Matahari sudah tenggelam dan udara di luar mulai terasa lebih nyaman, tetapi anehnya bagian dalam rumah justru masih gerah. Kondisi seperti ini cukup mudah ditemukan pada rumah yang mendapatkan paparan matahari cukup kuat sepanjang siang, terutama pada ruangan di lantai atas atau sisi bangunan yang menghadap arah datangnya sinar matahari. Bahkan, membuka jendela saat malam belum tentu langsung membuat suhu ruangan turun.
Rumah yang panas pada malam hari sebenarnya dapat berkaitan dengan cara bangunan menerima, menyimpan, dan melepaskan panas, ditambah kondisi ventilasi serta kelembapan di dalam ruangan. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Selasa (8/9), sejumlah faktor ini dapat menjelaskan mengapa rumah masih terasa seperti menyimpan hawa siang hari meskipun keadaan di luar sudah mulai dingin.
Kenapa Rumah Tetap Panas Setelah Matahari Terbenam?
Bangunan tidak langsung kehilangan seluruh panasnya ketika matahari terbenam. Selama beberapa jam sebelumnya, energi matahari mengenai atap, dinding, kaca jendela, halaman, dan bagian bangunan lainnya. Sebagian energi tersebut dipantulkan kembali, sedangkan sebagian lainnya diserap oleh material rumah dan secara perlahan diteruskan ke bagian dalam.
Material yang memiliki massa termal cukup tinggi dapat menyimpan energi panas selama beberapa waktu. Karena proses pelepasan panas berlangsung bertahap, dinding atau lantai yang terpapar panas sejak siang masih dapat memancarkan panas ketika suhu udara luar mulai turun. Department of Energy menjelaskan bahwa bangunan dengan massa termal tinggi dapat menyerap panas dan menggeser waktu puncak beban panas hingga beberapa jam kemudian, termasuk menuju sore atau malam hari.
Inilah salah satu alasan suhu udara luar dan sensasi panas di dalam rumah tidak selalu turun secara bersamaan. Rumah seolah memiliki “jejak” panas dari siang hari. Efeknya akan lebih terasa apabila panas yang tersimpan cukup besar, sedangkan proses pelepasannya ke luar berlangsung lambat.
Baca Juga: Peralatan Elektronik yang Diam-Diam Bikin Listrik Boros Meski Jarang Dipakai
1. Atap Menyerap Panas dalam Jumlah Besar
Atap merupakan salah satu bagian rumah yang paling lama terkena sinar matahari secara langsung. Pada hari cerah, permukaan atap bisa menerima radiasi matahari selama berjam-jam. Panas kemudian berpindah menuju ruang di bawah atap dan dapat merambat lebih jauh menuju plafon serta ruangan.
Masalahnya tidak hanya bergantung pada warna atap. Jenis material, keberadaan plafon, lapisan insulasi, ruang antara atap dengan plafon, serta ventilasi pada area tersebut ikut menentukan seberapa mudah panas mencapai ruang di bawahnya. detikProperti mencatat bahwa material atap dan ventilasi sama-sama berperan terhadap kenyamanan termal rumah, sehingga atap berwarna gelap bukan satu-satunya faktor yang membuat interior terasa panas.
Efek ini biasanya lebih mudah dirasakan di lantai paling atas. Ketika atap dan ruang di bawahnya telah panas sepanjang sore, penghuni mungkin baru benar-benar merasakan efeknya ketika memasuki kamar pada malam hari. Karena itu, kamar di bawah atap bisa tetap gerah meskipun teras atau halaman rumah sudah terasa jauh lebih dingin.
2. Panas Tertahan di Ruang Atap dan Plafon
Rumah yang memiliki ruang atap tanpa aliran udara memadai dapat mengalami penumpukan panas. Udara yang sudah panas tidak cepat berganti dengan udara yang lebih dingin sehingga area di atas plafon seperti menjadi tempat penyimpanan hawa panas dari siang hari.
Pada cuaca panas, aliran udara alami melalui ruang atap membantu mengeluarkan udara yang sangat panas, sementara insulasi berfungsi menghambat perpindahan panas menuju bagian dalam rumah. Kombinasi keduanya membantu mengurangi beban panas yang mencapai ruangan di bawahnya.
