Skip to content

Tips Decluttering Rumah agar Lebih Rapi dan Nyaman, Cara Memilah Barang Tanpa Bingung

Rumah bisa terasa penuh bukan hanya karena ukurannya terbatas, tetapi juga karena terlalu banyak barang yang menempati ruang tanpa benar-benar digunakan. Barang yang jarang dipakai, pakaian yang sudah lama tidak dikenakan, kemasan kosong, hingga benda yang disimpan karena merasa sayang dibuang perlahan dapat membuat ruangan terlihat sesak dan sulit ditata.

Decluttering menjadi salah satu cara untuk mengurangi tumpukan tersebut dengan lebih terarah. Prosesnya bukan sekadar membuang barang, melainkan memilih kembali apa yang memang dibutuhkan, digunakan, disimpan, dipindahkan, atau dilepaskan agar setiap ruang memiliki fungsi yang lebih jelas. Berikut tips decluttering rumah yang dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Minggu (4/10).

Mulai dari Satu Area, Jangan Langsung Seluruh Rumah

Kesalahan yang sering membuat decluttering terasa berat adalah mencoba membereskan seluruh rumah dalam satu waktu. Melihat banyaknya barang yang harus dipilah justru dapat membuat proses terasa melelahkan sebelum benar-benar dimulai.

Pilih satu area kecil terlebih dahulu, misalnya satu laci, satu rak, meja kerja, sudut kamar, atau bagian tertentu dari lemari. Area yang lebih terbatas membuat proses memilah terasa lebih realistis dan memudahkan untuk melihat perubahan setelah selesai.

Setelah satu area berhasil dibereskan, lanjutkan ke bagian berikutnya secara bertahap. Cara ini juga membantu membangun kebiasaan sehingga decluttering tidak terasa seperti pekerjaan besar yang hanya dilakukan ketika rumah sudah sangat berantakan.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Kecil yang Membuat Rumah Terlihat Selalu Berantakan, Sering Dilakukan Tanpa Sadar

Pisahkan Barang Berdasarkan Kondisinya

Setelah menentukan area, keluarkan barang yang ada dan kelompokkan berdasarkan keputusan yang perlu dibuat. Tidak semua benda harus langsung masuk ke kategori dibuang karena beberapa barang mungkin masih dibutuhkan atau perlu dipindahkan ke tempat lain.

Gunakan beberapa kelompok sederhana seperti tetap disimpan, dipindahkan, disumbangkan atau diberikan, diperbaiki, didaur ulang, dan dibuang. Pengelompokan seperti ini membantu proses pengambilan keputusan menjadi lebih jelas daripada sekadar melihat tumpukan barang secara keseluruhan.

Barang yang masih digunakan dan kondisinya baik tentu dapat dipertahankan. Sebaliknya, benda yang rusak, sudah tidak berfungsi, tidak lagi sesuai kebutuhan, atau hanya memenuhi ruang tanpa pernah digunakan perlu dipertimbangkan kembali keberadaannya.

Tanyakan Kapan Terakhir Kali Barang Digunakan

Salah satu cara paling praktis untuk menentukan apakah sebuah barang masih layak disimpan adalah mengingat kapan terakhir kali benda tersebut digunakan. Jika sudah sangat lama tidak digunakan dan tidak ada kebutuhan yang jelas dalam waktu dekat, barang tersebut patut masuk daftar untuk dipertimbangkan kembali.

Pertanyaan sederhana seperti “Kapan terakhir kali saya menggunakan ini?” dapat membantu ketika sulit mengambil keputusan. Pertanyaan lain yang bisa digunakan adalah apakah barang tersebut masih sesuai kebutuhan, apakah ada barang lain yang memiliki fungsi serupa, dan apakah benda itu benar-benar akan digunakan lagi.

Namun, jangan menerapkan aturan secara kaku pada semua barang. Dokumen penting, perlengkapan musiman, barang kenangan, atau benda yang memang jarang digunakan tetapi memiliki fungsi khusus tentu perlu dipertimbangkan berdasarkan konteksnya.

Kurangi Barang yang Memiliki Fungsi Sama

Rumah sering terlihat penuh karena memiliki terlalu banyak benda dengan fungsi yang hampir sama. Contohnya adalah beberapa botol minum, wadah makanan, tas, pakaian, alat masak, atau perlengkapan rumah tangga yang sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan yang sama.

