Skip to content

Sering Multitasking, Benarkah Bisa Membuat Otak Lebih Cepat Lelah?

Membalas pesan sambil mengikuti rapat online, berpindah dari dokumen kerja ke email, lalu mengecek notifikasi sebelum kembali mengerjakan laporan mungkin sudah terasa seperti rutinitas biasa. Bahkan, kemampuan melakukan banyak hal dalam waktu berdekatan sering dianggap sebagai tanda seseorang produktif dan mampu bekerja dengan cepat.

Namun, apa yang terasa seperti mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus sebenarnya dapat membuat perhatian harus terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Jika berlangsung terlalu sering, proses ini bisa menambah beban mental dan membuat seseorang merasa lebih cepat lelah meskipun pekerjaan yang dilakukan tidak terlalu menguras tenaga secara fisik. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Rabu (2/9), berikut penjelasan mengenai hubungan multitasking dengan kelelahan otak.

Benarkah Multitasking Bisa Membuat Otak Lebih Cepat Lelah?

Jawaban singkatnya, bisa. Namun, kondisi tersebut bukan berarti otak mengalami kerusakan setiap kali seseorang melakukan dua aktivitas dalam waktu berdekatan. Kelelahan yang muncul lebih berkaitan dengan banyaknya usaha kognitif yang diperlukan untuk mengatur perhatian, mengingat posisi terakhir suatu pekerjaan, serta menyesuaikan kembali pikiran ketika berpindah tugas.

American Psychological Association menjelaskan bahwa ketika seseorang berpindah antara beberapa tugas, otak perlu melakukan proses yang disebut goal shifting dan rule activation. Sederhananya, pikiran harus menentukan bahwa perhatian akan dialihkan ke pekerjaan lain, kemudian menonaktifkan aturan yang digunakan pada tugas sebelumnya dan mengaktifkan aturan yang dibutuhkan untuk tugas baru. Proses tersebut menimbulkan switching cost, yaitu tambahan waktu dan usaha mental setiap kali perhatian berpindah.

Satu kali perpindahan mungkin terasa sangat kecil. Masalahnya muncul ketika proses tersebut terjadi puluhan bahkan ratusan kali sepanjang hari. Seseorang bisa saja berpindah dari dokumen ke WhatsApp, membuka email, kembali menulis, mengecek media sosial, lalu mencoba mengingat kembali kalimat yang hendak diselesaikannya. Setiap perpindahan membutuhkan proses orientasi ulang, sehingga energi mental yang digunakan dapat bertambah tanpa terlalu disadari.

Kebanyakan Multitasking Sebenarnya Adalah Task Switching

Istilah multitasking sering memberikan kesan bahwa otak dapat mengerjakan dua pekerjaan kompleks secara bersamaan dengan kapasitas penuh. Dalam banyak situasi sehari-hari, yang sebenarnya terjadi justru bukan pemrosesan dua pekerjaan secara sejajar, melainkan perhatian yang berganti dengan sangat cepat.

Melansir dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pada kebanyakan orang, aktivitas yang disebut multitasking lebih tepat digambarkan sebagai task switching. Ketika dua aktivitas sama-sama membutuhkan perhatian aktif, otak harus berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya. Perpindahan yang terus terjadi dapat membuat pekerjaan menjadi kurang efisien dan meningkatkan kemungkinan melakukan kesalahan.

Bayangkan seseorang sedang menyusun artikel yang membutuhkan konsentrasi. Ketika notifikasi pesan masuk, perhatian beralih untuk membaca dan membalasnya. Setelah kembali ke artikel, ia tidak selalu dapat langsung melanjutkan dari titik sebelumnya. Pikiran mungkin perlu mengingat kembali struktur tulisan, ide yang sedang dikembangkan, atau kalimat yang hendak dibuat.

Proses mengembalikan konteks tersebut merupakan salah satu alasan mengapa seseorang dapat merasa sudah bekerja terus-menerus tetapi hasil yang selesai terasa tidak sebanyak yang diperkirakan. Energi mental tidak hanya digunakan untuk mengerjakan tugas, tetapi juga untuk berulang kali membangun kembali konteks pekerjaan yang sempat terputus.

Mengapa Sering Berpindah Tugas Terasa Melelahkan?

Kelelahan setelah multitasking tidak selalu terasa seperti rasa kantuk. Pada beberapa orang, efeknya justru muncul dalam bentuk sulit mempertahankan perhatian, semakin lambat mengambil keputusan sederhana, mudah kehilangan alur pemikiran, atau mulai melakukan kesalahan kecil menjelang akhir hari.

Mayo Clinic News Network pernah membahas bahwa kebiasaan multitasking dapat membuat otak merasa lebih lelah, meningkatkan risiko kesalahan, mengurangi kemampuan melakukan suatu tugas secara optimal, sekaligus meningkatkan stres. Efeknya menjadi lebih mudah terasa ketika pekerjaan yang dilakukan membutuhkan banyak konsentrasi dan perpindahan perhatian terjadi terus-menerus.

