Pernah merasa diri kita sangat cerewet ketika bersama satu teman, tetapi mendadak lebih pendiam ketika berbicara dengan orang lain? Dengan orang tertentu kita bisa mudah bercanda, sementara di depan orang lainnya kita otomatis menjadi lebih formal, berhati-hati, atau bahkan sedikit kaku. Perubahan seperti ini tidak selalu berarti seseorang sedang berpura-pura atau memiliki kepribadian yang berbeda-beda.
Menurut psikologi, perilaku manusia memang dipengaruhi oleh konteks sosial dan orang yang sedang dihadapi. Ketika berinteraksi, kita tidak sekadar mendengarkan kata-kata lawan bicara, tetapi juga mencoba memahami ekspresi, nada suara, respons, emosi, niat, serta kemungkinan bagaimana ia akan bereaksi terhadap kita. Dari sinilah terbentuk proses adaptasi yang membuat sisi tertentu dari diri seseorang lebih menonjol dalam hubungan yang berbeda.
Otak Kita Secara Otomatis Berusaha Memahami Orang Lain
Saat berbicara dengan seseorang, kita sebenarnya menerima jauh lebih banyak informasi dibandingkan isi kalimat yang ia ucapkan. Nada bicara, jeda, tatapan mata, ekspresi wajah, pilihan kata, hingga cara seseorang merespons lelucon dapat menjadi petunjuk yang digunakan untuk memperkirakan keadaan orang tersebut.
Dalam psikologi sosial, kemampuan untuk memperkirakan pikiran, perasaan, keyakinan, serta niat orang lain sering dibahas melalui konsep mentalizing atau theory of mind. Kita tidak benar-benar dapat membaca pikiran orang lain, tetapi membuat inferensi berdasarkan informasi yang tersedia untuk mencoba menjelaskan dan memprediksi perilaku mereka. Sebuah ulasan ilmiah yang tersedia melalui National Library of Medicine menjelaskan mentalizing sebagai kemampuan menginferensi keadaan mental yang tersembunyi, seperti keyakinan, niat, dan perasaan, untuk membantu memahami serta memprediksi perilaku seseorang.
Misalnya, ketika seseorang memberikan jawaban pendek dengan ekspresi serius, kita mungkin menduga ia sedang tidak ingin banyak berbicara. Tanpa membuat keputusan secara sadar, kita kemudian dapat mengurangi candaan atau berbicara dengan nada yang lebih tenang. Artinya, sebelum perilaku kita berubah, biasanya sudah ada semacam “model sementara” mengenai orang yang sedang kita hadapi.
Namun, model tersebut tetaplah perkiraan. Orang yang menjawab singkat belum tentu marah atau tidak tertarik berbicara. Ia mungkin sedang lelah, memikirkan masalah lain, terburu-buru, atau memang memiliki gaya komunikasi yang lebih singkat.
Kita Menyesuaikan Cara Berkomunikasi dengan Lawan Bicara
Perubahan gaya komunikasi ketika menghadapi orang yang berbeda merupakan fenomena yang cukup dikenal dalam psikologi komunikasi. Manusia dapat mengubah cara berbicara dan berperilaku berdasarkan situasi maupun karakteristik orang yang sedang diajak berinteraksi.
Salah satu kerangka yang banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah Communication Accommodation Theory atau CAT. Ulasan oleh Jordan Soliz dan Howard Giles yang dipublikasikan dalam Communication Yearbook menjelaskan CAT sebagai kerangka untuk memahami penyesuaian yang dilakukan seseorang guna menciptakan, mempertahankan, atau mengurangi jarak sosial dalam interaksi. Kajian tersebut menelaah 149 penelitian CAT dan melakukan meta-analisis terhadap sebagian penelitian dengan total lebih dari 18.000 peserta.
Itulah sebabnya seseorang yang sama mungkin berbicara sangat santai dengan sahabat, lebih sopan dengan orang yang baru dikenal, dan lebih sistematis ketika berbicara dengan atasannya. Nilai dan kepribadian dasarnya belum tentu berubah. Yang berubah adalah cara dirinya ditampilkan karena setiap konteks sosial dapat membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.
Adaptasi bahkan tidak selalu berarti menjadi semakin mirip. Dalam CAT dikenal gagasan convergence, ketika seseorang mendekatkan gaya komunikasinya dengan orang lain, serta divergence, ketika seseorang justru mempertahankan atau menonjolkan perbedaan tertentu. Jadi, manusia dapat mendekat ataupun menjaga jarak melalui cara berkomunikasi.
