Skip to content

Sering Lupa Minum Air Putih, Apa Dampaknya bagi Tubuh?

Lupa minum air putih sesekali mungkin terlihat sepele, terutama ketika sedang sibuk bekerja, berada di perjalanan, atau terlalu fokus menyelesaikan aktivitas. Masalahnya, tubuh tetap kehilangan cairan melalui urine, keringat, pernapasan, dan proses tubuh lainnya meskipun rasa haus belum terasa begitu kuat. Jika cairan yang masuk terus lebih sedikit dibandingkan yang keluar, tubuh perlahan dapat mengalami dehidrasi.

Dampaknya juga tidak selalu langsung berupa rasa haus yang ekstrem. Tubuh bisa lebih dulu memberikan tanda seperti mudah lelah, pusing, sulit berkonsentrasi, mulut terasa kering, hingga warna urine menjadi lebih pekat. Karena itu, kebiasaan lupa minum sebaiknya tidak dianggap remeh, terlebih jika terjadi hampir setiap hari. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Kamis (17/9), berikut berbagai dampak yang dapat muncul ketika tubuh terlalu sering kekurangan cairan.

Apa yang Terjadi ketika Tubuh Kurang Mendapatkan Cairan?

Air memiliki peran penting dalam berbagai fungsi tubuh, mulai dari membantu mengatur suhu, membawa zat gizi, melumasi jaringan, hingga membantu pembuangan sisa metabolisme. Ketika asupan cairan tidak mampu menggantikan cairan yang hilang, keseimbangan tersebut mulai terganggu dan kondisi ini dikenal sebagai dehidrasi.

Menurut Mayo Clinic, dehidrasi terjadi ketika tubuh menggunakan atau kehilangan cairan lebih banyak daripada jumlah yang masuk. Pada tahap ringan hingga sedang, kondisi tersebut biasanya dapat membaik setelah kebutuhan cairan terpenuhi, sedangkan dehidrasi berat membutuhkan penanganan medis karena dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Menunggu sampai tubuh merasa sangat haus juga bukan selalu strategi terbaik. Rasa haus memang menjadi salah satu mekanisme alami tubuh untuk meminta cairan, tetapi respons tersebut dapat berbeda pada setiap orang. Pada lansia, misalnya, rasa haus dapat menjadi kurang sensitif sehingga kekurangan cairan bisa berkembang sebelum seseorang menyadarinya.

Baca Juga: 5 Manfaat Minum Air Hangat di Pagi Hari, Kebiasaan Sederhana yang Berdampak Besar bagi Tubuh

1. Tubuh Lebih Mudah Merasa Lelah dan Lemas

Salah satu keluhan yang cukup mudah muncul ketika kurang minum adalah rasa lelah. Cairan dibutuhkan untuk mempertahankan berbagai proses fisiologis tubuh, sehingga ketika volumenya berkurang, tubuh harus bekerja lebih keras untuk menjaga fungsi normal. Aktivitas yang sebelumnya terasa biasa pun bisa terasa lebih berat.

Kondisi ini dapat semakin terasa ketika seseorang berada di lingkungan panas, banyak berkeringat, berolahraga, atau melakukan pekerjaan fisik. Cairan yang hilang melalui keringat harus diganti, sehingga kebiasaan lupa minum pada situasi tersebut meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kekurangan cairan lebih cepat.

Lelah akibat dehidrasi juga dapat terjadi bersamaan dengan mulut kering, rasa haus, urine yang semakin sedikit, atau kepala terasa ringan. Karena penyebab lelah sangat beragam, keluhan yang berlangsung lama meskipun asupan cairan sudah cukup tetap sebaiknya tidak langsung dianggap semata-mata akibat kurang minum.

2. Kepala Bisa Terasa Pusing dan Sulit Berkonsentrasi

Kurang minum bukan hanya berdampak pada kondisi fisik. Konsentrasi dan kenyamanan saat berpikir juga dapat terganggu ketika tubuh tidak mendapatkan cairan yang cukup. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seseorang yang seharian sibuk di depan komputer tetapi jarang minum terkadang mulai merasa sulit fokus pada sore hari.

CDC menjelaskan bahwa mendapatkan cukup air setiap hari membantu tubuh berfungsi dengan normal. Kekurangan cairan hingga menyebabkan dehidrasi dapat berkaitan dengan pikiran yang kurang jernih dan perubahan suasana hati, selain masalah lain seperti tubuh terlalu panas, konstipasi, dan batu ginjal.

Efeknya tentu tidak sama pada setiap orang dan sulit berkonsentrasi tidak selalu berarti seseorang mengalami dehidrasi. Kurang tidur, stres, lapar, penggunaan obat tertentu, hingga berbagai kondisi kesehatan juga bisa menimbulkan keluhan serupa. Namun, jika kesulitan fokus muncul setelah berjam-jam hampir tidak minum, memenuhi kebutuhan cairan menjadi langkah sederhana yang layak diperhatikan.

