Penyebab Sakit Kepala Belakang, Bisa Berasal dari Leher hingga Gangguan Saraf

Penyebab Sakit Kepala Belakang

Sakit kepala yang muncul di bagian belakang kepala sering kali membuat aktivitas sehari-hari terasa terganggu. Rasa nyeri dapat muncul secara perlahan maupun tiba-tiba, kemudian menjalar ke leher, bahu, hingga pangkal tengkorak. Penyebab sakit kepala belakang pun sangat beragam, mulai dari ketegangan otot akibat postur tubuh yang kurang baik hingga gangguan pada saraf atau penyakit tertentu yang memerlukan penanganan medis. Karena penyebabnya tidak selalu sama pada setiap orang, penting untuk mengenali karakteristik nyeri beserta gejala penyertanya.

Dalam banyak kasus, sakit kepala belakang bukan merupakan kondisi yang berbahaya dan dapat membaik dengan istirahat maupun perubahan gaya hidup. Namun, menurut Mayo Clinic, sakit kepala juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius apabila disertai gejala seperti demam tinggi, leher kaku, gangguan penglihatan, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau muncul secara mendadak dengan intensitas yang sangat hebat. Oleh sebab itu, mengetahui berbagai penyebabnya dapat membantu seseorang menentukan langkah penanganan yang paling sesuai sekaligus mengenali kapan harus segera memeriksakan diri ke dokter.

1. Tension-Type Headache atau Sakit Kepala Tegang

Salah satu penyebab sakit kepala belakang yang paling sering dialami adalah tension-type headache atau sakit kepala tegang. Kondisi ini merupakan jenis sakit kepala yang paling umum terjadi dan biasanya dipicu oleh ketegangan otot di sekitar kepala, leher, serta bahu. Nyeri yang muncul umumnya terasa tumpul, seperti kepala sedang diikat dengan kencang, kemudian menjalar hingga ke bagian belakang kepala dan leher. Berbeda dengan migrain, sakit kepala tegang biasanya tidak disertai rasa berdenyut yang hebat maupun gangguan penglihatan.

Ketegangan otot yang menjadi pemicu sakit kepala ini dapat muncul akibat berbagai faktor dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, duduk terlalu lama di depan komputer dengan posisi tubuh membungkuk, bekerja tanpa jeda istirahat, kurang tidur, atau mengalami tekanan psikologis yang berkepanjangan. Dikutip dari NHS (National Health Service), bahwa stres emosional dan kelelahan merupakan dua faktor yang paling sering memicu munculnya sakit kepala tegang, sehingga keluhan ini banyak ditemukan pada pekerja kantoran maupun mahasiswa yang memiliki aktivitas padat.

Pada sebagian besar kasus, sakit kepala tegang dapat membaik dengan memperbaiki pola hidup. Istirahat yang cukup, melakukan peregangan setiap satu hingga dua jam saat bekerja, menjaga posisi duduk tetap ergonomis, serta mengelola stres dapat membantu mengurangi frekuensi kambuhnya keluhan. Namun, apabila sakit kepala muncul hampir setiap hari atau semakin berat, sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk memastikan tidak terdapat penyebab lain yang memerlukan penanganan khusus.

Beberapa faktor yang dapat memicu sakit kepala tegang antara lain:

  • Stres akibat pekerjaan maupun masalah pribadi.
  • Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk.
  • Duduk terlalu lama dengan postur tubuh yang kurang baik.
  • Ketegangan pada otot leher dan bahu.
  • Kelelahan fisik maupun mental.

2. Neuralgia Oksipital akibat Gangguan pada Saraf Belakang Kepala

Neuralgia oksipital merupakan kondisi ketika saraf oksipital yang membentang dari bagian atas leher menuju kulit kepala mengalami iritasi, peradangan, atau tekanan. Mengutip dari Cleveland Clinic, gangguan ini sering menimbulkan nyeri tajam seperti tersengat listrik atau tertusuk benda tajam yang dimulai dari pangkal leher, kemudian menjalar ke belakang kepala hingga ke area belakang telinga atau mata. Karena gejalanya mirip migrain, banyak orang tidak menyadari bahwa sumber nyeri sebenarnya berasal dari saraf di leher.

Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti cedera leher, otot yang terlalu tegang, diabetes, radang sendi pada tulang leher, maupun tekanan pada saraf akibat perubahan struktur tulang belakang. Laman Johns Hopkins Medicine juga menjelaskan bahwa peradangan atau penjepitan saraf oksipital membuat saraf menjadi sangat sensitif sehingga rangsangan ringan, seperti menyisir rambut atau menempelkan kepala ke bantal, dapat memicu rasa sakit yang cukup hebat.

Penanganan neuralgia oksipital bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Pada kasus ringan, dokter biasanya menyarankan istirahat, fisioterapi, kompres hangat, atau obat antiinflamasi. Namun, apabila nyeri berlangsung lama dan tidak membaik, dokter dapat mempertimbangkan tindakan lain seperti blok saraf (nerve block) atau terapi medis yang lebih spesifik untuk mengurangi iritasi pada saraf oksipital.

Gejala yang sering muncul pada neuralgia oksipital meliputi:

  • Nyeri tajam seperti tersengat listrik.
  • Nyeri dimulai dari pangkal leher menuju belakang kepala.
  • Kulit kepala terasa sangat sensitif ketika disentuh.
  • Nyeri dapat menjalar hingga belakang mata.
  • Rasa sakit muncul ketika leher digerakkan atau kepala menempel pada bantal.

3. Cervicogenic Headache akibat Gangguan pada Leher

Tidak semua sakit kepala berasal dari kepala. Pada cervicogenic headache, sumber nyeri justru berasal dari struktur leher, seperti sendi, tulang, otot, atau cakram tulang belakang servikal, kemudian menjalar ke bagian belakang kepala. Kondisi ini sering kali muncul akibat gangguan pada tulang belakang leher sehingga rasa nyeri akan semakin terasa ketika kepala digerakkan atau setelah mempertahankan posisi tertentu dalam waktu yang lama.

Selain sakit kepala, penderita biasanya mengeluhkan leher yang terasa kaku dan sulit digerakkan. American Migraine Foundation menjelaskan bahwa cervicogenic headache sering disalahartikan sebagai migrain karena sama-sama dapat menimbulkan nyeri di satu sisi kepala. Padahal, rasa sakit pada cervicogenic headache hampir selalu diawali oleh keluhan pada leher, kemudian menjalar ke belakang kepala, pelipis, atau area sekitar mata.

Penanganan kondisi ini bertujuan mengatasi penyebab yang berasal dari leher. Dokter dapat menyarankan fisioterapi, latihan peregangan untuk meningkatkan fleksibilitas leher, penggunaan obat pereda nyeri, hingga terapi manual yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Menjaga postur tubuh tetap baik saat bekerja serta menghindari posisi leher yang sama dalam waktu lama juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kekambuhan.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cervicogenic headache antara lain:

  • Cedera leher akibat kecelakaan.
  • Hernia diskus servikal.
  • Osteoartritis pada tulang belakang leher.
  • Gangguan sendi servikal.
  • Postur tubuh yang buruk dalam waktu lama.

4. Migrain yang Dapat Menimbulkan Nyeri di Bagian Belakang Kepala

Migrain lebih sering dikenal sebagai sakit kepala berdenyut yang menyerang salah satu sisi kepala. Namun, pada sebagian penderita, rasa nyeri juga dapat dirasakan di bagian belakang kepala sehingga sering disalahartikan sebagai jenis sakit kepala lainnya. Lokasi nyeri migrain tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang merasakan nyeri di pelipis, dahi, hingga belakang kepala, terutama ketika serangan berlangsung cukup berat. Karena itu, migrain juga dapat menjadi salah satu penyebab sakit kepala belakang yang perlu dipertimbangkan apabila keluhan muncul berulang.

Selain rasa nyeri yang berdenyut, migrain biasanya disertai gejala khas seperti mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya, suara, atau aroma tertentu. Sebagian penderita juga mengalami aura sebelum migrain muncul, misalnya melihat kilatan cahaya, pandangan kabur, atau sensasi kesemutan pada tangan dan wajah. Serangan migrain dapat berlangsung selama beberapa jam hingga tiga hari sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari apabila tidak ditangani dengan baik.

Meski penyebab pasti migrain belum diketahui, para ahli meyakini bahwa kondisi ini berkaitan dengan perubahan aktivitas saraf dan pembuluh darah di otak. Beberapa faktor yang dapat memicu migrain meliputi stres, kurang tidur, perubahan hormon, terlambat makan, konsumsi alkohol, hingga makanan tertentu. Mengenali pemicu pribadi dan menghindarinya merupakan salah satu langkah efektif untuk mengurangi frekuensi kekambuhan.