Ada pula faktor working memory atau memori kerja. Sistem ini dapat dibayangkan sebagai ruang kerja sementara yang digunakan otak untuk mempertahankan informasi yang sedang diperlukan. Saat menulis laporan, misalnya, seseorang mungkin sedang mengingat data tertentu, tujuan paragraf, kalimat sebelumnya, serta informasi yang harus dimasukkan berikutnya.

Ketika perhatian tiba-tiba berpindah ke tugas lain, sebagian konteks tersebut harus dipertahankan atau dibangun kembali setelah kembali bekerja. Semakin banyak informasi yang perlu dijaga sekaligus, semakin besar pula tuntutan mental yang harus ditanggung selama aktivitas tersebut.

Apakah Sering Multitasking Berarti Bisa Merusak Otak?

Di sinilah istilah seperti “multitasking melemahkan otak” perlu digunakan dengan hati-hati. Ada perbedaan besar antara mengatakan multitasking dapat menimbulkan kelelahan mental dan mengatakan kebiasaan tersebut menyebabkan kerusakan otak permanen.

Penelitian yang banyak dibahas mengenai multitasking umumnya menunjukkan hubungan dengan perhatian, efisiensi, memori kerja, stres, kecepatan menyelesaikan pekerjaan, serta kemungkinan melakukan kesalahan. Temuan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa multitasking sehari-hari membuat jaringan otak mengalami kerusakan permanen.

Stanford Report pernah melaporkan penelitian terhadap heavy media multitaskers, yakni orang yang terbiasa menerima beberapa aliran informasi elektronik sekaligus. Dalam serangkaian tes, kelompok tersebut menunjukkan performa yang lebih buruk dalam menyaring informasi yang tidak relevan, mengendalikan informasi dalam memori, serta berpindah antara tugas dibanding kelompok yang tidak terlalu sering melakukan media multitasking. Namun, temuan seperti ini tetap perlu dibedakan dari klaim bahwa multitasking secara langsung menyebabkan kerusakan struktur otak.

Jadi, jika setelah seharian berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain seseorang merasa pikirannya penuh atau sulit berkonsentrasi, kondisi tersebut tidak otomatis berarti otaknya rusak. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah sistem perhatian telah digunakan secara intensif dan membutuhkan kesempatan untuk mengurangi beban serta beristirahat.

Tidak Semua Multitasking Memiliki Beban Mental yang Sama

Mengerjakan dua kegiatan sekaligus tidak selalu memberikan beban yang sama. Ada perbedaan besar antara mendengarkan musik sambil berjalan dengan mencoba menulis laporan sambil mengikuti rapat penting.

Aktivitas yang sudah sangat familiar dan membutuhkan sedikit perhatian sadar biasanya lebih mudah dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain. Melipat pakaian sambil mendengarkan podcast, misalnya, kemungkinan tidak memberikan tuntutan perhatian sebesar menulis presentasi sambil membaca percakapan grup kerja.

Sebaliknya, masalah lebih mudah muncul ketika kedua aktivitas sama-sama membutuhkan proses berpikir aktif. Membaca laporan sambil mengikuti penjelasan penting dalam rapat dapat membuat dua aktivitas tersebut saling berebut perhatian. Akibatnya, seseorang mungkin melewatkan informasi ketika membaca sekaligus tidak memahami seluruh penjelasan yang sedang didengarkan.

Risiko juga berubah ketika aktivitas menyangkut keselamatan. Mengemudi, mengoperasikan mesin, atau menjalankan pekerjaan yang membutuhkan perhatian penuh bukan situasi yang tepat untuk mencoba membagi fokus dengan percakapan digital atau aktivitas lain yang mengalihkan perhatian.

Tanda Beban Multitasking Sudah Mulai Terlalu Tinggi

Tidak ada satu tanda khusus yang membuktikan seseorang mengalami “kelelahan otak karena multitasking”. Namun, pola tertentu dapat menjadi petunjuk bahwa perhatian sudah terlalu sering terbagi sepanjang hari.

Beberapa hal yang bisa diperhatikan antara lain:

  1. Sering kehilangan alur pemikiran
    Setelah berpindah aplikasi atau membalas pesan, seseorang membutuhkan beberapa saat untuk mengingat apa yang sebelumnya sedang dipikirkan.
  2. Pekerjaan sederhana terasa semakin lambat
    Tugas yang biasanya mudah diselesaikan mulai membutuhkan waktu lebih panjang karena perhatian sulit bertahan pada satu aktivitas.
  3. Lebih sering melakukan kesalahan kecil
    Salah mengetik, lupa menyimpan dokumen, melewatkan detail, atau membaca informasi yang sama berulang kali dapat lebih mudah muncul ketika pikiran mulai lelah.
  4. Sulit menyelesaikan satu pekerjaan sampai tuntas
    Banyak pekerjaan sudah dimulai, tetapi hanya sedikit yang benar-benar selesai karena perhatian terus tertarik pada tugas berikutnya.
  5. Merasa sibuk sepanjang hari tetapi progres sedikit
    Waktu banyak digunakan untuk merespons berbagai hal kecil sehingga pekerjaan utama justru terus tertunda.
  6. Semakin mudah terdistraksi
    Notifikasi kecil, suara, atau keinginan membuka aplikasi lain mulai cukup untuk memutus konsentrasi.
  7. Merasa mental penuh setelah bekerja
    Tubuh mungkin tidak melakukan aktivitas berat, tetapi pikiran terasa jenuh dan sulit digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi mendalam.