Periksa benda-benda yang sejenis dan lihat mana yang paling sering digunakan, paling nyaman, serta kondisinya masih baik. Jika jumlahnya jauh lebih banyak daripada kebutuhan sehari-hari, sebagian dapat dipindahkan, diberikan kepada orang lain, atau dilepas jika memang tidak lagi diperlukan.

Bukan berarti semua barang sejenis harus dikurangi menjadi satu. Jumlah yang ideal tetap bergantung pada kebiasaan dan kebutuhan masing-masing rumah. Tujuannya adalah menghindari penyimpanan berlebihan yang membuat ruang semakin penuh tanpa memberikan manfaat yang sepadan.

Bereskan Lemari dengan Memilah Pakaian

Lemari merupakan salah satu tempat yang sering menjadi sumber tumpukan karena pakaian terus bertambah sementara pakaian lama tetap disimpan. Decluttering lemari dapat dimulai dengan mengeluarkan pakaian dari satu bagian saja agar prosesnya tidak terasa terlalu berat.

Pisahkan pakaian yang sering dikenakan, jarang dipakai, sudah tidak sesuai ukuran, rusak, atau tidak lagi nyaman digunakan. Pakaian yang masih bagus tetapi sudah tidak digunakan dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada orang lain, sementara pakaian yang rusak parah bisa dipisahkan untuk kebutuhan lain atau didaur ulang jika memungkinkan.

Jangan hanya melihat kondisi pakaian, tetapi pertimbangkan juga kebiasaan mengenakannya. Ada pakaian yang masih bagus tetapi selalu berada di bagian paling bawah tumpukan karena tidak pernah dipilih. Jika pola tersebut terus terjadi, menyimpan pakaian itu mungkin hanya membuat lemari semakin penuh.

Baca Juga: 9 Bagian Paling Kotor di Rumah Selain Kamar Mandi, Tempat Tak Terduga yang Jarang Diketahui

Jangan Menjadikan Meja sebagai Tempat Penyimpanan Sementara

Meja makan, meja kerja, meja ruang keluarga, dan permukaan furnitur lainnya sering berubah menjadi tempat menaruh barang sementara. Masalahnya, barang yang awalnya hanya ingin diletakkan sebentar dapat bertahan berhari-hari hingga akhirnya menjadi tumpukan baru.

Biasakan setiap barang memiliki tempat penyimpanan yang jelas. Setelah digunakan, kembalikan benda tersebut ke tempatnya daripada meletakkannya di permukaan yang paling mudah dijangkau.

Untuk barang yang memang sering digunakan, siapkan wadah khusus agar benda-benda kecil tidak tersebar. Namun, jangan menjadikan terlalu banyak wadah sebagai alasan untuk menyimpan lebih banyak barang. Wadah seharusnya membantu mengatur barang yang memang diperlukan, bukan menjadi tempat menyembunyikan tumpukan.

Rapikan Dapur dengan Mengurangi Barang yang Jarang Dipakai

Dapur dapat terlihat penuh meskipun ukuran ruangannya cukup besar karena banyak peralatan dan bahan makanan ditempatkan di area yang sama. Mulailah dengan memeriksa peralatan masak, wadah penyimpanan, botol, perlengkapan makan, serta bahan yang sudah lama tidak digunakan.

Perhatikan barang yang jumlahnya terlalu banyak atau memiliki fungsi serupa. Wadah makanan dengan tutup yang sudah hilang, peralatan yang rusak, serta benda yang hanya digunakan sesekali tanpa kebutuhan khusus dapat menjadi kandidat untuk dipilah kembali.

Bumbu dan bahan makanan juga sebaiknya diperiksa secara berkala. Barang yang sudah tidak layak digunakan perlu segera dikeluarkan dari area penyimpanan agar tidak mengambil ruang dan tidak tercampur dengan stok yang masih digunakan.

Manfaatkan Kotak untuk Barang yang Masih Membutuhkan Waktu Diputuskan

Tidak semua barang mudah diputuskan dalam satu kali proses. Jika masih ragu, jangan memaksakan keputusan hanya karena ingin segera menyelesaikan decluttering.

Sediakan satu kotak atau area khusus untuk barang yang belum yakin akan disimpan atau dilepas. Berikan batas waktu untuk mengevaluasinya kembali. Selama periode tersebut, perhatikan apakah barang tersebut benar-benar dicari atau digunakan.