Faktor yang dapat memicu migrain antara lain:

  • Kurang tidur atau pola tidur yang tidak teratur.
  • Stres emosional maupun kelelahan.
  • Perubahan hormon, terutama pada wanita.
  • Terlambat makan atau melewatkan waktu makan.
  • Paparan cahaya yang terlalu terang.
  • Konsumsi makanan atau minuman tertentu yang menjadi pemicu.

5. Ketegangan atau Cedera Otot Leher

Ketegangan otot leher merupakan salah satu penyebab yang paling sering diabaikan karena banyak orang menganggapnya hanya sebagai pegal biasa. Padahal, otot leher yang tegang dapat menarik jaringan di sekitar kepala sehingga menimbulkan nyeri yang menjalar hingga ke bagian belakang kepala. Oleh sebab itu, kondisi ini termasuk penyebab sakit kepala belakang yang cukup sering ditemukan, terutama pada orang yang bekerja dengan posisi duduk dalam waktu lama.

Kebiasaan menunduk saat menggunakan ponsel, bekerja di depan komputer tanpa jeda, mengangkat beban dengan teknik yang kurang tepat, maupun posisi tidur yang salah dapat membuat otot leher berkontraksi secara terus-menerus. Ketegangan otot yang berlangsung lama dapat mengurangi fleksibilitas leher serta memicu peradangan ringan pada jaringan di sekitarnya. Akibatnya, rasa nyeri tidak hanya terasa di leher, tetapi juga menyebar ke belakang kepala, bahu, bahkan punggung bagian atas.

Keluhan akibat ketegangan otot umumnya dapat membaik dengan perawatan sederhana di rumah. Kompres hangat, peregangan ringan, pijatan yang dilakukan oleh tenaga terlatih, serta memperbaiki posisi duduk dan tidur dapat membantu mengurangi ketegangan otot. Namun, bila rasa nyeri berlangsung lebih dari beberapa hari, disertai mati rasa pada lengan, atau semakin berat ketika menggerakkan leher, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa kebiasaan yang dapat menyebabkan ketegangan otot leher meliputi:

  • Duduk terlalu lama tanpa peregangan.
  • Posisi kepala menunduk saat menggunakan gawai.
  • Posisi tidur yang kurang menopang leher.
  • Mengangkat barang berat dengan teknik yang salah.
  • Kurang melakukan aktivitas fisik atau peregangan.

6. Osteoartritis atau Spondilosis Servikal

Pertambahan usia menyebabkan tulang, sendi, serta bantalan antarruas tulang belakang mengalami perubahan secara alami. Pada sebagian orang, perubahan tersebut berkembang menjadi spondilosis servikal atau osteoartritis pada tulang leher. Kondisi ini sangat umum terjadi pada orang berusia di atas 60 tahun, meskipun gejalanya tidak selalu muncul. Ketika perubahan tersebut menimbulkan tekanan pada jaringan sekitar leher, rasa nyeri dapat menjalar hingga ke belakang kepala sehingga menjadi salah satu penyebab sakit kepala belakang.

Selain sakit kepala, penderita spondilosis servikal sering mengeluhkan leher yang terasa kaku, muncul bunyi saat digerakkan, serta berkurangnya kemampuan menoleh ke kanan maupun kiri. Pada kondisi yang lebih berat, perubahan pada tulang belakang leher juga dapat menekan akar saraf atau sumsum tulang belakang sehingga menyebabkan kesemutan, mati rasa, bahkan kelemahan pada lengan dan tangan.

Penanganan spondilosis servikal bertujuan mengurangi nyeri sekaligus mempertahankan fungsi leher agar tetap optimal. Dokter biasanya menganjurkan latihan peregangan, fisioterapi, penggunaan obat antinyeri sesuai kebutuhan, serta perubahan gaya hidup untuk mengurangi tekanan pada leher. Pada kasus tertentu yang sudah menyebabkan gangguan saraf berat, tindakan operasi mungkin diperlukan sebagai pilihan terakhir.