Tanda-tanda tersebut tetap tidak spesifik terhadap multitasking. Kurang tidur, stres, kondisi kesehatan tertentu, lingkungan kerja, beban pekerjaan, hingga masalah emosional juga dapat memengaruhi kemampuan berkonsentrasi dan tingkat energi seseorang.

Cara Mengurangi Kelelahan Otak akibat Multitasking

Menghindari seluruh bentuk multitasking mungkin tidak realistis. Pesan tetap harus dibalas, email tetap datang, dan perubahan prioritas merupakan bagian dari pekerjaan sehari-hari. Strategi yang lebih masuk akal adalah mengurangi perpindahan perhatian yang sebenarnya tidak diperlukan.

Harvard Health Publishing menyarankan pendekatan monotasking, yaitu memberikan perhatian pada satu pekerjaan terlebih dahulu daripada terus membagi fokus. Pendekatan tersebut dapat mengurangi beban pada memori kerja dan membuat seseorang lebih tahan terhadap gangguan selama menyelesaikan pekerjaan.

Beberapa cara yang dapat dicoba antara lain:

  1. Kerjakan tugas berat satu per satuPekerjaan yang membutuhkan analisis, menulis, membaca mendalam, menghitung, atau mengambil keputusan sebaiknya mendapatkan waktu khusus tanpa aktivitas lain yang sama-sama membutuhkan konsentrasi.
  2. Kelompokkan pekerjaan kecilDaripada membuka email setiap beberapa menit, tentukan periode tertentu untuk memeriksa dan membalas pesan. Cara ini mengurangi jumlah perpindahan antara pekerjaan utama dan komunikasi rutin.
  3. Kurangi notifikasi yang tidak mendesakTidak semua pemberitahuan membutuhkan respons seketika. Mematikan notifikasi aplikasi tertentu selama bekerja dapat mengurangi gangguan yang memicu perpindahan perhatian tanpa disadari.
  4. Gunakan blok waktu untuk fokusSeseorang dapat menetapkan periode tertentu untuk melakukan satu pekerjaan, kemudian mengambil jeda sebelum berpindah. Durasi tidak harus sama untuk semua orang; sesuaikan dengan tingkat konsentrasi dan karakter pekerjaan.
  5. Tuliskan pekerjaan yang muncul di tengah aktivitasKetika tiba-tiba teringat pekerjaan lain, tidak selalu perlu langsung mengerjakannya. Catat tugas tersebut pada daftar sementara, kemudian kembali ke pekerjaan utama. Dengan begitu, pikiran tidak harus terus mengingatnya sekaligus tidak perlu kehilangan fokus.
  6. Berikan jeda setelah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggiBerjalan sebentar, minum air, melakukan peregangan, atau berhenti melihat layar selama beberapa menit dapat memberikan perubahan ritme setelah perhatian digunakan secara intensif.
  7. Bedakan pekerjaan penting dengan pekerjaan yang hanya terasa mendesakBanyak gangguan digital memberikan kesan seolah harus segera ditangani. Padahal, pesan atau notifikasi tertentu sebenarnya masih dapat menunggu sampai pekerjaan utama selesai.

Multitasking tidak perlu diperlakukan sebagai kebiasaan yang selalu buruk. Kuncinya adalah mengetahui kapan dua aktivitas masih dapat dilakukan secara bersamaan dan kapan sebuah pekerjaan membutuhkan perhatian penuh. Semakin kompleks tugas yang dikerjakan, semakin besar manfaat yang bisa diperoleh dengan mengurangi perpindahan perhatian yang tidak perlu.

Pertanyaan dan Jawaban

  1. Apakah multitasking membuat IQ menurun?

Belum tepat menyimpulkan bahwa multitasking sehari-hari secara permanen menurunkan IQ. Namun, membagi perhatian dapat membuat performa pada tugas tertentu menurun ketika seseorang sedang melakukannya.

  1. Apakah mendengarkan musik sambil bekerja termasuk multitasking?

Ya, tetapi bebannya bergantung pada jenis pekerjaan dan musik yang didengarkan. Aktivitas sederhana biasanya lebih mudah dipadukan dibanding pekerjaan yang membutuhkan pemahaman atau konsentrasi tinggi.

  1. Bagaimana jika sulit fokus meski sudah berhenti multitasking?

Kesulitan konsentrasi dapat dipengaruhi banyak faktor seperti kurang tidur, stres, kelelahan, obat-obatan, atau kondisi kesehatan. Jika perubahan kemampuan fokus muncul tiba-tiba, berlangsung lama, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan ke tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan.