Skip to content

Ciri Orang yang Selalu Memesan Menu yang Sama, Bukan Karena Takut Hal Baru

Datang ke restoran yang menunya puluhan, membaca daftar makanan cukup lama, tetapi akhirnya tetap memesan nasi goreng, mi, kopi, atau hidangan yang sama seperti kunjungan sebelumnya. Kebiasaan seperti ini cukup umum. Ada orang yang senang menjadikan waktu makan sebagai kesempatan mencoba sesuatu yang baru, sementara yang lain lebih puas ketika sudah tahu persis makanan apa yang akan datang ke meja.

Kebiasaan tersebut tidak bisa digunakan untuk menebak kepribadian seseorang secara mutlak. Pilihan makanan dipengaruhi pengalaman, selera, suasana hati, kondisi saat makan, harga, kesehatan, hingga seberapa familiar seseorang terhadap sebuah hidangan. Meski begitu, sejumlah pola psikologis dan perilaku dapat membantu menjelaskan kenapa seseorang terus kembali pada pilihan yang sama, dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Selasa (8/9).

Baca Juga: Ciri Orang yang Jarang Mengganti Foto Profil di Medsos, Ternyata Bukan Sekadar Malas Update

1. Lebih Nyaman dengan Sesuatu yang Sudah Familiar

Salah satu ciri paling mudah terlihat adalah adanya ketertarikan kuat pada rasa yang sudah dikenal. Ketika seseorang pernah memesan sebuah makanan dan merasa puas, ia sudah memiliki gambaran tentang rasa, aroma, tekstur, porsi, bahkan tingkat kepedasan yang akan diterima. Memilihnya lagi terasa jauh lebih sederhana dibandingkan mengambil risiko pada makanan yang belum pernah dicoba.

Familiaritas juga membantu mengurangi ketidakpastian. Tinjauan mengenai respons konsumen terhadap makanan baru menjelaskan bahwa familiaritas membuat seseorang lebih yakin terhadap makanan dan dapat mengurangi rasa curiga atau ketidakpastian terhadap produk tersebut. Makanan yang sudah dikenal pun umumnya memiliki keuntungan dibandingkan makanan yang benar-benar asing.

Karena itu, orang yang berulang kali memesan menu favorit belum tentu membenci pengalaman baru. Bisa saja ia hanya memandang waktu makan sebagai kesempatan mendapatkan pengalaman yang sudah terbukti menyenangkan. Daripada menghabiskan uang untuk hidangan yang belum tentu cocok, pilihan lama dianggap memberikan hasil yang lebih dapat diprediksi.

2. Cenderung Menjadikan Pilihan Lama sebagai Pilihan Default

Setelah sebuah menu berulang kali memberikan pengalaman yang memuaskan, pilihan tersebut dapat berubah menjadi semacam “default” pribadi. Begitu membuka daftar menu, seseorang sebenarnya sudah memiliki kandidat utama sehingga pilihan lain harus menawarkan alasan yang cukup kuat sebelum ia bersedia berpindah.

Kecenderungan mempertahankan pilihan yang sudah ada berhubungan dengan konsep status quo bias. Annual Review of Nutrition membahas bagaimana orang sering bertahan pada pilihan yang telah ditentukan sebelumnya meskipun alternatif tersedia. Dalam konteks makanan, pilihan default juga dapat memengaruhi keputusan seseorang ketika beberapa opsi sama-sama memungkinkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mekanismenya tidak harus rumit. Seseorang mungkin berpikir, “Menu ini kemarin enak, jadi pesan ini lagi saja.” Semakin sering keputusan tersebut menghasilkan pengalaman positif, semakin mudah mengulangnya. Pada akhirnya, menu favorit tidak lagi terasa seperti salah satu dari banyak pilihan, tetapi seperti titik awal ketika menentukan makanan.

3. Tidak Suka Mengambil Risiko yang Tidak Perlu saat Makan

Mencoba menu baru selalu membawa sedikit ketidakpastian. Foto makanan dapat terlihat menarik tetapi rasanya belum tentu sesuai selera. Porsinya mungkin terlalu sedikit, sausnya terlalu manis, teksturnya berbeda dari bayangan, atau harganya terasa tidak sepadan. Bagi sebagian orang, kemungkinan kecewa tersebut cukup untuk membuat menu lama terasa lebih menarik.