Gejala spondilosis servikal yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Leher terasa kaku.
  • Nyeri menjalar ke belakang kepala.
  • Sulit menggerakkan leher.
  • Bunyi “krek” saat menoleh.
  • Kesemutan atau mati rasa pada lengan.
  • Kelemahan pada tangan apabila terjadi penekanan saraf.

7. Hipertensi atau Krisis Hipertensi

Banyak orang menganggap setiap sakit kepala, terutama yang terasa di bagian belakang kepala, pasti disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Hipertensi pada umumnya tidak menimbulkan gejala sehingga sering disebut sebagai silent killer. Namun, ketika tekanan darah meningkat hingga mencapai krisis hipertensi, kondisi tersebut dapat memicu sakit kepala hebat, termasuk di bagian belakang kepala. Oleh karena itu, hipertensi baru menjadi salah satu penyebab sakit kepala belakang apabila tekanan darah berada pada tingkat yang sangat tinggi dan membutuhkan penanganan segera.

Selain sakit kepala, krisis hipertensi biasanya disertai berbagai gejala lain yang tidak boleh diabaikan. Penderita dapat mengalami nyeri dada, sesak napas, gangguan penglihatan, mimisan, kebingungan, hingga kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Gejala tersebut muncul karena tekanan darah yang sangat tinggi dapat mengganggu fungsi organ-organ penting, termasuk otak, jantung, dan ginjal. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung.

Cara terbaik untuk mencegah krisis hipertensi adalah menjaga tekanan darah tetap terkontrol melalui pola hidup sehat. Hal ini dapat dilakukan dengan membatasi konsumsi garam, memperbanyak sayur dan buah, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, serta mengonsumsi obat antihipertensi sesuai anjuran dokter apabila telah didiagnosis hipertensi. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin juga penting dilakukan, terutama bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi atau faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Segera cari pertolongan medis apabila sakit kepala disertai:

  • Tekanan darah sangat tinggi.
  • Nyeri dada.
  • Sesak napas.
  • Gangguan penglihatan.
  • Sulit berbicara.
  • Kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
  • Penurunan kesadaran.

8. Dehidrasi

Tubuh membutuhkan cairan dalam jumlah yang cukup agar seluruh organ dapat bekerja dengan baik, termasuk otak. Ketika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan akibat kurang minum, muntah, diare, atau berkeringat berlebihan, keseimbangan cairan dan elektrolit akan terganggu. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai gejala, salah satunya sakit kepala. Meski nyeri dapat muncul di berbagai bagian kepala, dehidrasi juga termasuk penyebab sakit kepala belakang yang cukup sering terjadi, terutama pada orang yang aktif beraktivitas di bawah cuaca panas.

Saat tubuh mengalami dehidrasi, volume cairan di dalam pembuluh darah menurun sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh menjadi kurang optimal. Dehidrasi dapat menyebabkan otak mengalami perubahan sementara akibat berkurangnya cairan, sehingga memicu timbulnya rasa nyeri kepala. Keluhan ini biasanya akan membaik setelah kebutuhan cairan tubuh kembali terpenuhi.

Selain sakit kepala, dehidrasi sering disertai rasa haus berlebihan, mulut kering, tubuh terasa lemas, urine berwarna lebih pekat, serta frekuensi buang air kecil yang berkurang. Untuk mencegah kondisi ini, biasakan minum air putih secara rutin setiap hari dan tingkatkan asupan cairan ketika cuaca sedang panas atau setelah melakukan aktivitas fisik yang mengeluarkan banyak keringat.

Tanda-tanda tubuh mengalami dehidrasi antara lain:

  • Haus berlebihan.
  • Mulut dan bibir terasa kering.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Urine berwarna kuning pekat.
  • Frekuensi buang air kecil menurun.
  • Pusing ketika berdiri.

9. Cedera Kepala atau Leher

Benturan pada kepala maupun leher dapat menyebabkan munculnya sakit kepala, baik segera setelah cedera maupun beberapa hari kemudian. Cedera kepala ringan sekalipun dapat memicu gejala berupa sakit kepala yang berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Oleh sebab itu, riwayat benturan tidak boleh diabaikan ketika seseorang mengalami penyebab sakit kepala belakang, terutama jika keluhan muncul setelah kecelakaan, jatuh, atau cedera saat berolahraga.

