Skip to content

Tepung Ubi Bisa Padamkan Api? Begini Cara Kerja Teknologi yang Dilirik untuk Karhutla

Kabar mengenai rencana pengembangan teknologi berbahan tepung ubi untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menarik perhatian karena bahan tersebut selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan.

Sekilas, penggunaan tepung untuk menghadapi api memang terdengar tidak biasa. Tepung merupakan bahan organik yang pada kondisi tertentu justru dapat terbakar, terutama ketika partikelnya sangat halus dan tersebar di udara.

Lantas, bagaimana bahan berbasis ubi justru dapat dikembangkan sebagai bagian dari teknologi pemadam api?

Jawabannya tidak sesederhana menaburkan tepung ke sumber api. Dalam teknologi yang sedang dikembangkan, bahan berbasis ubi perlu diformulasikan sedemikian rupa sehingga memiliki karakteristik yang dapat membantu mengendalikan api. Karena itu, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “tepung ubi” dalam teknologi tersebut dan bagaimana sebenarnya cara kerjanya.

Di balik kabar mengenai pengembangan teknologi ini, terdapat penjelasan ilmiah yang menarik mengenai pati, air, panas, dan material pembentuk lapisan pelindung. Memahami mekanismenya juga dapat membantu melihat sejauh mana teknologi berbasis tepung ubi berpotensi digunakan dalam penanganan karhutla.

Memahami Cara Kerja Teknologi yang Dilirik untuk Karhutla

Tepung yang beterbangan di udara bukanlah bahan yang aman untuk didekatkan dengan api. Dalam kondisi tertentu, partikel tepung yang sangat halus bahkan dapat menyala dengan cepat dan menimbulkan ledakan debu. Occupational Safety and Health Administration (OSHA) Amerika Serikat memasukkan tepung dan pati atau starch ke dalam kelompok bahan yang dapat membentuk combustible dust, terutama ketika partikelnya tersuspensi di udara dalam konsentrasi tertentu dan bertemu sumber penyalaan.

Namun, fakta tersebut ternyata tidak menutup kemungkinan bagi bahan berbasis tepung atau pati untuk dikembangkan sebagai bagian dari teknologi pemadam dan penghambat api. Sejumlah penelitian internasional memanfaatkan pati jagung, pati gandum, hingga polimer alami turunan karbohidrat sebagai bahan pembentuk hidrogel, pelapis tahan api, atau matriks pembawa senyawa pemadam. Kuncinya terletak pada satu hal: bahan yang diteliti bukan tepung kering yang dilemparkan langsung ke api, melainkan pati yang telah diformulasikan bersama air atau bahan lain sehingga sifat fisik dan responsnya terhadap panas berubah.

Mengapa Tepung Justru Bisa Terbakar?

Tepung tersusun terutama dari senyawa organik yang menyimpan energi kimia, termasuk karbohidrat. Dalam bentuk tumpukan padat, pembakarannya mungkin tidak terlihat terlalu dramatis karena hanya permukaan yang memiliki kontak langsung dengan oksigen. Kondisinya berubah ketika tepung menjadi debu sangat halus dan tersebar di udara.

Ukuran partikel yang kecil membuat luas permukaan bahan yang bersentuhan dengan oksigen meningkat drastis. Ketika terdapat sumber panas atau percikan yang cukup, banyak partikel dapat terbakar hampir bersamaan. Proses pembakaran kemudian berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan ketika bahan berada dalam bentuk massa padat.

OSHA menjelaskan bahwa material mudah terbakar dapat terbakar sangat cepat ketika berada dalam bentuk partikel halus. Tepung, pati, gula, rempah, kayu, serta sejumlah bahan organik lainnya termasuk contoh material yang dapat menghasilkan debu mudah terbakar. Jika awan debu berada pada konsentrasi yang tepat dan tersedia oksigen serta sumber penyalaan, kondisi tersebut bahkan dapat berkembang menjadi deflagrasi atau ledakan.

Penelitian Pemadam Api Sebenarnya Lebih Banyak Memanfaatkan Pati, Bukan Tepung Kering Biasa

Istilah “tepung” dalam pembahasan populer mengenai teknologi pemadam api perlu dipahami dengan hati-hati. Dalam penelitian material, bahan yang banyak dimanfaatkan umumnya adalah starch atau pati, yaitu salah satu komponen utama yang dapat diperoleh dari jagung, gandum, kentang, tapioka, dan tanaman berpati lainnya.

Pati memiliki karakter yang menarik untuk direkayasa menjadi material baru karena termasuk polimer alami, mudah dimodifikasi, dan dapat membentuk struktur gel ketika diproses dengan air serta komponen tertentu. Dalam formulasi pemadam atau penghambat api, pati tidak harus menjadi zat aktif utama yang memadamkan nyala. Ia dapat berfungsi sebagai pengental, bahan pembentuk lapisan, matriks pembawa zat penghambat api, atau material yang membantu mempertahankan air pada permukaan.

