Skip to content

Kalimat untuk Anak yang Terdengar Baik tapi Perlu Dihindari, Bisa Jadi Beban Buat Anak

Orang tua tentu ingin mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan, menyemangati, atau membuat anak merasa lebih baik. Masalahnya, ada sejumlah kalimat yang terdengar positif ketika diucapkan orang dewasa, tetapi dapat diterima berbeda oleh anak. Ucapan seperti “kamu pintar”, “jangan menangis”, atau “kamu baik-baik saja” mungkin keluar secara spontan dengan niat baik, padahal dalam situasi tertentu kalimat tersebut bisa membuat anak merasa emosinya diabaikan atau membuat perhatian mereka lebih terfokus pada hasil daripada proses.

Bukan berarti satu kalimat yang terucap sesekali otomatis berdampak buruk pada perkembangan anak. Konteks, nada bicara, usia, serta hubungan anak dengan orang tua tetap berpengaruh. Namun, memilih kata yang lebih spesifik, mengakui perasaan anak, dan memberi ruang bagi mereka untuk mencoba dapat membantu membangun komunikasi yang lebih sehat. Berikut kalimat untuk anak yang terdengar baik tapi perlu dihindari yang dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Selasa (15/9).

1. “Good Job” atau “Hebat”

Memberikan pujian tentu bukan sesuatu yang salah. Ketika anak berhasil menyelesaikan puzzle, membereskan mainan, atau mencoba sesuatu yang sebelumnya sulit, spontan mengatakan “hebat” terasa seperti cara sederhana menunjukkan apresiasi. Hanya saja, jika hampir semua pencapaian selalu dijawab dengan pujian yang sama, anak belum tentu mengetahui bagian mana dari tindakannya yang sebenarnya patut diapresiasi.

UNICEF menyarankan penggunaan pujian yang lebih spesifik terhadap tindakan anak. Alih-alih hanya mengatakan “good job”, orang tua dapat menunjukkan apa yang mereka perhatikan, misalnya, “Tadi kamu membereskan semua mainan setelah selesai bermain.” Cara seperti ini membantu anak memahami perilaku positif apa yang dilakukan sekaligus menunjukkan bahwa usaha mereka benar-benar diperhatikan.

Jadi, “hebat” tetap boleh digunakan, tetapi akan lebih bermakna jika diikuti alasan yang jelas. Misalnya, “Hebat, kamu terus mencoba meskipun tadi sempat kesulitan,” atau “Ayah lihat kamu sabar menyusun baloknya sampai selesai.” Pujian pun tidak berhenti sebagai penilaian singkat, melainkan menjadi informasi yang membantu anak mengenali proses yang telah mereka lakukan.

2. “Kamu Pintar Sekali”

Menyebut anak pintar terdengar sangat positif dan sering dimaksudkan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Namun, terlalu sering menghubungkan keberhasilan dengan identitas seperti “pintar” bisa membuat perhatian anak tertuju pada label tersebut. Dalam beberapa situasi, anak kemudian dapat merasa bahwa dirinya harus selalu berhasil agar tetap dianggap pintar.

Child Mind Institute menjelaskan bahwa pujian yang lebih deskriptif dapat mengarahkan perhatian anak pada usaha dan tindakan yang menghasilkan keberhasilan. Daripada hanya mengatakan anak pintar, orang tua dapat menunjukkan strategi yang dilakukan, seperti bagaimana anak memikirkan solusi, mencoba kembali, atau memperbaiki kesalahannya.

Kalimat seperti “Kamu menemukan cara lain ketika cara pertama belum berhasil” atau “Tadi kamu benar-benar memperhatikan langkahnya satu per satu” memberikan gambaran yang lebih konkret. Dengan begitu, anak bukan sekadar menerima identitas positif dari orang tua, tetapi juga mulai mengenali bahwa belajar merupakan proses yang melibatkan latihan, kesalahan, strategi, dan ketekunan.

3. “Kamu Anak Baik”

Kalimat “kamu anak baik” sering digunakan sebagai bentuk kasih sayang sekaligus penghargaan setelah anak melakukan sesuatu yang diharapkan. Sekilas tidak ada masalah dengan ungkapan tersebut. Namun, label yang terlalu umum membuat perilaku tertentu seolah melekat pada identitas anak, bukan pada tindakan yang baru saja mereka lakukan.

