Informasi yang beredar di media sosial tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Meski begitu, masih banyak orang yang mudah mempercayai berita hoaks, bahkan langsung membagikannya kepada keluarga, teman, atau pengikutnya tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Fenomena ini tidak selalu berkaitan dengan tingkat pendidikan atau kecerdasan seseorang. Ada sejumlah faktor psikologis yang dapat memengaruhi cara manusia menerima, memahami, dan menilai sebuah informasi.
Ketika seseorang menemukan berita yang sesuai dengan keyakinannya, membangkitkan emosi, atau berulang kali muncul di beranda media sosial, informasi tersebut bisa terasa semakin meyakinkan. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Sabtu (7/11), kebiasaan mudah percaya berita palsu ternyata berkaitan dengan mekanisme berpikir, ingatan, emosi, hingga kebutuhan manusia untuk diterima dalam lingkungan sosial. Lantas, apa saja faktor psikologis yang membuat seseorang mudah percaya hoaks?
1. Bias Konfirmasi, Cenderung Mempercayai Informasi yang Sesuai Keyakinan
Salah satu faktor psikologis yang membuat seseorang mudah percaya berita hoaks adalah confirmation bias atau bias konfirmasi. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mencari, memperhatikan, dan menerima informasi yang mendukung keyakinan atau pandangan yang sudah dimilikinya.
Misalnya, seseorang memiliki pandangan negatif terhadap tokoh tertentu. Ketika menemukan berita yang menyudutkan tokoh tersebut, ia mungkin langsung mempercayainya karena informasi itu sesuai dengan penilaian sebelumnya. Sebaliknya, ketika menemukan berita yang membantah tuduhan tersebut, ia justru cenderung meragukannya atau mengabaikannya.
Kondisi ini membuat seseorang tidak lagi menilai informasi berdasarkan kekuatan bukti, melainkan berdasarkan kesesuaiannya dengan pemikiran pribadi. Akibatnya, berita yang belum terverifikasi dapat dianggap benar hanya karena mendukung pendapat yang sudah terbentuk sebelumnya.
Bias konfirmasi juga dapat membuat seseorang kesulitan menerima koreksi. Ketika ada pihak lain yang memberikan fakta berbeda, informasi tersebut bisa dianggap sebagai bentuk pembelaan terhadap pihak tertentu, bukan sebagai upaya meluruskan kesalahpahaman.
2. Illusory Truth Effect, Menganggap Informasi yang Sering Didengar sebagai Kebenaran
Pernah menemukan sebuah berita yang awalnya terasa asing, tetapi setelah berkali-kali muncul di media sosial, justru terlihat semakin meyakinkan? Fenomena tersebut berkaitan dengan illusory truth effect atau efek kebenaran semu.
Dalam psikologi, efek ini menggambarkan kecenderungan seseorang menganggap suatu pernyataan lebih benar ketika sudah sering mendengarnya. Pengulangan membuat informasi terasa akrab dan lebih mudah diproses oleh otak. Sayangnya, rasa akrab tersebut terkadang disalahartikan sebagai tanda bahwa informasi memang benar.
Sebagai contoh, sebuah pesan berantai menyebutkan bahwa mengonsumsi bahan makanan tertentu dapat menyembuhkan penyakit serius. Meskipun tidak disertai bukti ilmiah, pesan tersebut terus dibagikan melalui grup WhatsApp, Facebook, dan platform lainnya. Setelah berkali-kali melihat klaim yang sama, sebagian orang mungkin mulai menganggapnya sebagai fakta.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Medicine pada 2022 turut membahas efek kebenaran semu sebagai salah satu mekanisme yang membuat masyarakat rentan terhadap misinformasi. Pengulangan informasi dapat meningkatkan persepsi kebenaran, bahkan ketika klaim tersebut sebenarnya keliru.
3. Emosi yang Kuat Membuat Seseorang Kurang Kritis
Berita hoaks sering kali dikemas menggunakan bahasa yang mampu membangkitkan emosi pembacanya. Beberapa di antaranya adalah rasa takut, marah, sedih, cemas, hingga rasa penasaran yang berlebihan.
Ketika seseorang membaca informasi yang memicu emosi kuat, perhatiannya bisa lebih banyak tertuju pada isi pesan dan reaksi yang ditimbulkannya daripada memeriksa kebenaran informasi. Misalnya, berita mengenai ancaman keselamatan keluarga dapat membuat seseorang langsung panik dan merasa perlu menyebarkannya kepada orang terdekat.
