Skip to content

Ciri Wanita yang Suka Mengenakan Pakaian Bermotif, Tidak Selalu Ekstrovert seperti yang Banyak Dikira

Pakaian bermotif sering lebih mudah mencuri perhatian dibandingkan busana polos. Motif bunga, geometris, abstrak, garis, polkadot, hingga berbagai gambar unik membuat penampilan terasa lebih hidup, sekaligus memberi ruang lebih luas bagi seseorang untuk menunjukkan selera personalnya. Tidak heran jika wanita yang cukup sering memilih pakaian bermotif terkadang dianggap memiliki karakter tertentu.

Meski demikian, pakaian bukanlah alat tes kepribadian yang dapat memberikan kesimpulan mutlak tentang seseorang. Pilihan outfit dapat dipengaruhi suasana hati, tren, pekerjaan, kenyamanan, budaya, kesempatan, hingga sekadar motif yang kebetulan terlihat menarik. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Selasa (1/9), sejumlah penelitian mengenai psikologi pakaian menunjukkan bahwa cara berpakaian memang dapat berkaitan dengan ekspresi identitas dan beberapa kecenderungan kepribadian, tetapi hubungan tersebut jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat satu motif yang dikenakan.

Apakah Pakaian Bermotif Benar-Benar Bisa Mencerminkan Kepribadian?

Pakaian dapat menjadi salah satu sarana untuk mengekspresikan diri. Penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology mengenai praktik berpakaian pada wanita menemukan adanya hubungan antara fungsi pakaian, gaya berpakaian, citra tubuh, dan beberapa dimensi kepribadian. Dalam penelitian tersebut, pakaian juga dibahas sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk menunjukkan individualitas dan membantu seseorang menampilkan identitas dirinya.

Namun, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa mengenakan motif tertentu otomatis menunjukkan sifat tertentu. Artinya, tidak ada rumus ilmiah sederhana seperti wanita yang memakai motif bunga pasti romantis atau orang yang menyukai motif geometris pasti mempunyai kepribadian tegas. Motif hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan gaya berpakaian yang dipilih seseorang.

Karena itu, ciri wanita yang suka mengenakan pakaian bermotif berikut lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan kecenderungan dalam cara berekspresi dan memperlakukan pakaian, bukan diagnosis kepribadian. Dua wanita dapat sama-sama menyukai dress floral, misalnya, tetapi memilihnya karena alasan yang sama sekali berbeda.

Baca Juga: Kepribadian Wanita Bisa Dilihat dari Warna Lipstik yang Dipilih? Ini Maknanya

1. Cenderung Menjadikan Pakaian sebagai Sarana Ekspresi Diri

Wanita yang memiliki cukup banyak pakaian bermotif kemungkinan tidak sekadar melihat baju dari fungsi dasarnya. Pakaian dapat menjadi bagian dari cara menunjukkan selera, suasana hati, atau citra yang ingin ditampilkan. Motif menyediakan unsur visual yang lebih beragam dibandingkan pakaian polos sehingga memungkinkan seseorang membangun penampilan yang terasa lebih personal.

Pilihan seperti motif floral besar, garis berwarna, abstrak, geometris, atau ilustrasi tertentu dapat memberikan karakter berbeda pada sebuah outfit. Seseorang yang menikmati proses memilih motif mungkin juga menikmati kesempatan untuk menentukan seperti apa dirinya ingin terlihat pada hari tersebut, entah lebih ceria, elegan, santai, retro, maupun berani.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian mengenai hubungan pakaian dan identitas yang menunjukkan bahwa sebagian orang menggunakan pakaian untuk fungsi individualitas dan ekspresi diri. Namun, kuat atau tidaknya kecenderungan tersebut tetap berbeda pada setiap orang dan tidak bisa diketahui hanya dengan melihat satu outfit.

2. Lebih Terbuka terhadap Variasi dalam Berpenampilan

Memilih pakaian bermotif membutuhkan sedikit lebih banyak keputusan visual dibandingkan hanya mengambil atasan dan bawahan berwarna netral. Warna dasar pakaian, ukuran motif, kombinasi dengan bawahan, aksesori, hingga sepatu dapat membuat hasil akhirnya terlihat sangat berbeda. Karena itu, orang yang gemar pakaian bermotif mungkin lebih nyaman berhadapan dengan variasi dalam penampilan.