Cedera pada jaringan lunak, otot, ligamen, maupun tulang belakang leher dapat menyebabkan peradangan yang menjalar hingga ke bagian belakang kepala. Cedera jenis whiplash, yaitu gerakan kepala yang menghentak secara tiba-tiba akibat kecelakaan kendaraan bermotor, sering kali menimbulkan nyeri pada leher yang kemudian menyebar ke kepala. Selain rasa sakit, penderita juga dapat mengalami leher kaku, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan tidur.

Meskipun sebagian besar cedera kepala bersifat ringan, beberapa kondisi memerlukan penanganan medis darurat. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), seseorang harus segera mendapatkan pertolongan apabila setelah cedera muncul muntah berulang, penurunan kesadaran, kejang, kelemahan anggota tubuh, atau sakit kepala yang semakin berat. Pemeriksaan sejak dini penting dilakukan untuk memastikan tidak terjadi perdarahan atau cedera serius pada otak.

Segera ke rumah sakit apabila setelah benturan muncul:

  • Muntah berulang.
  • Kejang.
  • Penurunan kesadaran.
  • Sulit berbicara.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
  • Sakit kepala yang semakin berat.

10. Penyakit Serius pada Otak atau Pembuluh Darah

Walaupun sebagian besar kasus sakit kepala belakang disebabkan oleh kondisi yang relatif ringan, bukan berarti semua keluhan dapat dianggap sepele. Sakit kepala yang muncul secara mendadak dengan intensitas sangat hebat (thunderclap headache) dapat menjadi tanda adanya kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan segera. Dalam keadaan seperti ini, penyebab sakit kepala belakang dapat berkaitan dengan gangguan pada otak maupun pembuluh darah sehingga memerlukan pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit.

Beberapa penyakit yang dapat menimbulkan sakit kepala belakang meliputi perdarahan otak, stroke, aneurisma otak, meningitis, tumor otak, hingga diseksi arteri vertebralis. Setiap kondisi tersebut memiliki mekanisme yang berbeda, tetapi semuanya berpotensi meningkatkan tekanan atau mengganggu fungsi jaringan otak sehingga menimbulkan nyeri kepala yang berat. Meski kejadiannya jauh lebih jarang dibandingkan sakit kepala tegang atau migrain, kondisi ini tidak boleh diabaikan karena dapat mengancam jiwa.

Selain nyeri kepala, penderita biasanya mengalami gejala neurologis lain seperti demam tinggi, leher kaku, gangguan penglihatan, kesulitan berbicara, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kejang, atau penurunan kesadaran. Munculnya kombinasi gejala tersebut merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis secepat mungkin agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Kondisi serius yang dapat menyebabkan sakit kepala belakang meliputi:

  • Stroke.
  • Perdarahan otak.
  • Aneurisma otak.
  • Meningitis.
  • Tumor otak.
  • Diseksi arteri vertebralis.

Tanda bahaya yang harus segera diperiksakan ke dokter:

  • Sakit kepala muncul tiba-tiba dan sangat hebat.
  • Demam tinggi disertai leher kaku.
  • Gangguan penglihatan atau bicara.
  • Mati rasa pada wajah atau anggota tubuh.
  • Kejang.
  • Penurunan kesadaran.
  • Sulit berjalan atau kehilangan keseimbangan.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa penyebab sakit kepala belakang yang paling sering terjadi?

Menurut Mayo Clinic, penyebab yang paling umum adalah tension-type headache atau sakit kepala tegang akibat stres, kelelahan, kurang tidur, dan ketegangan otot leher maupun bahu.

2. Apakah sakit kepala belakang selalu menandakan tekanan darah tinggi?

Tidak. American Heart Association (AHA) menjelaskan bahwa hipertensi biasanya tidak menimbulkan gejala. Sakit kepala umumnya baru muncul ketika terjadi krisis hipertensi dengan tekanan darah yang sangat tinggi.

3. Kapan sakit kepala belakang harus diperiksakan ke dokter?

Segera periksakan diri apabila sakit kepala muncul mendadak dan sangat hebat, disertai demam tinggi, leher kaku, gangguan penglihatan, kelemahan anggota tubuh, kejang, atau penurunan kesadaran.

4. Apakah postur tubuh yang buruk bisa menyebabkan sakit kepala belakang?

Ya. postur tubuh yang buruk dapat menyebabkan otot leher tegang sehingga memicu nyeri yang menjalar hingga ke bagian belakang kepala.

(Awan)