Situasi serupa juga terjadi pada berita yang memancing kemarahan. Informasi yang menuduh seseorang melakukan tindakan buruk dapat langsung dipercaya oleh pembaca yang sudah memiliki sentimen negatif terhadap orang tersebut. Reaksi emosional terkadang muncul lebih cepat daripada proses pemeriksaan fakta.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa konten misinformasi yang memanfaatkan emosi seperti ketakutan dan kemarahan dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mempercayainya. Karena itu, judul sensasional dan pesan yang mengandung provokasi perlu disikapi secara lebih hati-hati.
4. Terlalu Percaya kepada Sumber Informasi Tertentu
Kepercayaan terhadap sumber informasi juga memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang menilai sebuah berita. Manusia cenderung lebih mudah menerima informasi yang berasal dari pihak yang dianggap memiliki kredibilitas, kedekatan, atau kesamaan pandangan.
Contohnya, seseorang mungkin lebih percaya pada informasi yang dibagikan anggota keluarga, teman dekat, tokoh masyarakat, atau figur publik yang selama ini dikaguminya. Kedekatan personal membuat informasi terasa lebih dapat dipercaya, meskipun orang yang membagikannya belum tentu memeriksa kebenarannya.
Masalahnya, kepercayaan terhadap seseorang tidak otomatis menjamin bahwa seluruh informasi yang disampaikannya benar. Seseorang bisa saja memiliki niat baik ketika membagikan berita, tetapi tanpa sadar menyebarkan informasi yang keliru.
Faktor ini juga berkaitan dengan kepercayaan terhadap kelompok sendiri atau in-group. Informasi dari orang yang dianggap satu kelompok, baik berdasarkan pandangan politik, komunitas, maupun identitas sosial, dapat dinilai lebih meyakinkan dibandingkan informasi dari kelompok lain.
5. Kurangnya Kebiasaan Berpikir Kritis Sebelum Menerima Informasi
Kemampuan berpikir kritis membantu seseorang mempertanyakan informasi sebelum menerimanya sebagai sebuah kebenaran. Namun, tidak semua orang terbiasa melakukan proses tersebut ketika membaca berita di internet.
Sebagian pengguna media sosial hanya membaca judul, melihat gambar, atau memperhatikan potongan video tanpa mencari konteks lengkapnya. Padahal, judul yang menarik belum tentu menggambarkan isi berita secara akurat. Bahkan, gambar asli sekalipun dapat digunakan kembali dalam konteks peristiwa yang berbeda.
Penelitian mengenai psikologi berita palsu yang diterbitkan dalam jurnal Trends in Cognitive Sciences pada 2021 menjelaskan bahwa kemampuan membedakan informasi benar dan salah berkaitan dengan kebiasaan berpikir secara cermat serta pengetahuan yang relevan. Penggunaan jalan pintas dalam menilai informasi, seperti hanya mengandalkan keakraban atau reputasi sumber, juga dapat memengaruhi ketepatan penilaian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis perlu dilatih dalam aktivitas digital sehari-hari. Membaca isi berita secara lengkap, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mencari bukti pendukung merupakan beberapa kebiasaan yang dapat membantu seseorang terhindar dari informasi menyesatkan.
6. Terpengaruh Lingkungan Sosial dan Echo Chamber
Lingkungan sosial dapat membentuk cara seseorang memahami suatu peristiwa. Ketika berada dalam komunitas yang memiliki pandangan serupa, seseorang mungkin lebih sering menerima informasi yang mendukung keyakinan kelompoknya.
Fenomena tersebut dikenal sebagai echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang terus-menerus terpapar pandangan atau informasi yang serupa dengan pendapatnya sendiri. Situasi ini dapat terjadi dalam grup percakapan, komunitas daring, maupun lingkungan pertemanan di media sosial.
Sebagai contoh, seseorang bergabung dengan grup yang memiliki pandangan tertentu mengenai isu kesehatan. Hampir setiap hari, anggota grup membagikan informasi yang memperkuat pandangan tersebut. Ketika muncul berita yang bertentangan, informasi itu mungkin langsung ditolak tanpa pemeriksaan lebih lanjut karena dianggap tidak sejalan dengan keyakinan kelompok.
Lama-kelamaan, seseorang bisa merasa bahwa pendapat yang beredar di lingkungannya merupakan kebenaran umum. Padahal, banyaknya orang yang menyetujui sebuah informasi tidak membuktikan bahwa informasi tersebut benar. Penelitian mengenai misinformasi juga mengidentifikasi komunitas daring dan ruang gema sebagai faktor sosial yang dapat memengaruhi penerimaan berita palsu.
7. Terburu-buru Membagikan Informasi Tanpa Memeriksa Kebenarannya
Tidak semua orang yang membagikan berita hoaks benar-benar mempercayai informasi tersebut. Ada pula pengguna media sosial yang menyebarkannya karena terburu-buru, kurang memperhatikan detail, atau hanya ingin memberikan informasi kepada orang lain.
Misalnya, seseorang menerima pesan mengenai bencana alam yang diklaim sedang terjadi di wilayah tertentu. Karena khawatir anggota keluarga terkena dampaknya, ia langsung meneruskan pesan tersebut ke berbagai grup percakapan tanpa memastikan waktu, lokasi, maupun sumber informasinya.
Kebiasaan ini dapat mempercepat penyebaran informasi keliru. Ketika sebuah pesan dibagikan oleh banyak orang, penerima berikutnya mungkin menganggapnya sebagai informasi yang sudah terverifikasi. Padahal, setiap orang hanya meneruskan pesan yang sama tanpa mengetahui sumber awalnya.
Kajian dalam Trends in Cognitive Sciences pada 2021 juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara mempercayai dan membagikan berita palsu. Seseorang dapat membagikan informasi menyesatkan bukan karena sengaja ingin menyebarkan kebohongan, melainkan karena kurang memperhatikan aspek akurasi ketika menggunakan media sosial.
8. Rasa Takut Ketinggalan Informasi atau FOMO
Fear of Missing Out (FOMO) merupakan istilah yang menggambarkan kekhawatiran seseorang tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang ramai diperbincangkan orang lain.
Dalam penggunaan media sosial, kondisi ini dapat membuat seseorang merasa harus selalu mengetahui informasi terbaru. Akibatnya, ia cenderung membaca dan membagikan berita dengan cepat agar tidak tertinggal dari pembicaraan di lingkungan pertemanannya.
Misalnya, ketika sebuah isu mendadak viral, seseorang mungkin langsung mencari informasi dan membagikan unggahan terkait tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu. Keinginan untuk menjadi orang pertama yang mengetahui atau menyampaikan kabar terkadang lebih dominan daripada kebutuhan untuk memastikan kebenarannya.
FOMO bukan berarti seseorang pasti mudah percaya hoaks. Namun, ketika dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi membuat seseorang mengabaikan proses verifikasi, risiko menerima dan menyebarkan berita palsu dapat meningkat.
9. Terlalu Mengandalkan Intuisi dan Penilaian Cepat
Manusia tidak selalu menggunakan proses berpikir mendalam ketika menerima informasi. Dalam kehidupan sehari-hari, otak juga menggunakan intuisi atau penilaian cepat untuk memahami berbagai hal tanpa harus menganalisis semuanya secara terperinci.
Cara berpikir ini sebenarnya membantu seseorang mengambil keputusan dalam situasi yang membutuhkan respons cepat. Namun, ketika digunakan untuk menilai kebenaran berita, intuisi dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Contohnya, seseorang membaca berita dengan desain profesional, mencantumkan angka, dan menggunakan istilah ilmiah. Karena tampilannya terlihat meyakinkan, ia langsung menganggap berita tersebut berasal dari sumber terpercaya, meskipun tidak ada rujukan yang dapat diperiksa.
Penelitian mengenai psikologi berita palsu menunjukkan bahwa penggunaan penilaian intuitif, keakraban terhadap informasi, dan penilaian terhadap sumber dapat memengaruhi kemampuan seseorang membedakan berita benar dan salah. Oleh karena itu, tampilan yang profesional tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran kredibilitas sebuah berita.
10. Sulit Menerima Koreksi karena Sudah Terlanjur Mempercayai Informasi
Salah satu alasan hoaks sulit dihentikan adalah adanya kecenderungan sebagian orang tetap terpengaruh oleh informasi keliru meskipun sudah menerima bantahan atau koreksi.
Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai continued influence effect. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika informasi yang sudah dibantah masih memengaruhi pemikiran, penilaian, atau pengambilan keputusan seseorang.
