Peta dunia yang selama ini terlihat akrab ternyata bukan gambaran ukuran daratan yang sepenuhnya proporsional. Salah satu contoh paling mudah terlihat pada peta Mercator, ketika Greenland tampak hampir seukuran Afrika, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar. Perbedaan inilah yang kembali menjadi perhatian setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendukung penggunaan proyeksi peta yang mempertahankan perbandingan luas daratan dengan lebih baik.
Nama Equal Earth pun ikut ramai dibicarakan karena proyeksi ini menjadi salah satu pilihan yang didorong untuk memperbaiki cara dunia melihat ukuran relatif setiap benua. BBC dan sejumlah media internasional ikut menyoroti perubahan cara pandang tersebut setelah pemungutan suara di PBB pada September 2026. Dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, berikut penjelasan mengenai peta Equal Earth, perbedaannya dengan Mercator, hingga apa sebenarnya arti keputusan PBB tersebut, Rabu (9/9).
Apa Itu Peta Equal Earth?
Equal Earth adalah proyeksi peta dunia jenis equal-area, yakni proyeksi yang dirancang agar luas relatif suatu wilayah tetap sebanding dengan luas sebenarnya di permukaan bumi. Artinya, jika sebuah benua memang beberapa kali lebih luas dibandingkan wilayah lain, perbandingan luas tersebut tetap dipertahankan saat keduanya ditampilkan dalam peta dua dimensi.
Hal ini berbeda dengan anggapan bahwa Equal Earth merupakan peta yang sama sekali tidak memiliki distorsi. Bumi berbentuk tiga dimensi, sehingga ketika permukaannya dipindahkan ke bidang datar, selalu ada karakteristik yang harus dikorbankan. Sebuah proyeksi dapat mengutamakan luas, bentuk, arah, jarak, atau kombinasi beberapa karakteristik, tetapi tidak mungkin mempertahankan semuanya secara sempurna pada seluruh permukaan bumi.
Equal Earth memilih mempertahankan luas sambil berusaha menjaga bentuk benua tetap mudah dikenali secara visual. Bentuk keseluruhannya menyerupai proyeksi Robinson, tetapi Equal Earth memiliki sisi melengkung dan garis lintang yang lurus sehingga dunia tetap terlihat cukup natural bagi pembaca peta. Inilah salah satu alasan proyeksi tersebut dianggap cocok untuk atlas, pendidikan, infografik, atau peta tematik yang membutuhkan perbandingan ukuran wilayah.
Siapa yang Membuat Proyeksi Equal Earth?
Equal Earth bukanlah peta baru yang dibuat setelah keputusan PBB pada 2026. Proyeksi tersebut telah diperkenalkan pada 2018 dan dikembangkan bersama oleh tiga ahli kartografi, yakni Bojan Šavrič dari Esri, Tom Patterson dari National Park Service Amerika Serikat, serta Bernhard Jenny dari Monash University.
Salah satu tujuan pengembangannya adalah menyediakan proyeksi equal-area yang secara visual lebih nyaman dibandingkan beberapa alternatif yang sudah lebih dahulu dikenal. Equal Earth mencoba mempertahankan proporsi luas secara matematis tanpa membuat bentuk benua menjadi terlalu asing ketika dilihat oleh orang yang terbiasa dengan peta dunia konvensional.
Karakter tersebut membuat Equal Earth menarik untuk penggunaan yang berhubungan dengan pendidikan dan komunikasi publik. Pembaca masih dapat mengenali Afrika, Amerika Selatan, Asia, Eropa, maupun Amerika Utara dengan relatif mudah, tetapi perbandingan luasnya terlihat sangat berbeda ketika disejajarkan dengan peta Mercator yang telah lama mendominasi banyak atlas dan peta digital.
Peta Mercator Dianggap Mendistorsi
Proyeksi Mercator dikembangkan oleh kartografer Gerardus Mercator pada 1569 untuk memenuhi kebutuhan navigasi laut. Salah satu keunggulan besarnya adalah kemampuannya mempertahankan sudut sehingga arah dengan kompas dapat digambarkan sebagai garis lurus pada peta. Bagi para pelaut, karakteristik tersebut sangat berguna untuk merencanakan perjalanan.
Namun, keunggulan tersebut memiliki konsekuensi terhadap luas. Semakin jauh suatu wilayah dari khatulistiwa, semakin besar distorsi skalanya. Wilayah di lintang tinggi seperti Greenland, Kanada bagian utara, Rusia, Eropa Utara, dan Alaska terlihat jauh lebih besar dibandingkan proporsi luasnya yang sebenarnya. Sebaliknya, daratan yang berada lebih dekat dengan khatulistiwa terlihat relatif lebih kecil.
Perbandingan Afrika dan Greenland menjadi contoh yang paling sering digunakan. Dalam tampilan Mercator, keduanya dapat terlihat memiliki ukuran yang hampir sebanding, padahal Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih luas daripada Greenland. Equal Earth mengubah kesan tersebut secara drastis karena Afrika ditampilkan dengan luas relatif yang sesuai dengan ukuran sebenarnya.
Perubahan pada Peta Equal Earth
Perubahan paling mudah terlihat adalah ukuran relatif berbagai wilayah dunia. Afrika akan tampak jauh lebih besar daripada yang biasa terlihat pada peta Mercator, sementara sebagian wilayah Amerika Utara dan Eropa tampak mengecil. Amerika Selatan, Asia Selatan, serta kawasan lain yang berada relatif dekat dengan khatulistiwa juga memperoleh proporsi yang lebih sesuai.