Kecenderungan ini dapat terlihat dari kesediaannya mencoba motif berbeda, mulai dari motif klasik seperti garis dan floral hingga motif yang lebih tidak biasa. Ia mungkin tidak merasa harus memakai formula outfit yang sama setiap hari selama keseluruhan penampilannya masih terasa cocok dengan selera pribadi.

Dalam penelitian tentang gaya berpakaian wanita, keterbukaan terhadap pengalaman ditemukan memiliki hubungan dengan gaya yang lebih urban, eklektik, serta berorientasi pada fashion dan individualitas. Temuan tersebut tidak secara khusus membahas pakaian bermotif, sehingga tidak bisa diterapkan sebagai aturan mutlak, tetapi dapat membantu menjelaskan mengapa eksplorasi gaya dan variasi pakaian terkadang berjalan beriringan.

3. Memiliki Perhatian Lebih terhadap Unsur Visual

Pakaian bermotif mempunyai banyak elemen yang perlu diperhatikan sekaligus. Ada warna, bentuk, jarak antarornamen, skala gambar, sampai hubungan antara motif dengan potongan pakaian. Bagi seseorang yang menyukainya, detail-detail tersebut justru dapat menjadi bagian yang menyenangkan ketika menentukan penampilan.

Wanita yang sering mengenakan pakaian bermotif mungkin terbiasa memperhatikan apakah warna motif cocok dengan tasnya, apakah pola pada atasan terlalu ramai jika dipadukan dengan bawahan tertentu, atau bagaimana motif tersebut terlihat ketika digunakan. Hal tersebut lebih tepat dikaitkan dengan perhatian terhadap estetika daripada langsung menyimpulkan bahwa seseorang memiliki sifat perfeksionis atau sangat teliti dalam seluruh aspek kehidupannya.

Selera visual juga sangat subjektif. Ada orang yang merasa motif kecil dan lembut terlihat menarik, sedangkan orang lain justru menyukai motif besar dengan kombinasi warna kontras. Keduanya sama-sama dapat memiliki ketertarikan tinggi terhadap estetika, hanya saja bahasa visual yang disukai berbeda.

4. Cenderung Ingin Memiliki Identitas Gaya yang Personal

Salah satu daya tarik pakaian bermotif adalah kemampuannya membuat sebuah outfit terasa lebih mudah dikenali. Bahkan dengan potongan pakaian sederhana, motif tertentu dapat membuat penampilan mempunyai karakter tersendiri. Karena alasan ini, wanita yang menyukai motif mungkin mempunyai dorongan lebih besar untuk memilih pakaian berdasarkan selera personal daripada hanya mencari kombinasi yang paling aman.

Keinginan memiliki gaya sendiri tidak berarti seseorang harus selalu berpakaian eksentrik. Identitas tersebut dapat muncul secara halus, misalnya selalu menyukai motif bunga kecil, garis klasik, motif etnik, atau pola bernuansa vintage. Jika digunakan berulang kali, preferensi semacam itu perlahan dapat menjadi ciri khas penampilannya.

Pakaian memang mempunyai fungsi simbolis yang dapat digunakan dalam pembentukan dan ekspresi konsep diri. Sejumlah penelitian tentang perilaku konsumsi pakaian juga menunjukkan bahwa bagi sebagian konsumen, pakaian memiliki nilai ekspresif yang membantu mereka menunjukkan identitas dan membedakan diri dari orang lain.

5. Bisa Lebih Nyaman Membuat Penampilan Terlihat Menonjol

Motif secara alami menambahkan lebih banyak informasi visual pada pakaian. Terlebih jika motifnya besar, warnanya terang, atau mempunyai kombinasi yang kontras, perhatian mata akan lebih mudah tertuju pada outfit tersebut. Wanita yang secara konsisten memilih model seperti ini kemungkinan mempunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap penampilan yang terlihat menonjol.

Namun, hal tersebut jangan langsung diterjemahkan sebagai sifat haus perhatian atau selalu ingin menjadi pusat perhatian. Banyak orang memakai pakaian bermotif karena memang menyukai desainnya, merasa lebih cantik ketika mengenakannya, atau menganggap motif tertentu sesuai dengan bentuk tubuh dan gaya pribadinya.

Bahkan wanita yang cenderung pendiam dapat menyukai pakaian yang penuh warna dan bermotif. Kepribadian sosial dan preferensi visual merupakan dua hal yang berbeda. Karena itu, lebih masuk akal mengatakan bahwa seseorang cukup nyaman memakai outfit yang mempunyai karakter visual kuat daripada menyebutnya pasti ekstrovert.

