Memiliki impian sendiri terkadang menjadi sesuatu yang sulit diperjuangkan ketika seseorang tumbuh dengan tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Ada yang harus menunda pendidikan, meninggalkan karier yang sudah lama diinginkan, hingga mengesampingkan masa muda karena orang-orang terdekat membutuhkan kehadirannya. Konflik semacam ini membuat sebuah film terasa begitu dekat karena pilihan yang dihadapi tokohnya tidak pernah benar-benar sederhana.
Tema tersebut juga sering menghadirkan pertanyaan yang cukup emosional: seberapa jauh seseorang harus berkorban untuk keluarga, dan apakah mengejar kehidupan sendiri berarti bersikap egois? Beberapa film berikut membawa konflik itu melalui latar dan keadaan yang berbeda, mulai dari kakak yang mendadak harus mengurus adiknya hingga anak yang bertahun-tahun mengubur cita-citanya karena keinginan orang tua.
1. Sister (2021)

Sister mengikuti An Ran, perempuan muda yang sejak lama berusaha membangun kehidupan terpisah dari keluarganya setelah tumbuh dengan perlakuan yang lebih mengutamakan anak laki-laki. Ia ingin melanjutkan pendidikan dan mengejar masa depan di Beijing, tetapi rencananya berubah drastis ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan meninggalkan seorang putra berusia enam tahun yang nyaris tidak memiliki hubungan dekat dengannya.
An Ran kemudian berada dalam dilema besar antara meneruskan kehidupan yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun atau mengambil tanggung jawab membesarkan adiknya. Tekanan dari keluarga besar membuat persoalannya semakin rumit karena sebagai seorang kakak perempuan, ia dianggap seharusnya bersedia mengesampingkan keinginan pribadi. Karena konflik itulah, Sister menjadi salah satu film yang paling dekat dengan tema anak yang harus mempertimbangkan mengorbankan impiannya demi keluarga.
2. CODA (2021)

Ruby Rossi dalam CODA adalah remaja berusia 17 tahun sekaligus satu-satunya anggota keluarganya yang dapat mendengar. Sebelum berangkat sekolah, ia membantu ayah dan kakaknya bekerja di kapal penangkap ikan, sementara dalam kehidupan sehari-hari Ruby juga sering menjadi penerjemah bagi kedua orang tuanya yang tuli. Situasi tersebut membuat perannya di dalam keluarga jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan remaja seusianya.
Masalah muncul ketika Ruby menemukan bakat bernyanyi dan mendapat dorongan dari guru musiknya untuk mencoba masuk ke sekolah musik bergengsi. Kesempatan tersebut seharusnya menjadi jalan menuju impian yang selama ini belum pernah benar-benar ia miliki, tetapi pada saat bersamaan bisnis perikanan keluarganya sedang menghadapi kesulitan. Ruby pun harus memilih antara mengejar kehidupan yang ia inginkan atau tetap berada di rumah agar keluarganya dapat menjalankan kehidupan mereka dengan lebih mudah.
3. Patiala House (2011)

Patiala House berpusat pada Parghat Singh Kahlon atau Gattu, seorang pria keturunan India yang tinggal bersama keluarga besarnya di London. Sejak muda, Gattu memiliki bakat besar dalam olahraga kriket dan bahkan mendapat kesempatan untuk bermain bagi tim Inggris. Namun, sang ayah menentang pilihan tersebut karena pengalaman pahitnya menghadapi diskriminasi rasial, sehingga Gattu akhirnya memilih mematuhi keinginan ayahnya daripada memperjuangkan cita-cita sebagai pemain kriket.
Pengorbanan Gattu bahkan berlangsung selama sekitar 17 tahun, ketika ia menjalani kehidupan yang sebenarnya tidak pernah ia pilih dan bekerja di toko keluarga sementara mimpinya sebagai atlet perlahan terkubur. Ketika kesempatan kedua untuk bermain kriket datang, konflik lama kembali terbuka dan memaksanya mempertanyakan arti menjadi anak yang berbakti. Dibandingkan banyak film lain dalam daftar ini, Patiala House memperlihatkan pengorbanan impian yang sangat nyata karena Gattu benar-benar meninggalkan karier yang dicintainya demi menjaga perasaan ayah dan keharmonisan keluarga.
4. Sunset Song (2015)

