Menyimpan berbagai jenis buah dalam satu keranjang memang terlihat praktis dan membuat meja makan tampak lebih menarik. Namun, cara ini tidak selalu membantu buah bertahan lebih lama. Beberapa buah yang sudah mulai matang dapat memengaruhi buah lain di dekatnya, sehingga proses pematangan berlangsung lebih cepat dan stok yang seharusnya masih bisa disimpan beberapa hari justru keburu lembek atau menurun kualitasnya.
Salah satu penyebabnya adalah etilen, senyawa berbentuk gas yang secara alami terlibat dalam proses pematangan buah. Buah tertentu terus mengalami pematangan setelah dipetik dan dapat menghasilkan etilen dalam jumlah yang lebih tinggi saat semakin matang. Karena itu, pengaturan posisi buah di meja maupun di kulkas cukup berpengaruh terhadap daya simpannya. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Rabu (9/9), berikut penjelasan dan pasangan buah yang sebaiknya tidak diletakkan terlalu berdekatan.
1. Pisang dan Apel
Pisang yang sedang matang merupakan salah satu buah yang perlu diperhatikan ketika ditempatkan bersama buah lainnya. Saat proses pematangan berlangsung, produksi etilen meningkat. Jika pisang berada sangat dekat dengan apel dalam wadah tertutup atau keranjang dengan sirkulasi terbatas, lingkungan di sekitar buah dapat mendorong proses pematangan berlangsung lebih cepat.
Homes & Gardens menyarankan pisang tidak ditempatkan dalam satu mangkuk bersama sejumlah buah lain, termasuk apel, persik, melon, dan kiwi, jika tujuannya adalah mempertahankan kesegaran selama mungkin. Memisahkan tandan pisang dan memberikan sirkulasi udara yang baik juga dapat membantu mengurangi penumpukan etilen di sekitar buah.
Jika justru ingin buah lebih cepat matang, prinsip ini bisa dimanfaatkan. Sebaliknya, ketika membeli pisang dan apel untuk stok beberapa hari, lebih aman menyediakan tempat terpisah. Pisang dapat ditempatkan di area bersirkulasi baik pada suhu ruang, sementara apel dapat disimpan sesuai kondisi kematangannya.
2. Pisang dan Kiwi
Kiwi termasuk buah yang dapat terus matang setelah dipanen dan cukup responsif terhadap etilen, terutama ketika masih keras atau belum matang sempurna. Karena itu, menaruh kiwi mentah bersama pisang yang sedang matang dapat membuat kiwi melunak jauh lebih cepat.
Hal tersebut sebenarnya berguna ketika kiwi sengaja ingin dimatangkan dalam waktu singkat. Namun, cara yang sama kurang tepat jika buah baru akan dikonsumsi beberapa hari kemudian. Membiarkan keduanya terus berdekatan berisiko membuat kiwi melewati tingkat kematangan yang diinginkan sebelum sempat dimakan.
Data mengenai respons berbagai hasil pertanian terhadap etilen juga menunjukkan bahwa kiwi mentah sangat sensitif terhadap paparan gas tersebut, sementara pisang matang menghasilkan etilen lebih banyak dibandingkan ketika masih hijau. Karena itu, pisahkan kedua buah setelah kiwi mencapai kematangan yang diinginkan.
3. Apel dan Alpukat
Alpukat terkenal bisa berubah dari keras menjadi sangat lunak dalam waktu yang terasa singkat. Salah satu faktor yang berperan adalah etilen. Setelah dipanen, alpukat mulai menghasilkan etilen dan produksinya meningkat drastis selama proses pematangan. Paparan etilen dari lingkungan juga dapat mempercepat proses tersebut.
UC Davis Postharvest Research and Extension Center menjelaskan bahwa etilen digunakan secara komersial untuk menginduksi pematangan alpukat secara lebih seragam. Karena itu, keberadaan buah penghasil etilen lain di dekat alpukat dapat dimanfaatkan saat ingin mempercepat pematangan, tetapi kurang ideal jika tujuannya mempertahankan alpukat tetap keras lebih lama.
Apel dan alpukat sebaiknya tidak diletakkan dalam kantong atau wadah tertutup yang sama untuk penyimpanan jangka beberapa hari. Jika alpukat sudah matang, pemindahan ke kondisi penyimpanan yang lebih dingin dapat membantu memperlambat pelunakan lebih lanjut, sedangkan apel bisa ditempatkan terpisah.
