Resmi! Dhurandhar Menjadi Film Hindi Terlaris Sepanjang Masa

Resmi! Dhurandhar Menjadi Film Hindi Terlaris Sepanjang Masa

Dalam dunia perfilman Bollywood yang kompetitif, setiap tahun selalu muncul karya-karya besar yang berusaha mendefinisikan ulang batas kreativitas dan skala sinematik. Namun, hanya segelintir film yang mampu melampaui angka dan menjadi simbol dari kebanggaan sinema nasional. Tahun 2026 menjadi saksi momen bersejarah ketika Dhurandhar, film garapan Aditya Dhar, bukan hanya mencetak rekor finansial baru, tetapi juga menghidupkan kembali semangat sinema Hindi di tengah derasnya dominasi film-film selatan India.

Dengan pendapatan domestik mencapai ₹831,40 crore, film ini resmi menjadi film berbahasa Hindi dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Pushpa 2: The Rule (Hindi). Meskipun beberapa sumber perdagangan film masih memperdebatkan keakuratan angka tersebut, dampak Dhurandhar terhadap lanskap industri sudah tak terbantahkan. Ini bukan sekadar film sukses; ini adalah fenomena budaya yang menunjukkan bagaimana sinema bisa memadukan emosi nasionalisme dengan aksi kelas dunia.

Narasi Epik dan Daya Tarik Sinematik

imdb.com

Dhurandhar mengisahkan perjalanan Hamza (diperankan oleh Ranveer Singh), seorang agen intelijen India yang menyusup ke jaringan teroris di Karachi. Dalam film ini, Aditya Dhar meramu kisah spionase dengan elemen geopolitik nyata — seperti pembajakan pesawat Kandahar, serangan parlemen 2001, hingga tragedi 26/11 Mumbai — menjadikannya narasi yang relevan dan penuh ketegangan. Kombinasi antara realitas sejarah dan emosi patriotik inilah yang membuat film ini terasa dekat bagi penonton India, tanpa kehilangan sisi hiburannya sebagai blockbuster.

Visual sinematik yang megah serta penampilan intens dari para pemain pendukung seperti Sanjay Dutt, Akshaye Khanna, Arjun Rampal, R. Madhavan, dan Sara Arjun memperkuat daya magis film ini. Aditya Dhar, yang sebelumnya dikenal lewat Uri: The Surgical Strike, kembali membuktikan kepiawaiannya dalam mengangkat tema nasionalis tanpa terasa propagandis. Penonton tidak hanya disuguhi adegan laga spektakuler, tetapi juga dilebur dalam dilema moral seorang agen yang hidup di garis abu-abu antara kewajiban dan kemanusiaan.

Secara artistik, Dhurandhar adalah film yang memahami denyut emosional publik India modern — generasi yang haus akan pahlawan, namun tetap kritis terhadap kekuatan politik dan sosial di baliknya. Dengan durasi yang padat dan ritme naratif yang tajam, film ini berhasil menyampaikan pesan besar tanpa kehilangan daya komersialnya.

Capaian Angka Fenomenal

Menurut data resmi dari Jio Studios dan laporan The Economic Times, Dhurandhar menembus angka ₹831,40 crore net hanya dalam 33 hari penayangan. Data ini adalah sebuah capaian yang belum pernah diraih oleh film Hindi manapun. Distribusi pendapatan yang stabil dari minggu ke minggu (₹218 crore di minggu pertama hingga ₹115 crore di minggu keempat) menunjukkan kekuatan word of mouth dan loyalitas penonton. Bahkan disebutkan juga jika angka sebenarnya mencapai sekitar ₹782 crore, film ini tetap diakui secara luas sebagai tolok ukur baru kesuksesan film berbahasa Hindi tunggal.

Lebih dari sekadar angka, capaian ini menandakan kebangkitan sinema Hindi setelah beberapa tahun di mana film-film dari industri selatan India (khususnya Telugu dan Tamil) mendominasi pangsa pasar nasional. Dhurandhar membuktikan bahwa dengan narasi yang kuat, nilai produksi tinggi, dan promosi strategis, Bollywood masih mampu mengguncang layar lebar. Bahkan studio besar seperti Yash Raj Films turut memberikan ucapan selamat, menyebut film ini sebagai “momen monumental dalam sejarah sinema India.”

Dampak keberhasilan ini akan terasa panjang — tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi kreatif. Tren genre thriller nasionalis kemungkinan besar akan meningkat, mendorong sineas muda untuk menyeimbangkan antara hiburan dan kebanggaan nasional. Sementara itu, Aditya Dhar kini dianggap sebagai salah satu sutradara paling visioner di generasinya, membuka jalan baru bagi film-film yang menggabungkan drama manusia, politik, dan aksi sinematik dalam satu paket epik.