6. Lebih Suka Bermain dengan Kombinasi Gaya

Pakaian bermotif membuka cukup banyak kemungkinan untuk melakukan mix and match. Satu kemeja floral, misalnya, dapat terlihat santai dengan jeans, terasa lebih rapi bersama rok polos, atau menjadi lebih berani ketika dipadukan dengan aksesori yang mengambil salah satu warna dari motif tersebut. Proses seperti ini dapat menarik bagi orang yang menikmati eksplorasi pakaian.

Wanita yang menyukai pakaian bermotif bisa jadi tidak melihat lemari pakaian sebagai kumpulan item yang berdiri sendiri. Ia mungkin lebih sering membayangkan kombinasi yang dapat dibuat, mencari warna yang saling melengkapi, atau mencoba mengubah karakter satu pakaian dengan item pendamping yang berbeda.

Kebiasaan tersebut juga membuat seseorang tidak harus mempunyai koleksi pakaian yang sangat banyak untuk menghasilkan tampilan berbeda. Beberapa item bermotif yang mempunyai karakter kuat dapat menciptakan variasi outfit cukup luas ketika dipadukan dengan pakaian polos dan aksesori yang berbeda.

7. Pakaian yang Dipilih Bisa Lebih Dipengaruhi Mood

Motif dapat membantu menciptakan suasana tertentu pada penampilan. Motif bunga dengan warna lembut dapat terasa tenang, motif buah atau ilustrasi berwarna cerah dapat memberi kesan playful, sedangkan motif geometris yang kontras dapat menghasilkan tampilan yang lebih tegas. Karena efek visual ini, pemilihan motif terkadang berjalan beriringan dengan suasana yang ingin dirasakan atau ditampilkan seseorang.

Ada hari ketika seseorang ingin tampil sederhana sehingga memilih outfit polos. Di kesempatan lain, ia mungkin merasa ingin mengenakan sesuatu yang lebih hidup dan mengambil blus bermotif dari lemari. Perubahan tersebut tidak berarti kepribadiannya ikut berubah, tetapi menunjukkan bahwa pakaian dapat menjadi salah satu cara menyesuaikan penampilan dengan keadaan emosional atau konteks.

Hubungan antara pakaian dan diri memang tidak terbatas pada bagaimana seseorang dinilai orang lain. Penelitian tentang praktik berpakaian juga membahas pakaian sebagai bagian dari pengalaman psikologis pemakainya sendiri, termasuk kaitannya dengan identitas, perasaan terhadap diri, dan cara seseorang ingin menampilkan dirinya.

8. Tidak Selalu Terpaku pada Gaya yang Serba Aman

Pakaian polos dengan warna netral relatif mudah dipadukan karena risiko benturan visualnya kecil. Sebaliknya, pakaian bermotif dapat membutuhkan keberanian lebih besar untuk mencoba kombinasi tertentu, khususnya jika menggunakan motif besar, warna cerah, atau desain yang sedang tidak banyak dipakai orang lain.

Wanita yang berkali-kali memilih pakaian seperti ini mungkin lebih bersedia mengambil sedikit risiko dalam urusan gaya. Ia dapat mencoba sesuatu terlebih dahulu, melihat apakah hasilnya cocok, kemudian memperbaiki kombinasinya jika diperlukan. Dalam konteks fashion, kebiasaan tersebut menunjukkan adanya ruang untuk eksplorasi.

Tetapi keberanian dalam bereksperimen dengan outfit tidak otomatis berarti orang tersebut berani mengambil risiko dalam pekerjaan, hubungan, atau keputusan finansial. Kepribadian manusia terdiri dari banyak dimensi, sedangkan pakaian hanya memperlihatkan sebagian kecil dari preferensi seseorang pada situasi tertentu.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apakah wanita yang suka pakaian bermotif cenderung ekstrovert?

Belum tentu. Seseorang dapat menyukai motif yang mencolok sekaligus memiliki kepribadian yang pendiam karena preferensi fashion dan perilaku sosial tidak selalu sama.

2. Apakah motif bunga menunjukkan kepribadian feminin?

Motif bunga dapat memberikan kesan feminin dalam konteks budaya dan fashion tertentu, tetapi memilih motif floral tidak membuktikan bahwa seseorang memiliki kepribadian tertentu.

3. Mengapa sebagian orang lebih suka pakaian bermotif daripada polos?

Alasannya dapat berupa selera estetika, keinginan berekspresi, kesukaan terhadap warna, tren, kenyamanan, hingga keinginan membuat outfit terasa lebih hidup.