Sebagai contoh, seseorang telanjur percaya bahwa sebuah produk kesehatan dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Setelah membaca klarifikasi dari tenaga kesehatan mengenai tidak adanya bukti yang mendukung klaim tersebut, ia belum tentu langsung mengubah keyakinannya. Informasi awal yang sudah diterima mungkin masih terasa meyakinkan karena telah menjadi bagian dari pemahamannya.
Selain itu, sebagian orang mungkin merasa tidak nyaman ketika harus mengakui bahwa informasi yang selama ini dipercayainya ternyata salah. Hal tersebut dapat mendorong mereka mencari pembenaran atau mempertahankan pendapat sebelumnya.
Sebuah tinjauan ilmiah dalam Nature Reviews Psychology pada 2022 membahas bagaimana informasi keliru dapat terus memengaruhi penalaran seseorang setelah dikoreksi. Karena itu, pelurusan hoaks perlu disertai penjelasan yang jelas mengenai fakta sebenarnya, bukan sekadar menyatakan bahwa sebuah informasi salah.
Cara Menghindari Pengaruh Psikologis yang Membuat Mudah Percaya Hoaks
Mengenali faktor psikologis yang memengaruhi penerimaan informasi dapat membantu seseorang menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan untuk mengurangi risiko mempercayai berita palsu.
1. Jangan langsung bereaksi terhadap berita emosional. Berikan waktu untuk berpikir ketika menemukan informasi yang memicu rasa takut, marah, atau panik. Jangan langsung membagikannya sebelum memeriksa kebenarannya.
2. Periksa sumber berita. Cari tahu siapa penulis atau penerbit informasi tersebut. Pastikan sumbernya jelas dan memiliki rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Baca berita secara lengkap. Jangan hanya mengandalkan judul, gambar, atau potongan video. Periksa konteks informasi agar tidak salah memahami isi pemberitaan.
4. Bandingkan dengan sumber lain. Cari pemberitaan dari beberapa media kredibel untuk mengetahui apakah informasi yang sama juga diberitakan oleh sumber independen.
5. Periksa tanggal dan konteks informasi. Berita lama dapat kembali beredar seolah-olah merupakan kejadian baru. Perhatikan waktu kejadian, lokasi, serta konteks gambar atau video yang digunakan.
6. Sadari bias pribadi. Tanyakan kepada diri sendiri mengapa sebuah berita terasa meyakinkan. Apakah karena memiliki bukti kuat atau sekadar sesuai dengan pendapat yang sudah dipercaya?
7. Gunakan layanan pemeriksa fakta. Ketika menemukan klaim yang meragukan, cari klarifikasi melalui lembaga pemeriksa fakta atau media yang memiliki standar verifikasi jurnalistik.
World Health Organization (WHO) juga menyarankan masyarakat untuk memeriksa identitas penulis, tanggal publikasi, bukti pendukung, serta kemungkinan bias pribadi ketika menerima informasi. Langkah tersebut dapat membantu seseorang menilai informasi secara lebih objektif.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Mengapa orang pintar juga bisa percaya hoaks?
Orang dengan tingkat pendidikan atau kecerdasan tinggi tetap dapat terpengaruh bias konfirmasi, emosi, pengulangan informasi, dan kepercayaan terhadap sumber tertentu. Kemampuan intelektual tidak otomatis menjamin seseorang selalu mampu mengenali berita palsu.
2. Apa nama fenomena psikologis ketika seseorang percaya informasi karena sering mendengarnya?
Fenomena tersebut disebut illusory truth effect atau efek kebenaran semu. Pengulangan membuat informasi terasa lebih akrab sehingga cenderung dinilai lebih benar.
3. Apakah orang yang menyebarkan hoaks selalu memiliki niat buruk?
Tidak. WHO membedakan misinformasi, yaitu informasi salah yang disebarkan tanpa niat menipu, dengan disinformasi yang sengaja dibuat atau disebarkan untuk menyesatkan.
4. Apa hubungan emosi dengan kepercayaan terhadap berita hoaks?
Emosi seperti takut, marah, dan cemas dapat membuat seseorang lebih mudah menerima informasi yang memicu perasaan tersebut tanpa memeriksa bukti pendukungnya.
5. Bagaimana cara mengetahui berita hoaks atau bukan?
Periksa sumber, penulis, tanggal publikasi, bukti pendukung, dan konteks informasi. Bandingkan dengan pemberitaan media kredibel serta gunakan layanan pemeriksa fakta jika diperlukan.