USDA Agricultural Research Service, misalnya, pernah mengembangkan lapisan eksperimental berbahan sodium bentonite clay, pati jagung, dan air untuk membantu melindungi struktur rumah dari kebakaran semak atau kebakaran hutan. Dalam pengujian awal yang dilaporkan USDA, lapisan gel sekitar seperempat inci pada siding berbahan kayu mampu memberikan perlindungan sementara terhadap paparan api hingga sekitar 30 menit.

Kuncinya Ada pada Kemampuan Membentuk Hidrogel

Salah satu alasan bahan berbasis pati menarik perhatian dalam riset pemadaman kebakaran adalah kemampuannya menjadi bagian dari hidrogel. Hidrogel merupakan jaringan polimer yang dapat menahan air dalam jumlah besar sehingga air tidak langsung mengalir atau menguap secepat ketika disemprotkan begitu saja.

Dalam konteks kebakaran, kemampuan mempertahankan air sangat berguna. Air dapat menyerap energi panas dalam jumlah besar sebelum akhirnya menguap. Ketika air “ditahan” oleh jaringan gel di permukaan bahan yang dilindungi, waktu kontak dengan objek bisa menjadi lebih panjang sehingga proses pendinginan berpotensi berlangsung lebih efektif.

Sebuah tinjauan ilmiah dalam Journal of Sol-Gel Science and Technology membahas pemanfaatan hidrogel sebagai material tahan api serta medium bagi bahan pemadam. Penulis menjelaskan bahwa hidrogel dapat membawa sejumlah besar air sekaligus dikombinasikan dengan senyawa penghambat api lainnya. Penelitian yang dirangkum dalam tinjauan tersebut juga mencakup hidrogel berbasis pati dan biomassa yang digunakan untuk menunda penyalaan serta mengurangi perpindahan panas.

Pati Bisa Membantu Membentuk Lapisan Pelindung saat Terkena Panas

Peran pati dalam teknologi tahan api tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan air. Pada formulasi tertentu, pati juga dapat berkontribusi pada pembentukan lapisan arang atau char ketika terkena suhu tinggi.

Lapisan tersebut dapat bertindak sebagai penghalang antara sumber panas dengan material di bawahnya. Akibatnya, perpindahan panas menuju objek yang ingin dilindungi dapat diperlambat. Mekanisme semacam ini banyak dimanfaatkan pada teknologi flame retardant atau bahan penghambat penyebaran api.

Penelitian yang diterbitkan dalam Biomacromolecules oleh peneliti dari Stony Brook University dan sejumlah institusi lain, misalnya, mengembangkan hidrogel berbasis xanthan gum yang menggunakan pati sebagai pembawa senyawa tahan api resorcinol bis(diphenyl phosphate). Ketika terkena nyala secara langsung, formulasi tersebut membentuk lapisan char tebal dan memberikan perlindungan termal lebih lama dibandingkan beberapa hidrogel pembanding dalam eksperimen mereka.

Ada Juga Penelitian yang Mengubah Pati Menjadi Bahan Tahan Api

Pati dalam bentuk aslinya tetap merupakan material organik yang dapat terbakar. Karena itu, salah satu arah penelitian yang berkembang adalah memodifikasi struktur kimianya atau menggabungkannya dengan senyawa lain agar perilakunya terhadap api berubah.

Sebuah penelitian di Polymer Degradation and Stability pada 2025, misalnya, menggunakan pati jagung dan asam fitat untuk menghasilkan bahan tahan api berbasis hayati yang kemudian diaplikasikan dalam sistem pelapis kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi tersebut membantu menekan pelepasan panas dan produksi asap ketika diuji menggunakan metode kalorimetri.

Studi lainnya juga menempatkan pati sebagai sumber karbon pada sistem intumescent flame retardant. Dalam sistem seperti ini, material dirancang untuk membentuk lapisan karbon pelindung ketika menerima panas. Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Polymers menjelaskan bahwa kemampuan pati membentuk arang membuatnya berpotensi menjadi agen karbonisasi ketika dipadukan dengan sumber asam yang sesuai.

Jadi, Bagaimana Bahan Berbasis Pati Membantu Melawan Api?

Cara kerjanya sangat bergantung pada formulasi. Tidak ada satu mekanisme tunggal yang berlaku untuk seluruh bahan berbasis pati. Dalam beberapa teknologi hidrogel, manfaat utamanya berasal dari air yang terperangkap di dalam struktur gel sehingga proses pendinginan berlangsung lebih lama.

Pada formulasi lain, pati bertugas membantu material menempel pada permukaan. Hal ini penting dalam kebakaran struktur maupun kebakaran vegetasi karena air biasa dapat segera menetes atau mengalir setelah disemprotkan. Gel yang lebih kental dapat bertahan lebih lama pada kayu, dinding, tanaman, atau material lain yang hendak dilindungi.

Sementara itu, pada sistem flame retardant yang lebih kompleks, pati bisa menjadi bagian dari mekanisme pembentukan char, penghalang panas, atau matriks pembawa senyawa aktif. Karena itulah istilah “pemadam api dari tepung” sebenarnya terlalu menyederhanakan teknologi yang sedang diteliti. Yang dimanfaatkan adalah sifat kimia dan fisik pati setelah direkayasa menjadi sistem material tertentu.