Jika plafon kamar terasa sangat hangat ketika malam, area atap patut diperiksa. Kondisi tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa sebagian panas berasal dari bagian atas bangunan, bukan semata-mata karena udara panas yang masuk melalui pintu atau jendela.
3. Ventilasi yang Tidak Mampu Mengeluarkan Panas dengan Cepat
Membuka satu jendela belum tentu menghasilkan pertukaran udara yang efektif. Agar udara bergerak melintasi ruangan, idealnya tersedia jalur masuk sekaligus jalur keluar sehingga udara yang lebih sejuk dapat menggantikan udara panas di dalam.
U.S. Environmental Protection Agency menyebut masuknya udara luar membantu mengendalikan suhu, kelembapan, bau, serta berbagai faktor yang memengaruhi kenyamanan di dalam bangunan. Artinya, persoalannya bukan sekadar memiliki lubang ventilasi, melainkan seberapa efektif pertukaran udara tersebut berlangsung.
Pada rumah yang hanya mempunyai bukaan di satu sisi, tertutup bangunan tetangga, atau menggunakan sekat ruangan yang terlalu rapat, aliran udara dapat berjalan lambat. Panas yang dilepaskan dinding, plafon, lantai, dan perabot akhirnya tetap berada di ruangan lebih lama sehingga rumah terasa gerah sampai malam.
4. Kelembapan Membuat Udara Terasa Lebih Gerah
Ada kalanya termometer menunjukkan suhu yang tidak terlalu tinggi, tetapi tubuh tetap merasa panas dan berkeringat. Dalam kondisi seperti ini, kelembapan udara bisa ikut berperan.
Tubuh mengandalkan penguapan keringat untuk membantu membuang panas. Ketika udara sangat lembap, penguapan menjadi kurang efektif sehingga tubuh lebih sulit melepaskan panas. NIOSH dari CDC menjelaskan konsep heat index sebagai ukuran seberapa panas kondisi terasa ketika kelembapan relatif diperhitungkan bersama suhu udara.
Di dalam rumah, kelembapan dapat berasal dari berbagai aktivitas, seperti mandi, memasak, menjemur pakaian, maupun udara luar yang memang lembap. Jika ventilasi terbatas, uap air dapat bertahan lebih lama. Akibatnya, ruangan bukan hanya terasa hangat, tetapi juga pengap dan lengket pada kulit.
Baca Juga: 10 Tips Hemat Listrik yang Bisa Dilakukan di Rumah, Jangan Sampai Tagihan Membengkak
5. Paparan Matahari dari Jendela dan Dinding Masih Berpengaruh
Tidak semua panas masuk dari atap. Jendela berukuran besar pada sisi yang menerima matahari sore dapat membuat energi matahari masuk ke ruangan dan memanaskan lantai, dinding, serta perabot.
Dinding bagian barat juga sering menerima paparan matahari cukup kuat menjelang sore. Panas yang terkumpul pada bagian tersebut dapat berpindah menuju permukaan bagian dalam secara perlahan. Karena proses perpindahan membutuhkan waktu, sisi dalam dinding mungkin justru terasa hangat ketika matahari sudah tidak terlihat.
Itulah sebabnya dua kamar dalam satu rumah dapat memiliki kondisi berbeda pada malam hari. Kamar yang tidak terkena matahari langsung bisa cepat dingin, sementara kamar yang dinding atau jendelanya mendapatkan paparan matahari sore tetap gerah lebih lama.
6. Aktivitas di Dalam Rumah Juga Menghasilkan Panas
Sumber panas tidak selalu berasal dari cuaca. Berbagai perangkat elektronik menghasilkan panas ketika digunakan, mulai dari televisi, komputer, lampu tertentu, lemari es, hingga perangkat memasak.
Dapur menjadi salah satu sumber yang cukup terasa karena kegiatan menggoreng, merebus, memanggang, atau memasak dalam waktu lama melepaskan panas ke udara. Jika ruang dapur menyatu dengan area keluarga dan sirkulasi udara terbatas, panas dapat menyebar ke ruangan lain.
Jumlah penghuni juga memberikan kontribusi karena tubuh manusia terus menghasilkan panas. Pada kamar kecil yang tertutup dengan beberapa orang di dalamnya, suhu dan kelembapan dapat meningkat lebih cepat dibandingkan ruangan luas yang memiliki aliran udara baik.