Penelitian mengenai menu fatigue juga mencatat bahwa pengunjung restoran pada kondisi tertentu dapat mencari rasa aman dan menghindari ketidakpastian mengenai kualitas maupun rasa makanan. Terlalu banyak variasi atau kebaruan bahkan dapat membuat proses memilih menjadi lebih rumit bagi sebagian konsumen.

Ciri seperti ini tidak otomatis berarti seseorang penakut atau tidak berani mengambil risiko dalam kehidupan secara umum. Sikap terhadap risiko bisa sangat bergantung pada konteks. Seseorang mungkin berani mencoba pekerjaan baru atau bepergian ke tempat asing, tetapi tidak merasa perlu berjudi dengan menu makan siangnya. Bagi mereka, makanan adalah wilayah yang justru ingin dibuat sesederhana mungkin.

4. Bisa Memiliki Kecenderungan Lebih Rendah untuk Mencoba Makanan Baru

Ada istilah food neophobia, yakni kecenderungan enggan atau ragu mencoba makanan yang tidak familiar. Tingkatnya berbeda-beda pada setiap orang. Sebagian sangat tertarik mengeksplorasi makanan baru, sementara sebagian lain membutuhkan waktu, informasi, atau pengalaman berulang sebelum merasa nyaman mencobanya.

Sebuah penelitian terhadap orang dewasa Korea yang dipublikasikan dalam Journal of Sensory Studies pada 2025 menemukan bahwa tingkat food neophobia yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat kesukaan dan kemauan mencoba makanan yang lebih rendah, terutama ketika makanan tersebut kurang familiar. Pengalaman pernah mengonsumsi makanan juga berkaitan dengan meningkatnya kesukaan serta kemauan mencobanya kembali.

Meski demikian, orang yang memesan menu sama tidak otomatis memiliki food neophobia. Bisa saja ia sebenarnya senang mencoba makanan baru di rumah, saat bepergian, atau ketika bersama teman tertentu. Kebiasaan memesan menu serupa baru memberikan petunjuk kecil mengenai preferensi terhadap familiaritas, bukan cukup untuk memberikan label psikologis tertentu.

Baca Juga: Kepribadian Wanita Bisa Dilihat dari Warna Lipstik yang Dipilih? Ini Maknanya

5. Suka Mengurangi Jumlah Keputusan Kecil yang Harus Dibuat

Memilih makanan tampak seperti keputusan sederhana, tetapi prosesnya dapat melibatkan banyak pertimbangan. Ada harga, porsi, bahan, rasa, tingkat pedas, kebutuhan nutrisi, waktu penyajian, hingga keinginan orang yang sedang makan bersama. Semakin banyak opsi yang tersedia, semakin banyak pula informasi yang perlu disaring.

Tinjauan dalam jurnal Nutrients pada 2025 membahas decision fatigue dalam kaitannya dengan pilihan makanan. Kajian tersebut menjelaskan bahwa keputusan mengenai makanan terjadi berulang kali dalam keseharian dan bahwa ketika sumber daya mental menurun, perilaku dapat semakin dipengaruhi oleh kemudahan, kebiasaan, serta respons otomatis. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa bukti langsung mengenai decision fatigue dan pilihan makanan sehari-hari masih terbatas.

Dalam praktiknya, seseorang yang sudah memiliki menu favorit dapat memotong proses memilih yang panjang. Ia tidak harus membaca semua deskripsi makanan atau membandingkan belasan pilihan. Cara ini terasa sangat praktis terutama setelah menjalani hari yang penuh keputusan di tempat kerja atau ketika seseorang hanya ingin cepat makan tanpa menambah hal lain yang harus dipikirkan.

6. Memiliki Preferensi yang Sudah Terbentuk dengan Jelas

Ada pula orang yang memesan makanan sama bukan karena takut terhadap pilihan lain, melainkan karena sudah mengetahui secara spesifik apa yang disukainya. Ia mungkin menyukai tingkat kematangan tertentu, kombinasi tekstur, aroma, saus, atau komposisi bahan pada satu hidangan dan tidak melihat alasan kuat untuk menggantinya.

Semakin sering seseorang mencoba berbagai pilihan, bukan tidak mungkin ia justru menjadi semakin yakin mengenai preferensinya. Dalam situasi seperti ini, mengulang menu bukan tanda kurang eksplorasi. Justru pengalaman sebelumnya telah memberikan cukup informasi untuk menentukan pilihan mana yang memberikan kepuasan paling tinggi.