3. Urine Menjadi Lebih Pekat dan Frekuensi Buang Air Kecil Berkurang

Perubahan urine termasuk tanda yang cukup mudah diamati ketika tubuh mulai kekurangan cairan. Tubuh berusaha mempertahankan air sehingga jumlah urine dapat berkurang dan warnanya menjadi lebih pekat dibandingkan biasanya.

NHS mencantumkan urine berwarna kuning gelap dan berbau kuat, buang air kecil lebih jarang, rasa haus, pusing, kelelahan, serta mulut, bibir, dan lidah kering sebagai beberapa tanda dehidrasi pada orang dewasa maupun anak-anak.

Meski demikian, warna urine bukan alat diagnosis yang sempurna. Beberapa makanan, vitamin, obat, atau kondisi kesehatan juga dapat mengubah warnanya. Jika perubahan urine terjadi terus-menerus, disertai nyeri saat buang air kecil, darah dalam urine, demam, atau keluhan lain yang tidak biasa, pemeriksaan medis lebih tepat daripada sekadar meningkatkan jumlah air minum.

4. Risiko Masalah Batu Ginjal Dapat Meningkat

Ginjal membutuhkan cairan untuk membantu membuang zat sisa melalui urine. Ketika cairan yang dikonsumsi terlalu sedikit, urine menjadi lebih terkonsentrasi sehingga mineral yang terkandung di dalamnya lebih mudah mencapai konsentrasi tinggi.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebut minum cukup cairan sebagai salah satu langkah utama untuk membantu mencegah sebagian besar jenis batu ginjal. Cairan yang cukup membantu menjaga urine tetap lebih encer dan membantu mengeluarkan mineral yang berpotensi membentuk batu.

Bukan berarti setiap orang yang lupa minum sesekali pasti akan mengalami batu ginjal. Pembentukan batu dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, kondisi medis, riwayat keluarga, serta jenis batu yang pernah dialami. Namun, kebiasaan terus-menerus minum terlalu sedikit merupakan kebiasaan yang sebaiknya diperbaiki, terlebih pada orang yang sebelumnya pernah mengalami batu ginjal.

5. Buang Air Besar Bisa Menjadi Lebih Sulit

Cairan turut membantu menjaga konsistensi feses sehingga lebih mudah bergerak melalui saluran pencernaan. Ketika asupan cairan rendah, terutama jika pola makan juga minim serat, sebagian orang dapat mengalami feses yang lebih keras dan menjadi lebih sulit buang air besar.

Itulah sebabnya kebiasaan minum air biasanya menjadi salah satu aspek yang diperhatikan ketika seseorang sedang memperbaiki pola buang air besar. Namun, kebutuhan cairan tetap perlu berjalan bersama pola makan yang cukup serat, aktivitas fisik, serta kebiasaan tidak menahan keinginan buang air besar.

Konstipasi juga mempunyai banyak kemungkinan penyebab lain, termasuk perubahan pola makan, kurang bergerak, obat-obatan tertentu, gangguan pada saluran pencernaan, dan kondisi medis lainnya. Jika sembelit berlangsung lama, sering berulang, atau disertai darah pada feses, penurunan berat badan tanpa sebab, dan nyeri berat, keluhan tersebut sebaiknya diperiksakan.

6. Tubuh Lebih Sulit Menghadapi Cuaca Panas dan Aktivitas Fisik

Salah satu fungsi penting air adalah membantu tubuh menjaga suhu normal. Saat suhu lingkungan meningkat atau tubuh melakukan aktivitas fisik, produksi keringat meningkat sebagai bagian dari proses pendinginan alami.

Jika cairan yang hilang melalui keringat tidak diganti, kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan cairan dapat terganggu. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh terasa semakin lemah, pusing, atau tidak nyaman selama berada di tempat panas.

Risikonya menjadi lebih besar ketika seseorang melakukan olahraga berat di cuaca panas, bekerja di luar ruangan, mengalami demam, atau berkeringat dalam jumlah banyak. Pada situasi seperti ini, kebutuhan cairan dapat meningkat dibandingkan pada hari ketika aktivitas lebih ringan dan suhu lingkungan lebih sejuk.

7. Dehidrasi Berat Bisa Menjadi Kondisi Serius

Lupa minum beberapa jam tentu berbeda dengan kehilangan cairan dalam jumlah besar akibat muntah, diare, demam tinggi, olahraga berat, atau paparan panas berkepanjangan. Ketika cairan tubuh menurun secara signifikan, dehidrasi dapat berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan pertolongan medis.