Tanpa Disadari, Kita Bahkan Bisa Meniru Perilaku Orang Lain

Adaptasi sosial tidak selalu berupa keputusan sadar seperti memilih kata yang lebih sopan. Dalam beberapa kondisi, manusia bahkan dapat secara tidak sadar meniru gerakan, ekspresi, postur, atau perilaku orang yang sedang berinteraksi dengannya.
Fenomena ini dikenal sebagai chameleon effect. Penelitian klasik Tanya Chartrand dan John Bargh yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa perilaku motorik peserta dapat secara tidak sengaja menyerupai perilaku orang asing yang sedang berinteraksi dengan mereka. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa peniruan semacam ini dapat berkaitan dengan interaksi yang terasa lebih lancar dan meningkatnya rasa suka terhadap partner interaksi.
Dalam kehidupan sehari-hari bentuknya bisa sangat sederhana. Kita mungkin ikut berbicara pelan ketika lawan bicara berbicara pelan, menjadi lebih ekspresif ketika bertemu orang yang antusias, atau perlahan mengikuti ritme percakapan orang di depan kita.
Namun, bukan berarti manusia selalu otomatis meniru siapa pun yang ditemuinya. Respons sosial tetap dipengaruhi hubungan, konteks, tujuan komunikasi, pengalaman sebelumnya, dan berbagai faktor individual lainnya.
Orang yang Sama Memang Bisa Menampilkan Sisi Kepribadian yang Berbeda
Menjadi berbeda ketika bersama orang yang berbeda tidak otomatis berarti seseorang sedang bersikap palsu. Kepribadian memang memiliki unsur yang relatif stabil, tetapi cara sifat tersebut diekspresikan dapat berubah bergantung pada situasi dan hubungan interpersonal yang sedang berlangsung.
Sebuah penelitian dalam Journal of Personality meminta peserta menilai bagaimana kepribadian mereka ketika bersama berbagai orang penting dalam jaringan sosialnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi ekspresi kepribadian berdasarkan orang yang sedang bersama mereka. Peneliti juga menemukan bahwa informasi mengenai kepribadian seseorang dalam hubungan tertentu dapat memberikan informasi tambahan yang tidak sepenuhnya terlihat dari penilaian kepribadian global.
Bayangkan seseorang bernama Budi. Bersama sahabat masa kecilnya, Budi mungkin sangat cerewet dan jahil. Di kantor ia terlihat serius dan terorganisasi. Ketika bersama orang yang baru dikenal, ia mungkin lebih banyak mendengarkan.
Ketiga versi tersebut belum tentu palsu.
Semuanya dapat menjadi bagian dari Budi yang sama. Orang dan situasi yang berbeda hanya membuat bagian-bagian tertentu dari perilakunya lebih mudah muncul.
Yang Menarik, Lawan Bicara Juga Sedang Membaca Kita
Proses adaptasi dalam percakapan tidak berjalan satu arah. Ketika kita mencoba memahami lawan bicara, orang tersebut kemungkinan juga sedang melakukan hal serupa terhadap kita.
Misalnya, Budi melihat Mawar sebagai seseorang yang pendiam sehingga Budi memutuskan berbicara lebih pelan dan formal. Mawar kemudian melihat Budi berbicara dengan formal sehingga ia menduga Budi adalah orang yang serius. Mawar akhirnya ikut menjadi lebih formal.
Ketika melihat respons Mawar tersebut, Budi semakin yakin bahwa Mawar memang orang yang formal.
Perhatikan apa yang terjadi.
Budi awalnya menyesuaikan diri terhadap Mawar, tetapi perilaku Mawar berikutnya sudah dipengaruhi oleh caranya membaca Budi. Budi kemudian membaca kembali perilaku Mawar yang telah berubah tersebut.
Maka percakapannya membentuk semacam lingkaran:
Budi membaca Mawar → Budi beradaptasi → Mawar membaca Budi → Mawar beradaptasi → Budi membaca perubahan Mawar → dan seterusnya.
Karena proses ini dapat berlangsung berulang kali selama interaksi, perilaku yang muncul dalam percakapan bukan hanya hasil kepribadian Budi atau Mawar secara terpisah, tetapi juga hasil dari dinamika yang mereka ciptakan bersama.