Raising Children Network menyebut pujian deskriptif lebih jelas dan terasa lebih tulus daripada pujian umum seperti “good boy”. Orang tua bisa menyebut tindakan tertentu yang diapresiasi, misalnya karena anak berbagi, menunggu giliran, membantu orang lain, atau memenuhi kesepakatan keluarga.

Daripada mengatakan, “Kamu anak baik karena mau berbagi,” orang tua dapat mengubahnya menjadi, “Tadi kamu memberikan giliran kepada adik meskipun kamu masih ingin bermain. Itu tindakan yang baik.” Perbedaan kalimatnya memang kecil, tetapi fokusnya bergeser dari menilai siapa anak tersebut menjadi membahas perilaku yang bisa dipahami, diulang, atau diperbaiki.

4. “Jangan Menangis, Tidak Ada yang Perlu Ditangisi”

Melihat anak menangis membuat banyak orang tua secara refleks ingin segera menghentikannya. Karena itu, kalimat seperti “jangan menangis”, “sudah, jangan sedih”, atau “begitu saja kok nangis” sering diucapkan dengan tujuan menenangkan. Akan tetapi, sesuatu yang terlihat sepele bagi orang dewasa belum tentu terasa kecil dari sudut pandang anak.

ZERO TO THREE menekankan pentingnya mengakui perasaan anak sebelum membantu mereka menghadapi atau mengatur perilakunya. Memberi nama pada emosi seperti kecewa, marah, atau sedih juga dapat membantu anak perlahan mengenali apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Ketika anak menangis karena mainannya rusak, misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu sedih karena mainan yang kamu suka rusak, ya.” Setelah emosinya mulai lebih tenang, barulah percakapan bisa diarahkan ke solusi. Mengakui kesedihan bukan berarti semua tuntutan anak harus dipenuhi. Orang tua tetap dapat memasang batas sambil menunjukkan bahwa emosi anak boleh muncul dan dibicarakan.

5. “Tidak Usah Khawatir, Semuanya Pasti Baik-Baik Saja”

Ketika anak takut menghadapi hari pertama sekolah, tampil di depan kelas, atau menjalani sesuatu yang baru, mengatakan “tidak usah khawatir” terasa seperti bentuk dukungan. Orang tua sebenarnya sedang berusaha meyakinkan bahwa situasi tersebut tidak seseram yang dibayangkan anak. Sayangnya, rasa cemas tidak selalu menghilang hanya karena seseorang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

American Psychological Association menjelaskan bahwa dalam menghadapi kecemasan anak, respons yang mengakui perasaan sekaligus mendorong kemandirian dapat lebih membantu daripada memberikan terlalu banyak jaminan. Anak membutuhkan kesempatan untuk belajar bahwa ia mampu menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman.

Orang tua dapat mencoba mengatakan, “Kelihatannya kamu cukup gugup menghadapi besok. Bagian mana yang paling membuatmu khawatir?” Setelah mengetahui penyebabnya, ajak anak memikirkan langkah yang bisa dilakukan. Tujuannya bukan menjanjikan bahwa segala sesuatu pasti berjalan sempurna, melainkan membantu anak membangun keyakinan bahwa ia dapat menghadapi sesuatu meskipun hasil akhirnya belum diketahui.

6. “Ayah dan Ibu Cuma Ingin Kamu Melakukan yang Terbaik”

Kalimat ini terdengar sangat suportif karena seolah tidak meminta anak menjadi nomor satu. Namun, istilah “yang terbaik” dapat memiliki arti berbeda bagi setiap anak. Anak yang sangat berorientasi pada pencapaian mungkin menerjemahkannya sebagai tuntutan untuk selalu mengerahkan kemampuan maksimal dan tidak boleh melakukan kesalahan.

HealthyChildren.org menyarankan orang tua lebih menekankan usaha serta proses belajar daripada sekadar hasil. Pada anak atau remaja yang cenderung perfeksionis, pembicaraan mengenai apa yang dipelajari, berapa banyak usaha yang wajar diberikan, dan apa yang dapat diperbaiki lain kali dapat membantu mengurangi fokus berlebihan pada hasil sempurna.

Kalimatnya dapat dibuat lebih konkret, misalnya, “Kerjakan sebisamu dengan waktu yang kamu punya,” atau “Tidak apa-apa kalau hasilnya belum seperti yang kamu inginkan, kita bisa lihat apa yang dapat dipelajari.” Pesannya tetap mendorong anak untuk bertanggung jawab, tetapi tanpa membuat setiap tugas terasa seperti ujian untuk membuktikan kemampuan dirinya.

7. “Kenapa Kamu Tidak Bisa Seperti Kakak atau Adikmu?”

Dalam beberapa keluarga, perbandingan muncul sebagai cara memotivasi. Ketika kakak rajin belajar atau adik mudah membereskan barang, orang tua mungkin berharap contoh tersebut membuat anak lain ikut berubah. Niatnya bisa saja mendorong, tetapi membandingkan dua anak menempatkan mereka dalam kompetisi yang sebenarnya tidak diperlukan.

Psychology Today mencatat bahwa perlakuan berbeda serta favoritisme di antara saudara dapat berkaitan dengan rasa iri, konflik, dan kebencian antarsaudara. Anak juga sangat peka terhadap bagaimana perhatian dan penghargaan orang tua diberikan kepada saudara mereka.

Daripada mengatakan, “Lihat kakakmu, kenapa kamu tidak bisa serapi dia?”, fokuskan pembicaraan langsung pada perilaku yang ingin diperbaiki. Misalnya, “Tas dan sepatumu masih di ruang tamu. Tolong simpan di tempatnya sebelum bermain.” Anak mendapatkan instruksi yang jelas tanpa harus merasa bahwa dirinya sedang dinilai berdasarkan kemampuan saudara kandungnya.

8. “Kalau Kamu Berhenti Menangis, Nanti Dibeliin Mainan”

Ketika anak menangis atau menolak melakukan sesuatu di tempat umum, menawarkan es krim, mainan, atau tambahan waktu bermain gadget sering menjadi jalan tercepat untuk menghentikan situasi. Strategi tersebut memang mungkin berhasil saat itu juga, sehingga sangat mudah berubah menjadi kebiasaan tanpa disadari.

Parents menjelaskan adanya perbedaan antara sistem penghargaan yang direncanakan untuk mengajarkan perilaku tertentu dengan suap yang diberikan secara reaktif agar anak segera patuh. Jika hadiah baru muncul setelah anak merengek atau tantrum, respons tersebut justru berisiko mengajarkan bahwa perilaku tadi dapat menjadi alat untuk mendapatkan sesuatu.

Orang tua tetap dapat menggunakan penghargaan dalam situasi tertentu selama aturan dan tujuannya jelas sejak awal. Namun, ketika anak sedang marah atau menangis, lebih baik bantu mereka menenangkan emosi terlebih dahulu lalu jelaskan batasnya secara konsisten. Misalnya, “Kamu ingin mainan itu dan kecewa karena hari ini kita tidak membelinya. Kamu boleh kecewa, tetapi hari ini kita memang tidak membeli mainan.”

Pertanyaan dan Jawaban

Apakah mengatakan “kamu pintar” kepada anak tidak boleh?

Boleh sesekali, tetapi sebaiknya imbangi dengan pujian yang menyoroti usaha, strategi, atau proses yang dilakukan anak.

Apa pengganti kalimat “jangan menangis”?

Orang tua dapat mengatakan, “Kamu kelihatannya sedih,” atau “Tidak apa-apa kalau kamu ingin menangis, ceritakan kalau sudah siap.”

Apakah terlalu banyak memuji anak bisa berdampak buruk?

Yang lebih penting bukan sekadar banyak atau sedikitnya pujian, tetapi apakah pujian tersebut tulus, spesifik, dan membantu anak memahami perilaku atau usaha yang diapresiasi.

Bagaimana menenangkan anak tanpa menjanjikan semuanya akan baik-baik saja?

Akui dahulu ketakutan atau kekhawatirannya, kemudian tanyakan apa yang membuatnya cemas dan bantu anak memikirkan langkah yang bisa dilakukan.

Apakah memberi hadiah kepada anak selalu buruk?

Tidak. Hadiah yang digunakan secara terencana berbeda dengan memberikan sesuatu secara spontan hanya agar anak berhenti menangis, merengek, atau langsung menuruti permintaan.