Potensinya Menarik karena Berasal dari Bahan yang Relatif Melimpah

Salah satu alasan polimer alami seperti pati banyak diteliti adalah ketersediaannya. Pati dapat diperoleh dari berbagai sumber pertanian dan tergolong material berbasis hayati. Hal ini membuka peluang untuk menghasilkan sebagian komponen material pemadam atau tahan api dari sumber terbarukan.

Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya penelitian terhadap material pemadam yang lebih ramah lingkungan. Sebuah tinjauan tahun 2025 dalam Advanced Engineering Materials mencatat bahwa inovasi material untuk menghadapi kebakaran hutan telah berkembang dari larutan kimia konvensional menuju polimer penambah kemampuan air dan hidrogel yang dapat digunakan baik untuk pemadaman langsung maupun pencegahan jangka lebih panjang.

Meski demikian, label “berbasis alami” tidak otomatis berarti suatu material pasti aman untuk lingkungan dalam segala kondisi. Formulasi akhir dapat mengandung polimer sintetis, garam, mineral, atau zat penghambat api lain. Karena itu, efektivitas pemadaman, toksisitas, biodegradabilitas, stabilitas penyimpanan, dan dampak ekologis tetap harus diuji secara terpisah.

Bukan Berarti Tepung Dapur Bisa Dipakai Memadamkan Kebakaran

Perbedaan ini merupakan bagian terpenting dari pembahasan. Penelitian mengenai pati sebagai komponen hidrogel atau bahan tahan api tidak boleh diterjemahkan menjadi anjuran untuk menaburkan tepung dapur pada api.

Tepung kering yang tersebar ke udara justru dapat menghasilkan awan debu mudah terbakar. OSHA secara eksplisit memasukkan tepung dan berbagai jenis pati, termasuk pati jagung, gandum, serta beras, ke dalam kelompok material yang memiliki potensi bahaya debu mudah terbakar.

Dengan kata lain, sifat suatu bahan dapat berubah drastis bergantung pada bentuk dan cara penggunaannya. Pati kering yang tersuspensi di udara dapat menjadi bahan bakar, sementara pati yang diolah menjadi hidrogel penuh air atau dimodifikasi bersama bahan penghambat api dapat membantu memperlambat pembakaran. Konteks formulasi inilah yang menjelaskan mengapa dua pernyataan yang sekilas bertentangan tersebut sebenarnya sama-sama benar.

Teknologi Berbasis Pati Masih Harus Melalui Pengujian Ketat

Bahan pemadam kebakaran tidak cukup dinilai hanya dari kemampuannya membuat nyala api padam. Para peneliti juga perlu melihat seberapa cepat temperatur turun, apakah api mudah menyala kembali, seberapa jauh material dapat disemprotkan, bagaimana stabilitas penyimpanannya, apakah formulasi menyumbat peralatan, serta apakah terdapat dampak terhadap manusia maupun lingkungan.

Skala pengujian juga berpengaruh. Formulasi yang efektif pada sampel kayu kecil di laboratorium belum tentu memberikan performa yang sama ketika digunakan menghadapi kebakaran bangunan atau kebakaran hutan dalam kondisi angin, suhu tinggi, serta medan terbuka.

Karena itu, riset mengenai pati dan hidrogel lebih tepat dipandang sebagai bagian dari upaya mencari material pemadam dan penghambat api generasi berikutnya. Temuannya menjanjikan, tetapi tidak berarti tepung biasa akan menggantikan alat pemadam api standar dalam waktu dekat.

Pertanyaan dan Jawaban

  1. Apakah tepung bisa terbakar?

Bisa. Tepung merupakan bahan organik, dan partikel tepung yang sangat halus bahkan dapat terbakar cepat ketika tersuspensi di udara dan bertemu sumber penyalaan.

  1. Apakah tepung bisa meledak?

Awan debu tepung pada konsentrasi tertentu dapat mengalami deflagrasi atau ledakan jika terdapat oksigen, sumber penyalaan, dispersi debu, dan kondisi pendukung lainnya.

  1. Mengapa pati bisa digunakan dalam penelitian pemadam api?

Pati dapat diolah menjadi hidrogel, bahan pengental, pembentuk lapisan, atau matriks pembawa zat tahan api sehingga dapat membantu mempertahankan air dan memperlambat perpindahan panas.

  1. Apakah tepung jagung aman digunakan untuk memadamkan api di dapur?

Tidak. Jangan menaburkan tepung atau pati kering ke api karena debunya dapat terbakar dan memperburuk situasi.

  1. Apakah hidrogel akan menggantikan air untuk memadamkan kebakaran?

Belum tentu. Hidrogel lebih tepat dipandang sebagai teknologi yang dapat meningkatkan kemampuan air atau memberikan perlindungan tambahan pada aplikasi tertentu, bukan pengganti universal semua metode pemadaman.