Persepsi Kita terhadap Orang Lain Bahkan Bisa Memengaruhi Perilaku Mereka
Di sinilah proses membaca lawan bicara menjadi lebih rumit. Dugaan yang kita buat mengenai seseorang dapat memengaruhi cara kita memperlakukannya, kemudian perlakuan tersebut dapat memengaruhi bagaimana ia merespons kita.
Misalnya Budi sejak awal berpikir, “Sepertinya Mawar tidak menyukai saya.”
Karena memiliki dugaan tersebut, Budi menjadi lebih dingin dan tidak banyak mengajak berbicara. Mawar melihat Budi menjaga jarak sehingga ia ikut bersikap dingin. Budi kemudian melihat respons tersebut dan berkata dalam hati, “Ternyata benar, dia memang tidak menyukai saya.”
Psikolog Edward E. Jones dalam artikel yang diterbitkan jurnal Science menjelaskan bahwa ekspektasi interpersonal dapat membuat seseorang bertindak dengan cara yang memunculkan perilaku dari orang lain yang terlihat mengonfirmasi ekspektasi awal tersebut, bahkan ketika dugaan awalnya mungkin keliru. Mekanisme seperti inilah yang berhubungan dengan self-fulfilling prophecy atau konfirmasi perilaku dalam interaksi sosial.
Artinya, kita perlu berhati-hati ketika merasa sudah berhasil “membaca” seseorang. Apa yang kita lihat pada menit kelima percakapan mungkin tidak sepenuhnya menunjukkan bagaimana orang tersebut sebelum bertemu kita.
Sebagian perilakunya bisa saja merupakan respons terhadap cara kita memperlakukannya.
Tetapi Kita Juga Tidak Selalu Salah Membaca Orang
Sampai di sini mungkin muncul kesan bahwa persepsi terhadap orang lain hampir selalu bias. Kesimpulan tersebut juga terlalu jauh.
Manusia memang dapat melakukan kesalahan, membuat stereotip, melakukan proyeksi, atau tanpa sadar menciptakan self-fulfilling prophecy. Namun, bukan berarti semua persepsi sosial hanyalah ilusi.
Dalam sebuah ulasan mengenai persepsi sosial, psikolog Lee Jussim berpendapat bahwa kesalahan, bias, dan self-fulfilling prophecy memang nyata, tetapi efeknya sering kali lebih terbatas daripada yang dibayangkan. Menurut rangkuman bukti yang dibahasnya, persepsi seseorang terhadap individu dan kelompok dalam banyak kondisi juga dapat memiliki tingkat akurasi yang cukup berarti.
Jadi pendekatan yang lebih tepat bukan mempercayai intuisi sosial secara penuh, tetapi juga bukan menganggapnya tidak berguna.
Saat kita berpikir, “Sepertinya orang ini tidak nyaman,” anggaplah itu sebagai hipotesis sementara, bukan fakta.
Kemudian lihat bagaimana interaksi berkembang.
Kita Bisa Beradaptasi terhadap “Pantulan Diri” dalam Perilaku Orang Lain
Jika proses tadi diteruskan, muncul fenomena yang cukup menarik. Ketika Budi mengamati Mawar setelah beberapa menit percakapan, Budi sebenarnya tidak lagi mengamati “Mawar dalam keadaan netral”.
Ia sedang mengamati:
Mawar yang sudah bereaksi terhadap Budi.
Dengan kata lain, sebagian perilaku Mawar yang sekarang dilihat Budi merupakan respons terhadap bagaimana Mawar menilai dan mengalami interaksi dengan Budi. Secara tidak langsung, Budi kemudian beradaptasi terhadap perilaku yang sebagian sudah dipengaruhi oleh dirinya sendiri.
Namun, istilah “pantulan diri” di sini bukanlah nama teori psikologi formal. Ini merupakan cara sederhana untuk menggambarkan sifat timbal balik dari percakapan.
Mawar juga bukan cermin sempurna Budi. Respons Mawar tetap dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman, emosi, persepsi, tujuan, dan biasnya sendiri.
Lebih tepat jika dikatakan bahwa dalam respons Mawar, Budi dapat melihat semacam pantulan bagaimana dirinya diterima atau dipersepsikan oleh Mawar.
Hal yang sama tentu berlaku sebaliknya.
