Seekor ular piton retikulasi liar berhasil mencetak sejarah sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara resmi oleh Guinness World Records. Dengan panjang mencapai 7,22 meter dan berat hampir 100 kilogram, reptil raksasa ini langsung menyita perhatian publik global.
Namun kisah ini bukan sekadar tentang ukuran yang fantastis. Di balik angka tersebut, ada cerita tentang proses verifikasi yang ketat, kerja keras tim penyelamat lokal, hingga pertanyaan besar mengenai konservasi satwa liar di Indonesia. Temuan ini membuka diskusi menarik: apakah ini sekadar fenomena langka, atau sinyal penting tentang kondisi alam kita hari ini?
Diukur tanpa Bius

Ular tersebut merupakan spesies piton retikulasi (Malayopython reticulatus), yang memang dikenal sebagai salah satu ular terpanjang di dunia. Meski banyak cerita beredar tentang ular raksasa sepanjang lebih dari delapan meter, sebagian besar klaim tersebut tidak pernah didokumentasikan secara ilmiah. Inilah yang membedakan temuan kali ini.
Pengukuran dilakukan secara resmi pada Januari 2026 dengan menggunakan pita ukur survei dan didokumentasikan melalui foto serta video sebagai bukti. Proses ini dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan akurasi tanpa membahayakan hewan. Karena ular diukur dalam kondisi hidup dan tidak dibius, angka 7,22 meter dianggap sebagai ukuran konservatif—artinya bisa saja lebih panjang jika tubuhnya benar-benar dalam kondisi rileks maksimal.
Yang membuatnya istimewa adalah statusnya sebagai “ular liar terpanjang yang pernah diukur secara resmi”, bukan ular peliharaan atau individu dalam penangkaran. Ini menjadi catatan penting karena membuktikan bahwa alam liar Indonesia masih menyimpan kejutan luar biasa yang belum sepenuhnya terungkap.
Berasal Dari Hutan Sulawesi
Ular raksasa ini ditemukan di wilayah Maros, Sulawesi Selatan—daerah yang memang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Penemuan tersebut melibatkan tim penyelamat dan penjaga ular lokal yang telah berpengalaman menangani reptil besar. Mereka bukan hanya sekadar pemburu sensasi, tetapi pihak yang selama ini aktif dalam relokasi dan perlindungan satwa.
Proses penanganan ular sepanjang lebih dari tujuh meter tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan beberapa orang untuk memastikan tubuhnya tetap terkendali selama pengukuran dan penimbangan. Keamanan manusia dan kesejahteraan hewan menjadi prioritas utama dalam setiap tahap proses.
Sorotan media internasional membuat nama Indonesia kembali disebut dalam konteks kekayaan alamnya. Namun perhatian global ini juga membawa tanggung jawab: bagaimana memastikan bahwa popularitas ini tidak justru meningkatkan risiko eksploitasi atau perburuan liar terhadap satwa serupa.
Tantangan Konservasi

Di satu sisi, pencapaian ini bisa menjadi kebanggaan. Indonesia kembali menunjukkan bahwa hutannya adalah rumah bagi makhluk-makhluk luar biasa. Piton retikulasi memang dikenal sebagai predator puncak yang memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dalam mengontrol populasi hewan kecil dan menengah.
Namun di sisi lain, kemunculan ular berukuran ekstrem juga memunculkan pertanyaan. Apakah habitatnya masih cukup luas dan aman? Apakah konflik manusia dan ular akan meningkat seiring menyempitnya hutan? Dalam beberapa kasus, piton besar mendekati pemukiman karena berkurangnya mangsa alami atau rusaknya habitat.
Momentum ini seharusnya tidak berhenti pada sensasi rekor dunia. Justru ini adalah kesempatan untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya hidup berdampingan dengan satwa liar, memperkuat program relokasi yang aman, serta mendukung upaya konservasi berbasis komunitas.
