebabkan anak skoliosis?
Belum ada bukti bahwa tas sekolah menyebabkan skoliosis, tetapi tas yang terlalu berat atau dikenakan tidak tepat dapat menimbulkan ketegangan serta nyeri pada punggung, leher, dan bahu.
3. Apakah postur bungkuk pada anak bisa diperbaiki?
Jika berkaitan dengan kebiasaan postur, perubahan ergonomi, aktivitas fisik, serta pembiasaan posisi tubuh yang lebih baik dapat membantu. Kifosis struktural membutuhkan evaluasi dan penanganan berbeda.
4. Apakah anak bungkuk harus memakai penyangga punggung?
Tidak selalu. Brace digunakan pada kondisi tertentu dan sebaiknya hanya berdasarkan penilaian serta pengawasan tenaga medis, bukan digunakan sendiri karena anak terlihat membungkuk.
5. Dokter apa yang menangani anak dengan postur bungkuk?
Pemeriksaan awal dapat dilakukan oleh dokter anak atau dokter umum, kemudian anak dapat dirujuk ke dokter spesialis ortopedi atau layanan terkait bila dicurigai terdapat kelainan tulang belakang.
(Awan)