Cara ini dapat membantu membedakan antara barang yang memang dibutuhkan dan benda yang hanya sulit dilepaskan karena alasan emosional atau kebiasaan. Namun, kotak tersebut sebaiknya tetap memiliki batas jumlah dan tidak berubah menjadi tempat penumpukan permanen.

Hindari Membeli Barang Baru Sebelum Tumpukan Lama Berkurang

Decluttering akan sulit memberikan perubahan yang bertahan lama jika barang baru terus masuk tanpa mempertimbangkan barang yang sudah ada. Karena itu, kebiasaan berbelanja juga perlu diperhatikan setelah proses memilah selesai.

Sebelum membeli sesuatu, pertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah sudah memiliki benda dengan fungsi serupa, dan di mana barang itu akan disimpan. Pertanyaan tersebut dapat membantu mencegah pembelian impulsif yang akhirnya menambah beban penyimpanan.

Untuk barang tertentu, pertimbangkan pula frekuensi penggunaannya. Jika hanya akan digunakan sesekali, menyewa, meminjam, atau menggunakan barang yang sudah tersedia mungkin lebih masuk akal daripada membeli benda baru yang kemudian jarang digunakan.

Buat Aturan Sederhana agar Barang Tidak Kembali Menumpuk

Decluttering bukan hanya kegiatan membersihkan rumah dalam satu hari. Tanpa kebiasaan baru, barang yang sudah dikurangi dapat kembali menumpuk dalam beberapa waktu.

Buat aturan sederhana yang mudah dilakukan, seperti mengembalikan barang setelah digunakan, tidak membiarkan meja menjadi tempat penyimpanan, memeriksa lemari secara berkala, dan segera mengeluarkan barang yang sudah tidak digunakan.

Untuk menjaga rumah tetap rapi, lakukan decluttering kecil secara rutin daripada menunggu sampai barang menumpuk terlalu banyak. Lima belas menit untuk membereskan satu laci atau satu rak bisa lebih mudah dilakukan dibandingkan menghabiskan waktu lama untuk menangani seluruh rumah yang sudah penuh.

Jangan Terjebak Keinginan Membuat Rumah Terlihat Sempurna

Tujuan decluttering bukan membuat rumah terlihat seperti katalog furnitur. Rumah tetap merupakan ruang yang digunakan untuk beraktivitas sehingga beberapa barang memang wajar terlihat dan digunakan sehari-hari.

Fokuskan proses pada barang yang mengganggu fungsi ruang, terlalu banyak jumlahnya, sulit ditata, atau memang tidak lagi memberikan manfaat. Tidak perlu membuang benda hanya karena mengikuti tren rumah minimalis apabila benda tersebut masih digunakan dan memang dibutuhkan.

Ruang yang nyaman juga tidak selalu berarti kosong. Rumah yang tertata adalah rumah yang memungkinkan penghuninya menemukan barang dengan mudah, bergerak dengan nyaman, serta menggunakan setiap ruangan tanpa terus-menerus terganggu oleh tumpukan benda yang tidak perlu.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa itu decluttering rumah?

Decluttering rumah adalah proses memilah dan mengurangi barang yang tidak lagi dibutuhkan agar ruang menjadi lebih tertata, lega, dan mudah digunakan.

2. Bagaimana cara memulai decluttering jika rumah sangat berantakan?

Mulailah dari satu area kecil seperti laci, rak, meja, atau satu bagian lemari agar proses lebih mudah dikendalikan dan tidak terasa terlalu berat.

3. Apakah semua barang yang jarang digunakan harus dibuang?

Tidak. Barang yang jarang digunakan tetapi masih memiliki fungsi, nilai penting, atau memang dibutuhkan pada kondisi tertentu tetap dapat disimpan.

4. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan decluttering?

Decluttering dapat dilakukan kapan saja, tetapi lebih mudah dipertahankan jika dilakukan secara berkala dalam sesi kecil daripada menunggu barang menumpuk terlalu banyak.

5. Bagaimana agar rumah tidak kembali berantakan setelah decluttering?

Tetapkan tempat penyimpanan untuk setiap barang, kembalikan benda setelah digunakan, batasi barang baru yang masuk, dan lakukan pemeriksaan kecil secara rutin.