4. Apel dan Pir
Apel dan pir sama-sama tergolong buah klimakterik. Keduanya masih melanjutkan pematangan setelah dipetik serta dapat menghasilkan etilen. Ketika beberapa buah yang sudah matang diletakkan bersama, konsentrasi etilen di ruang penyimpanan dapat meningkat dan mendorong buah lainnya untuk ikut matang lebih cepat.
Risikonya makin terasa jika apel dan pir dibeli sekaligus dalam keadaan hampir matang. Dalam beberapa hari, keduanya dapat menjadi jauh lebih lunak sehingga waktu konsumsinya menjadi sangat sempit. Kondisi tersebut tidak selalu berarti buah langsung busuk, tetapi semakin matang buah, semakin pendek pula waktu yang tersedia sebelum kualitasnya menurun.
Untuk stok mingguan, pisahkan apel dan pir yang sudah matang dari buah yang masih ingin dipertahankan lebih lama. Cara sederhana lainnya adalah memeriksa kondisi buah setiap hari dan segera mengonsumsi buah yang mulai terasa lunak daripada membiarkannya bercampur dengan stok yang masih keras.
5. Pisang dan Mangga
Pisang dan mangga sering diletakkan bersama karena sama-sama umum disimpan pada suhu ruang saat belum matang. Padahal, keduanya termasuk buah yang terus mengalami pematangan setelah dipanen. Saat mulai matang, keberadaan etilen di sekitar buah ikut meningkat.
Jika mangga masih keras dan memang ingin segera dikonsumsi, menempatkannya dekat buah matang dapat membantu mempercepat proses tersebut. Situasinya berbeda ketika mangga dibeli untuk persediaan beberapa hari. Pisang yang sudah kuning atau mulai berbintik dapat membuat proses pematangan mangga berlangsung lebih cepat dari rencana.
Cara paling praktis adalah memisahkan stok berdasarkan tingkat kematangannya. Buah yang akan segera dimakan boleh diletakkan di tempat yang mudah terlihat, sedangkan buah yang ingin dipertahankan lebih lama sebaiknya ditempatkan lebih jauh dari buah matang. Dengan cara ini, tidak semua buah mencapai puncak kematangan pada waktu bersamaan.
6. Apel dengan Persik, Nektarin, atau Plum
Buah batu seperti persik, nektarin, dan plum juga mengalami pematangan setelah dipanen. Teksturnya akan semakin lunak, aromanya menguat, dan daging buah menjadi lebih mudah rusak ketika mencapai tahap sangat matang. Meletakkannya berdekatan dengan apel yang menghasilkan etilen dapat mempersempit waktu penyimpanan yang tersedia.
Masalahnya sering tidak terasa ketika buah masih keras. Namun, ketika beberapa buah mulai matang hampir bersamaan, perubahan tekstur dapat berlangsung cepat. Buah yang semula masih cukup padat bisa menjadi lembek hanya dalam selang penyimpanan yang relatif pendek, terutama pada suhu ruang yang hangat.
Pisahkan buah batu dari apel apabila tidak akan langsung dikonsumsi. Setelah persik, nektarin, atau plum mencapai tingkat kematangan yang diinginkan, penyimpanan dingin umumnya lebih masuk akal daripada membiarkannya terus berada dekat buah penghasil etilen lainnya.
7. Melon Penghasil Etilen dan Semangka
Semangka tidak memiliki pola pematangan yang sama dengan pisang atau mangga. Setelah dipanen, buah ini tidak akan menjadi lebih manis hanya karena dibiarkan lebih lama bersama buah penghasil etilen. Meski demikian, semangka termasuk komoditas yang dapat sensitif terhadap paparan etilen dalam kondisi penyimpanan tertentu.
Karena itu, semangka sebaiknya tidak sengaja disimpan berdekatan dalam waktu lama dengan buah yang aktif menghasilkan etilen, termasuk melon jenis tertentu seperti cantaloupe yang sedang matang. Paparan tersebut tidak memberikan keuntungan dari sisi pematangan semangka dan justru dapat mempercepat perubahan kualitas selama penyimpanan.
Untuk penyimpanan rumahan, tidak perlu sampai mengukur jarak tertentu. Prinsip sederhananya adalah tidak menumpuk semua buah dalam wadah tertutup yang sama. Jika tersedia ruang, pisahkan buah yang sedang aktif matang dari semangka atau buah lain yang ingin dipertahankan kondisinya.
8. Pir dengan Kiwi yang Masih Keras
Pir matang dapat menghasilkan etilen dalam jumlah cukup tinggi, sementara kiwi yang belum matang sangat responsif terhadap gas tersebut. Karena itu, kombinasi keduanya dapat membuat kiwi yang tadinya masih keras menjadi lunak lebih cepat.