Hal tersebut juga menjelaskan kenapa seseorang bisa sangat konsisten di satu restoran tetapi jauh lebih eksploratif di restoran lain. Jika sebuah tempat memiliki satu menu yang sangat cocok dengan seleranya, ia mungkin selalu memesan hidangan tersebut. Ketika datang ke tempat yang belum pernah dikunjungi, orang yang sama tetap dapat membaca seluruh menu dan mencoba makanan yang berbeda.

7. Cenderung Praktis dan Tidak Merasa Semua Hal Harus Dibuat Bervariasi

Bagi sebagian orang, variasi adalah bagian penting dari pengalaman makan. Mereka mudah bosan ketika harus menyantap makanan yang sama. Namun, ada juga orang yang tidak membutuhkan banyak perubahan selama sebuah pilihan masih terasa enak, nyaman, terjangkau, dan memenuhi kebutuhannya.

Menariknya, penelitian mengenai konsumsi makanan berulang menunjukkan bahwa kebosanan memang dapat meningkat ketika seseorang terus menerima makanan yang sama. Dalam eksperimen konsumsi rumahan selama beberapa minggu, kelompok yang terus mendapatkan satu rasa menunjukkan peningkatan kebosanan lebih besar dibandingkan kelompok yang memiliki variasi pilihan.

Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa respons terhadap pengulangan tidak sama pada semua situasi. Jika seseorang tetap dengan sukarela memesan hidangan yang sama berulang kali dan masih menikmatinya, kemungkinan menu tersebut memang memberikan nilai yang cukup besar baginya. Ia mungkin melihat makanan secara lebih fungsional atau sederhana: selama sudah menemukan pilihan yang cocok, tidak ada kewajiban untuk menggantinya hanya demi variasi.

Baca Juga: Ciri Orang yang Selalu Membalas Chat dengan Cepat Menurut Psikologi, Bukan Karena Tertarik Denganmu

Apakah Selalu Memesan Menu Sama Berarti Tidak Suka Perubahan?

Tidak selalu. Ini merupakan salah satu kesimpulan yang sebaiknya tidak dibuat terlalu cepat. Perilaku seseorang saat memilih makanan hanyalah satu bagian kecil dari keseluruhan pola perilakunya. Menyukai makanan familiar tidak membuktikan bahwa ia kaku terhadap perubahan dalam pekerjaan, hubungan sosial, perjalanan, hobi, atau keputusan penting lainnya.

Konteks juga sangat berpengaruh. Orang dapat menjadi sangat konservatif terhadap makanan karena alergi, masalah pencernaan, aturan diet, pengalaman buruk sebelumnya, anggaran, atau sekadar tidak ingin kecewa setelah membayar makanan yang cukup mahal. Alasan-alasan tersebut tidak berkaitan langsung dengan tingkat keterbukaan seseorang terhadap pengalaman secara umum.

Karena itu, ciri orang yang selalu memesan menu yang sama lebih tepat dilihat sebagai kumpulan kecenderungan yang mungkin menjelaskan perilaku tersebut. Familiaritas, preferensi kuat, kebiasaan, penghindaran ketidakpastian, serta keinginan menyederhanakan keputusan dapat bekerja sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Kenapa seseorang selalu memesan makanan yang sama?

Biasanya karena makanan tersebut sudah familiar, sesuai selera, dan memberikan hasil yang dapat diprediksi sehingga seseorang tidak perlu mengambil risiko dengan pilihan baru.

2. Apakah suka makanan yang sama berarti seseorang membosankan?

Tidak. Preferensi makanan tidak cukup untuk menentukan keseluruhan kepribadian seseorang karena perilaku tersebut dapat dipengaruhi selera, kebiasaan, biaya, kesehatan, dan situasi.

3. Apakah selalu memilih menu yang sama termasuk food neophobia?

Belum tentu. Food neophobia berkaitan dengan keengganan mencoba makanan baru, sedangkan seseorang bisa saja memiliki menu favorit tetapi tetap terbuka mencoba makanan lain dalam situasi berbeda.

4. Kenapa menu favorit terasa sulit digantikan?

Pengalaman positif sebelumnya menciptakan ekspektasi yang jelas tentang rasa dan kepuasan, sementara memilih menu baru membawa ketidakpastian mengenai hasilnya.

5. Apakah kebiasaan memesan makanan yang sama perlu diubah?

Tidak harus selama pola makan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi dan tidak menimbulkan masalah. Variasi lebih perlu diperhatikan jika pilihan makanan sehari-hari menjadi sangat terbatas sehingga menyulitkan pemenuhan gizi.