Namun, bukan berarti benua-benua tersebut benar-benar “dibesarkan” atau “diperkecil” oleh Equal Earth. Justru gambar yang selama ini terlihat pada Mercator telah mengalami pembesaran yang berbeda-beda berdasarkan posisi garis lintang. Equal Earth menghilangkan distorsi luas tersebut sehingga satu satuan luas pada suatu bagian peta mewakili proporsi yang sama seperti satuan luas di bagian lainnya.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual. Sebuah peta yang digunakan sejak masa sekolah dapat memengaruhi intuisi seseorang mengenai besar-kecilnya negara dan benua. Ketika Afrika terus-menerus terlihat hampir sebanding dengan Greenland atau jauh lebih kecil dibandingkan gabungan wilayah utara, seseorang bisa memiliki gambaran yang keliru mengenai skala geografis dunia meskipun batas negaranya sendiri digambar dengan benar.
Mengapa PBB Mendukung Peta Equal Earth?
Majelis Umum PBB pada 4 September 2026 menyetujui resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi berluas sama untuk memberikan representasi yang lebih proporsional terhadap ukuran benua. Resolusi tersebut memperoleh 164 suara mendukung, satu menolak, dan enam abstain. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak.
Inisiatif tersebut didorong oleh Togo dan mendapat dukungan negara-negara Afrika. Salah satu latar belakang utamanya adalah kritik bahwa dominasi Mercator dalam representasi dunia membuat Afrika terlihat lebih kecil daripada ukurannya yang sebenarnya. Karena peta digunakan dalam pendidikan, lembaga pemerintahan, media, dan berbagai bentuk komunikasi publik, cara sebuah wilayah ditampilkan dianggap dapat ikut membentuk persepsi mengenai dunia.
Resolusi tersebut juga tidak hanya berbicara soal estetika peta. Penggunaan proyeksi equal-area dipandang sebagai cara untuk meningkatkan ketepatan ketika tujuan sebuah peta adalah membandingkan luas wilayah. Meski demikian, keputusan PBB tidak menetapkan bahwa hanya satu desain Equal Earth tertentu yang boleh digunakan untuk seluruh kebutuhan pemetaan.
Penolakan Amerika Serikat terhadap Equal Earth
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak dalam pemungutan suara tersebut. Perwakilan AS Yaryna Ferencevych mengkritik resolusi itu sebagai bagian dari apa yang menurut pemerintah AS merupakan proyek ideologis yang lebih luas, bukan sekadar upaya teknis memperbaiki proporsi kartografi.
Pihak AS berpendapat Majelis Umum seharusnya memusatkan perhatian pada persoalan internasional yang dinilai lebih mendesak. Washington juga mengkritik hubungan pembahasan peta dengan isu seperti keadilan kognitif dan narasi mengenai warisan sejarah, sehingga keberatannya tidak diarahkan pada rumus matematis Equal Earth semata, tetapi terutama pada framing politik yang menyertai resolusi tersebut.
Sementara itu, enam negara memilih abstain, yakni Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina. Dengan demikian, perdebatan mengenai Equal Earth tidak sepenuhnya berhenti pada pertanyaan proyeksi mana yang lebih akurat dalam menggambarkan luas, tetapi juga menyentuh bagaimana peta politik menangani wilayah yang disengketakan dan bagaimana sebuah representasi kartografis dapat ditafsirkan secara geopolitik.
Apakah Equal Earth Lebih Akurat daripada Mercator?
Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan “akurat”. Jika yang ingin dibandingkan adalah luas negara atau benua, Equal Earth memiliki keunggulan jelas karena memang dirancang sebagai proyeksi equal-area. Afrika, Greenland, Amerika Selatan, Eropa, dan wilayah lain dapat dibandingkan menggunakan proporsi luas yang konsisten.
Namun, Equal Earth tidak mempertahankan semua bentuk dan sudut dengan sempurna. Sama seperti proyeksi datar lainnya, tetap terdapat distorsi karena permukaan bumi yang melengkung harus dipindahkan ke bidang dua dimensi. Karena itu, tidak tepat pula mengatakan bahwa Equal Earth merupakan satu-satunya peta “benar”, sedangkan semua proyeksi lain “salah”.
Pemilihan proyeksi seharusnya mengikuti tujuan pemakaian. Untuk pendidikan mengenai ukuran benua, visualisasi populasi, lingkungan, penggunaan lahan, atau data global yang bergantung pada luas, proyeksi equal-area sangat berguna. Untuk kebutuhan lain seperti navigasi atau layanan peta interaktif tertentu, karakteristik proyeksi yang berbeda mungkin lebih dibutuhkan.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa yang dimaksud dengan peta Equal Earth?
Equal Earth adalah proyeksi peta dunia equal-area yang mempertahankan perbandingan luas wilayah agar negara dan benua tampil sesuai proporsi luas relatifnya.
2. Apakah Equal Earth dibuat oleh PBB?
Tidak. Equal Earth dikembangkan oleh Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny serta diperkenalkan pada 2018.
3. Apakah peta Mercator sekarang dilarang?
Tidak. Resolusi PBB bersifat nonmengikat dan tidak melarang penggunaan Mercator, termasuk untuk kebutuhan navigasi yang memang sesuai dengan karakteristik proyeksi tersebut.
4. Mengapa Afrika terlihat lebih besar pada Equal Earth?
Bukan karena Afrika diperbesar, melainkan karena Equal Earth mempertahankan luas relatif, sementara Mercator membuat wilayah dekat kutub terlihat jauh lebih besar.
5. Apakah Equal Earth merupakan peta paling akurat di dunia?
Tidak ada proyeksi datar yang sempurna untuk semua kebutuhan. Equal Earth sangat baik untuk mempertahankan luas, tetapi tetap memiliki distorsi pada karakteristik lain.