Teknik ini sebenarnya kerap dimanfaatkan untuk mempercepat pematangan kiwi. Namun, jika satu paket kiwi dibeli untuk stok selama beberapa hari, menyimpan semuanya bersama pir matang membuat seluruh buah berpotensi matang pada waktu hampir bersamaan. Akibatnya, konsumsi harus dipercepat agar tidak ada buah yang terlalu lunak.
Solusinya tidak harus rumit. Ambil hanya kiwi yang memang ingin segera dimatangkan dan letakkan dekat buah matang, sementara sisanya disimpan terpisah. Dengan cara tersebut, tingkat kematangan stok dapat diatur secara bertahap dan kemungkinan buah terbuang menjadi lebih kecil.
Cara Menyimpan Buah agar Tidak Cepat Busuk
Memisahkan buah bukan berarti setiap jenis membutuhkan wadah sendiri-sendiri. Yang lebih penting adalah mengenali buah mana yang sedang aktif matang dan mana yang perlu dipertahankan kondisinya. Buah seperti pisang, apel, pir, alpukat, mangga, kiwi, persik, dan plum perlu mendapat perhatian lebih karena proses pematangannya masih berlangsung setelah dipanen.
Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan antara lain:
- Pisahkan buah matang dari buah yang masih keras. Buah matang cenderung menghasilkan lebih banyak etilen sehingga dapat mempercepat pematangan stok lainnya.
- Gunakan keranjang dengan sirkulasi udara. Hindari menumpuk terlalu banyak buah dalam wadah sempit dan tertutup jika tidak sedang sengaja mempercepat pematangan.
- Manfaatkan kulkas setelah buah matang. Pendinginan dapat memperlambat berbagai proses metabolisme buah, meskipun tidak menghentikannya sepenuhnya.
- Gunakan laci buah secara terpisah jika memungkinkan. Memisahkan kelompok buah membantu mengurangi paparan etilen pada komoditas yang lebih sensitif.
- Periksa buah secara berkala. Buah yang sudah sangat lembek, terluka, bocor, atau berjamur sebaiknya segera dikeluarkan agar tidak memperburuk kondisi buah di sekitarnya.
- Jangan menumpuk buah berat di atas buah lunak. Kerusakan akibat tekanan dapat mempercepat penurunan kualitas terlepas dari pengaruh etilen.
- Atur waktu pembelian. Bila konsumsi buah di rumah tidak terlalu banyak, membeli dalam tingkat kematangan berbeda dapat mencegah seluruh stok matang bersamaan.
Untuk apel secara khusus, petani buah yang diwawancarai Food & Wine menyarankan penyimpanan di bagian crisper kulkas dengan kondisi dingin dan kelembapan yang sesuai, serta menghindari mencuci apel sebelum disimpan karena kelembapan tambahan dapat mendukung kerusakan selama penyimpanan.
Cara paling efektif sebenarnya bukan sekadar menentukan mana buah yang boleh atau tidak boleh “berteman”, melainkan mengatur tingkat kematangannya. Buah yang memang ingin segera dimatangkan dapat didekatkan dengan penghasil etilen, sedangkan buah yang masih ingin disimpan beberapa hari perlu dijauhkan. Dengan strategi tersebut, stok buah tidak matang serempak dan lebih mudah dihabiskan sebelum kualitasnya menurun.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa itu gas etilen pada buah?
Etilen adalah hormon tanaman berbentuk gas yang berperan dalam proses pematangan. Sejumlah buah meningkatkan produksi etilen setelah dipanen.
2. Apakah buah penghasil etilen berbahaya jika dimakan bersama buah lain?
Tidak. Persoalannya berkaitan dengan penyimpanan dan kecepatan pematangan, bukan keamanan saat buah dikonsumsi bersamaan.
3. Apakah pisang boleh diletakkan bersama alpukat?
Boleh jika ingin alpukat lebih cepat matang. Jika ingin alpukat bertahan lebih lama dalam keadaan keras, sebaiknya keduanya dipisahkan.
4. Apakah kulkas menghentikan produksi etilen?
Tidak sepenuhnya. Suhu dingin terutama membantu memperlambat proses metabolisme dan pematangan sehingga buah dapat bertahan lebih lama.
5. Apakah semua buah harus disimpan terpisah?
Tidak. Pemisahan terutama berguna antara buah yang aktif menghasilkan etilen dengan buah yang sensitif atau buah yang masih ingin dipertahankan tingkat kematangannya.