Tanda yang perlu mendapatkan perhatian antara lain kebingungan, rasa lemas yang berat, pusing yang tidak membaik, sangat sedikit atau tidak buang air kecil, tidak mampu mempertahankan cairan karena terus muntah, atau penurunan kesadaran. Bayi, anak kecil, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu dapat lebih rentan terhadap dampak kekurangan cairan.

Dehidrasi berat tidak cukup diatasi hanya dengan memaksakan minum air biasa di rumah apabila seseorang sudah menunjukkan tanda kegawatan. Pada kondisi tertentu, cairan dan elektrolit perlu diberikan melalui penanganan medis agar keseimbangan tubuh dapat dipulihkan dengan aman.

Baca Juga: 5 Manfaat minum air putih setelah bangun tidur, menjaga berat badan

Berapa Banyak Air yang Dibutuhkan Tubuh Setiap Hari?

Tidak ada satu angka kebutuhan air yang tepat untuk setiap orang. Kebutuhan dipengaruhi usia, ukuran tubuh, jenis kelamin, kehamilan atau menyusui, aktivitas fisik, suhu lingkungan, kondisi kesehatan, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi.

European Food Safety Authority (EFSA) menetapkan adequate intake untuk total air sekitar 2 liter per hari bagi perempuan dewasa dan 2,5 liter bagi laki-laki dewasa dalam kondisi aktivitas dan suhu lingkungan sedang. Angka ini merupakan total asupan air, termasuk air yang berasal dari minuman dan makanan, bukan berarti seseorang harus meminum air putih sebanyak angka tersebut di luar makanan dan minuman lain.

Kebutuhan dapat meningkat ketika seseorang berolahraga, banyak berkeringat, berada di daerah panas, demam, diare, atau muntah. Sebaliknya, beberapa orang dengan gangguan ginjal, jantung, atau kondisi tertentu mungkin mendapat pembatasan cairan dari dokter sehingga anjuran minum umum tidak boleh diterapkan begitu saja.

Cara agar Tidak Mudah Lupa Minum Air Putih

Membentuk kebiasaan minum tidak harus dilakukan dengan meminum banyak air sekaligus. Bagi orang yang sering lupa, strategi yang lebih realistis adalah membuat air mudah terlihat dan menghubungkan waktu minum dengan rutinitas yang sudah dilakukan setiap hari.

Beberapa cara sederhana yang bisa dicoba antara lain:

  • Letakkan botol atau gelas air di meja kerja agar mudah terlihat.
  • Minum setelah bangun tidur dan bersama waktu makan.
  • Bawa botol minum ketika keluar rumah.
  • Minum sebelum, selama, dan setelah beraktivitas fisik sesuai kebutuhan.
  • Gunakan pengingat pada ponsel jika jadwal kerja membuat waktu minum sering terlewat.
  • Tambahkan irisan buah segar apabila air putih terasa terlalu hambar, tanpa harus menambahkan banyak gula.
  • Konsumsi buah dan sayuran yang mengandung banyak air sebagai bagian dari pola makan.
  • Perhatikan rasa haus, kondisi tubuh, serta perubahan frekuensi dan warna urine sebagai petunjuk praktis.

Meminum air dalam jumlah sangat besar sekaligus juga bukan tujuan utama. Lebih nyaman membagi asupan sepanjang hari sesuai rasa haus, aktivitas, cuaca, dan kondisi tubuh daripada menunggu sangat haus kemudian langsung minum berlebihan.

Pertanyaan dan Jawaban

Apakah lupa minum air putih sehari langsung berbahaya?

Tidak selalu. Dampaknya bergantung pada jumlah cairan yang masuk, aktivitas, cuaca, makanan, dan kondisi kesehatan, tetapi kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi jika cairan yang hilang tidak diganti.

Apakah warna urine bisa menunjukkan tubuh kurang minum?

Urine yang semakin pekat dapat menjadi salah satu tanda kurang cairan, tetapi warna urine juga dapat dipengaruhi makanan, vitamin, obat, dan kondisi kesehatan.

Apakah kopi dan teh tetap dihitung sebagai cairan?

Minuman selain air putih tetap menyumbang asupan cairan, meskipun air putih menjadi pilihan sederhana karena tidak mengandung kalori maupun gula tambahan.

Apakah harus minum delapan gelas air setiap hari?

Tidak ada jumlah yang sama untuk semua orang. Kebutuhan cairan berbeda berdasarkan aktivitas, cuaca, kondisi tubuh, makanan, usia, dan faktor kesehatan.

Apakah terlalu banyak minum air juga bisa bermasalah?

Ya. Mengonsumsi air dalam jumlah berlebihan dalam waktu singkat dapat mengganggu keseimbangan elektrolit, sehingga minumlah secara wajar sesuai kebutuhan tubuh.