Inilah yang membuat setiap hubungan dapat menciptakan dinamika yang unik. “Budi ketika bersama Mawar” dapat berbeda dari “Budi ketika bersama Andi” karena masing-masing hubungan menghasilkan pola umpan balik sosial yang berbeda.
Menyesuaikan Diri Tidak Sama dengan Berpura-pura
Setelah memahami proses tersebut, muncul pertanyaan: jika perilaku kita terus berubah mengikuti orang lain, apakah berarti kita tidak sedang menjadi diri sendiri?
Tidak selalu.
Ada perbedaan besar antara menyesuaikan cara berkomunikasi dan mengubah identitas hanya agar diterima.
Seseorang dapat tetap menjadi orang yang jujur, tetapi menyampaikan kritik kepada sahabat dengan cara berbeda dibandingkan ketika berbicara kepada rekan kerja. Ia dapat tetap humoris, tetapi mengetahui bahwa situasi tertentu tidak tepat untuk bercanda. Ia juga dapat tetap memiliki pendapat yang sama sambil memilih kata-kata berbeda agar lawan bicara dapat memahaminya dengan baik.
Penelitian Mark Leary dan rekan-rekannya mengenai self-presentation dalam interaksi sehari-hari menemukan bahwa perhatian seseorang terhadap kesan yang diberikannya kepada orang lain dapat berubah berdasarkan karakteristik interaksi dan seberapa familiar dirinya dengan orang yang sedang dihadapi. Motif presentasi diri cenderung lebih rendah pada beberapa interaksi dengan orang yang sangat familiar dibandingkan dengan orang yang kurang dikenal.
Dengan demikian, perubahan cara menampilkan diri tidak otomatis berarti kepalsuan.
Sebagian justru merupakan kemampuan membaca konteks sosial.
Masalah Muncul Ketika Adaptasi Berubah Menjadi Kehilangan Diri
Walaupun beradaptasi merupakan bagian normal dari interaksi sosial, proses ini tetap memiliki batas. Jika seseorang terus mengubah pendapat, nilai, preferensi, atau identitas hanya agar memperoleh persetujuan dari orang di sekitarnya, adaptasi tersebut sudah berbeda dari sekadar fleksibilitas komunikasi.
Cara sederhana untuk membedakannya adalah melihat apa yang berubah.
Jika yang berubah adalah volume suara, pilihan kata, tingkat formalitas, cara menjelaskan, atau intensitas humor, hal tersebut dapat dipahami sebagai adaptasi perilaku.
Namun jika yang terus berubah adalah nilai, prinsip, pendapat yang sebenarnya diyakini, atau gambaran diri hanya agar disukai, ada alasan untuk mengevaluasi kembali apakah penyesuaian tersebut masih sehat.
Karena itu, menjadi diri sendiri dan beradaptasi sebenarnya tidak harus dipertentangkan.
Kita dapat memiliki identitas yang relatif stabil tetapi perilaku yang fleksibel.
Kemampuan sosial yang matang justru dapat diringkas dalam dua kesadaran sekaligus:
“Saya tahu siapa diri saya.”
dan
“Saya sadar siapa yang sedang saya hadapi.”
Keduanya memungkinkan seseorang tetap autentik tanpa kehilangan kepekaan terhadap orang lain.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Kenapa sikap seseorang bisa berubah saat bersama orang yang berbeda?
Karena perilaku manusia dipengaruhi oleh konteks sosial, hubungan, persepsi terhadap lawan bicara, dan respons yang diterima selama interaksi.
2. Apakah berubah sikap di depan orang tertentu berarti seseorang berpura-pura?
Tidak selalu. Menyesuaikan gaya komunikasi merupakan bagian normal dari interaksi sosial selama tidak mengharuskan seseorang mengubah nilai atau identitasnya.
3. Apakah manusia secara otomatis membaca sifat lawan bicaranya?
Manusia umumnya mencoba membuat inferensi mengenai emosi, niat, dan keadaan mental orang lain berdasarkan berbagai petunjuk sosial, meski hasilnya tidak selalu akurat.
4. Kenapa kita bisa merasa lebih nyaman berbicara dengan orang tertentu?
Salah satu faktornya adalah kecocokan pola komunikasi, rasa aman, kedekatan, pengalaman sebelumnya, serta respons yang diberikan satu sama lain selama berinteraksi.