Kenapa Rumah Justru Bisa Terasa Paling Gerah Beberapa Jam Setelah Sore?
Fenomena ini berkaitan dengan adanya jeda antara saat bagian luar bangunan menerima panas dan saat energi tersebut mencapai interior. Atap maupun dinding tidak selalu meneruskan panas secara instan.
Bayangkan dinding yang menghadap matahari sejak pukul 13.00 hingga 17.00. Permukaan luarnya terus menerima energi selama periode tersebut, kemudian panas bergerak menembus material secara perlahan. Akibatnya, bagian dalam dinding dapat mencapai kondisi hangat beberapa waktu setelah paparan matahari terkuat berlalu.
Itulah mengapa penghuni terkadang merasa rumah cukup nyaman saat sore, lalu mulai gerah sekitar awal hingga pertengahan malam. Kondisi tersebut tidak berarti suhu luar sedang meningkat, melainkan sebagian energi yang tersimpan pada bangunan sedang dilepaskan ke dalam ruangan.
Cara Membuat Rumah Lebih Sejuk pada Malam Hari
Tidak semua masalah rumah panas membutuhkan AC atau renovasi besar. Langkah pertama sebaiknya diarahkan pada pengurangan panas yang masuk sejak siang sekaligus mempercepat pelepasannya ketika udara luar mulai lebih dingin.
Beberapa cara yang dapat dicoba antara lain:
- Kurangi paparan matahari pada siang dan sore hari. Gunakan tirai, gorden, kanopi, atau peneduh terutama pada jendela yang terkena matahari langsung.
- Buka jendela ketika udara luar sudah lebih dingin daripada udara dalam. Membuka bukaan pada dua sisi berbeda akan lebih membantu apabila memungkinkan terciptanya aliran silang.
- Gunakan kipas untuk membantu pertukaran udara. Kipas dapat diarahkan menuju jendela untuk membantu membuang udara panas atau ditempatkan agar aliran udara melintasi area tempat penghuni beraktivitas.
- Kurangi penggunaan perangkat penghasil panas menjelang tidur. Matikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak diperlukan serta hindari aktivitas memasak berat terlalu dekat dengan waktu tidur jika dapur memiliki ventilasi terbatas.
- Periksa ruang di bawah atap. Apabila plafon terus terasa panas pada malam hari, kondisi insulasi dan ventilasi area atap perlu menjadi perhatian.
- Kendalikan kelembapan. Pastikan kamar mandi dan dapur memiliki aliran udara yang memadai serta hindari menjemur banyak pakaian basah di kamar tertutup.
- Pertimbangkan perlindungan sisi rumah yang mendapat matahari sore. Kanopi, tanaman peneduh, secondary skin, atau elemen pembayang dapat mengurangi energi matahari yang langsung mencapai dinding dan kaca.
RRI menyarankan menutup jendela dan gorden ketika matahari sedang terik, kemudian memanfaatkan bukaan pada pagi atau malam ketika udara luar lebih sejuk. Pola sederhana ini mencegah panas masuk berlebihan sekaligus memanfaatkan udara malam untuk membantu mendinginkan interior.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apakah normal rumah lebih panas pada malam hari daripada sore hari?
Bisa terjadi. Panas yang diserap atap dan dinding sepanjang hari dapat baru terasa di interior beberapa waktu setelah matahari mulai tenggelam.
2. Kenapa kamar lantai atas biasanya lebih panas pada malam hari?
Kamar lantai atas berada lebih dekat dengan atap sehingga lebih mudah terpengaruh panas yang tersimpan di area atap dan plafon.
3. Apakah membuka semua jendela selalu membuat rumah lebih sejuk?
Tidak selalu. Cara tersebut paling efektif apabila udara di luar lebih dingin dan terdapat jalur yang memungkinkan udara masuk serta keluar dengan lancar.
4. Apakah kipas angin dapat menurunkan suhu kamar?
Kipas terutama membantu menggerakkan udara dan meningkatkan kenyamanan tubuh. Efek pembuangan panas akan lebih baik jika kipas membantu mengalirkan udara panas keluar dari ruangan.
5. Mengapa rumah terasa panas dan lengket setelah hujan?
Kelembapan yang tinggi dapat mengurangi efektivitas penguapan keringat sehingga tubuh tetap merasa gerah meskipun suhu udara tidak terlalu tinggi.