Chris Guthrie dalam Sunset Song digambarkan sebagai perempuan muda cerdas yang tumbuh di tengah keluarga petani di Skotlandia pada awal abad ke-20. Kemampuannya di sekolah membuat Chris memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehidupan berbeda dari keluarganya, bahkan ia mulai menempuh pendidikan dengan harapan dapat menjadi seorang guru. Namun, masalah besar dalam keluarganya membuat jalan menuju kehidupan tersebut menjadi semakin sulit.
Setelah tragedi yang menimpa ibunya, Chris meninggalkan studinya dan kembali memusatkan tenaga untuk membantu mengurus pertanian serta keluarganya. Keputusan tersebut membuat masa depan yang sebelumnya terbuka lebar menjadi jauh lebih terbatas karena tanggung jawab di rumah datang lebih dahulu daripada cita-cita pribadi. Sunset Song memperlihatkan dengan kuat bagaimana keadaan keluarga dapat membuat seorang anak yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kesempatan harus mengubah arah hidupnya secara drastis.
5. Rocks (2019)
Dalam Rocks, Shola yang biasa dipanggil Rocks masih berusia sekitar 15 tahun ketika kehidupan remajanya tiba-tiba berubah. Sang ibu meninggalkan rumah tanpa banyak penjelasan sehingga Rocks harus mengambil alih tanggung jawab menjaga adiknya, Emmanuel. Ia masih harus datang ke sekolah dan memikirkan masa depannya, tetapi pada saat yang sama harus memastikan adiknya memiliki makanan, tempat tinggal, dan seseorang yang tetap berada di sisinya.
Situasi tersebut perlahan membuat Rocks kehilangan kesempatan menjalani masa remaja seperti teman-temannya, termasuk mengembangkan minat serta memikirkan karier yang diinginkannya. Ia bahkan berusaha menghindari pekerja sosial karena takut dipisahkan dari Emmanuel, sehingga hampir seluruh energinya tercurah untuk mempertahankan keluarganya tetap bersama. Pengorbanan dalam film ini bukan hanya mengenai satu cita-cita tertentu, tetapi juga tentang masa depan dan kehidupan remaja yang terpaksa dikesampingkan demi seorang adik.
6. The Breadwinner (2017)
The Breadwinner menghadirkan Parvana, gadis berusia 11 tahun yang hidup bersama keluarganya di Afghanistan pada masa pemerintahan Taliban. Setelah ayahnya ditangkap, keluarga Parvana kehilangan sosok yang dapat bekerja dan mencari kebutuhan sehari-hari. Karena perempuan menghadapi pembatasan ketat untuk beraktivitas di luar rumah, Parvana mengambil keputusan berbahaya dengan memotong rambut dan menyamar sebagai anak laki-laki agar dapat bekerja.
Parvana akhirnya harus meninggalkan banyak bagian dari kehidupan normal seorang anak, mulai dari kebebasan menjadi dirinya sendiri hingga kesempatan menikmati masa kecil dengan tenang, demi memastikan ibu dan saudara-saudaranya tetap memiliki makanan. Pada saat bersamaan, ia juga berusaha mencari cara untuk menyelamatkan ayahnya. Karena itu, pengorbanan dalam The Breadwinner memiliki bentuk yang lebih luas: bukan sekadar meninggalkan cita-cita tertentu, tetapi mempertaruhkan identitas, pendidikan, keamanan, dan masa kecil demi kelangsungan hidup keluarga.