Menegur anak menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses mendidik, terutama ketika anak melakukan sesuatu yang melanggar aturan, mengganggu orang lain, atau mengulangi perilaku yang sebelumnya sudah dibicarakan. Namun, ada perbedaan besar antara mengoreksi perilaku anak dan membuat anak merasa dirinya buruk. Teguran yang terlalu keras, dilakukan di depan orang lain, atau dipenuhi label negatif bisa membuat pesan yang sebenarnya ingin disampaikan justru tenggelam oleh rasa malu, marah, atau takut.
Orang tua tetap boleh bersikap tegas tanpa harus mempermalukan anak. Tujuan teguran seharusnya membantu anak memahami apa yang salah, mengapa perilaku tersebut perlu diperbaiki, dan apa yang bisa dilakukan secara berbeda lain kali. Dengan cara ini, anak tidak hanya berhenti melakukan sesuatu karena takut dimarahi, tetapi perlahan belajar mengendalikan perilaku dan bertanggung jawab atas tindakannya. Berikut cara menegur anak tanpa mempermalukan atau merendahkan yang dihimpun Keeping Times dari berbagai sumber, Selasa (15/9).
1. Tenangkan Emosi Sebelum Mulai Menegur
Keinginan untuk langsung menegur biasanya muncul ketika orang tua melihat perilaku yang membuat kesal, misalnya anak menumpahkan sesuatu karena bermain-main, memukul saudaranya, membantah, atau mengabaikan aturan yang sudah berulang kali dijelaskan. Dalam keadaan emosi sedang tinggi, kata-kata dapat keluar lebih tajam daripada yang sebenarnya diperlukan. Karena itu, bila situasinya tidak berbahaya dan masih memungkinkan, beri diri sendiri beberapa detik untuk menurunkan nada bicara sebelum mulai menyampaikan teguran.
Menunda reaksi bukan berarti membiarkan perilaku anak. Justru dengan kondisi yang lebih terkendali, orang tua bisa menentukan bagian mana yang benar-benar perlu dikoreksi tanpa menyerang pribadi anak. Kalimat seperti, “Ibu tidak suka kamu melempar mainan karena bisa mengenai orang,” jauh lebih jelas dibanding, “Kamu memang selalu bikin masalah.” Teguran pertama membicarakan perilaku yang perlu dihentikan, sedangkan teguran kedua memberi cap negatif pada diri anak.
2. Jangan Menegur Anak di Depan Banyak Orang jika Tidak Mendesak
Anak juga memiliki rasa malu, terlebih ketika mulai memasuki usia sekolah dan semakin sadar terhadap penilaian orang di sekitarnya. Mengkritik, membentak, atau menceritakan kesalahan anak di depan saudara, teman, tetangga, maupun keluarga besar dapat membuat anak lebih sibuk mempertahankan harga dirinya daripada mendengarkan maksud teguran. Ia mungkin membantah, menangis, pergi, atau justru melakukan perlawanan karena merasa dipermalukan.
Jika perilakunya tidak membutuhkan intervensi langsung, ajak anak berbicara di tempat yang lebih privat. Orang tua bisa mengatakan, “Ayo ikut Ayah sebentar, ada yang perlu kita bicarakan.” Setelah situasi lebih tenang, jelaskan perilaku yang menjadi masalah. Namun, apabila anak sedang melakukan tindakan berbahaya atau menyakiti orang lain, tentu perilaku tersebut perlu dihentikan saat itu juga. Pembicaraan yang lebih panjang tetap bisa dilakukan setelah keadaan terkendali.
3. Fokus pada Perilakunya, Bukan Memberi Label pada Anak
Salah satu perbedaan terpenting dalam cara menegur anak tanpa merendahkan adalah memisahkan antara apa yang dilakukan anak dan siapa dirinya. Anak yang tidak membereskan mainan bukan berarti “pemalas”, anak yang berbohong satu kali tidak otomatis menjadi “pembohong”, dan anak yang mengganggu saudaranya tidak berarti “anak nakal”. Label seperti ini terdengar sederhana bagi orang dewasa, tetapi dapat terasa seperti penilaian terhadap seluruh dirinya.
Gunakan kalimat yang spesifik terhadap kejadian. Misalnya, “Mainannya belum kamu kembalikan ke tempatnya,” atau, “Tadi kamu mengatakan sudah mengerjakan PR, tetapi ternyata belum.” Kalimat tersebut memberikan informasi tentang masalah yang harus diperbaiki tanpa mendefinisikan karakter anak. Anak pun lebih mudah mengetahui apa yang diharapkan darinya karena masalah yang dibicarakan jelas, bukan sekadar mendengar bahwa dirinya dianggap buruk.
4. Jelaskan Masalah Secara Singkat dan Jelas
Teguran tidak selalu semakin efektif hanya karena disampaikan semakin panjang. Ketika orang tua terus berbicara dalam keadaan kesal, pembahasan dapat melebar ke berbagai kesalahan lain yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kejadian saat itu. Anak akhirnya kesulitan memahami apa yang sebenarnya menjadi masalah karena satu kesalahan berubah menjadi daftar panjang tentang semua hal yang pernah dilakukannya.
Cobalah menyampaikan inti persoalan dalam kalimat sederhana. Contohnya, “Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh memukul,” atau, “Makanannya tidak boleh dilempar karena bisa mengotori lantai dan mengenai orang.” Setelah itu, sampaikan tindakan yang diharapkan. Anak membutuhkan arahan konkret seperti “taruh gelasnya di meja” atau “berbicara tanpa memukul”, bukan hanya larangan panjang mengenai apa saja yang tidak boleh dilakukan.
5. Hindari Membandingkan Anak dengan Saudara atau Temannya
Kalimat seperti, “Lihat kakakmu, dia saja bisa,” mungkin terdengar seperti cara cepat untuk mendorong anak berubah, tetapi perbandingan dapat menggeser fokus pembicaraan. Masalah yang seharusnya mengenai perilaku anak berubah menjadi persoalan siapa yang dianggap lebih baik. Anak juga bisa merasa dirinya selalu berada di posisi yang kalah ketika dibandingkan dengan saudara, teman sekolah, atau anak lain yang dikenal keluarga.
Lebih efektif membandingkan perilaku anak dengan aturan atau harapan yang memang sudah disepakati. Misalnya, “Sebelum bermain lagi, mainan yang tadi perlu dibereskan,” atau, “Di rumah kita berbicara tanpa mengejek satu sama lain.” Dengan cara tersebut, anak memahami bahwa koreksi diberikan karena ada perilaku tertentu yang perlu diperbaiki, bukan karena ia harus menjadi seperti orang lain untuk mendapatkan penerimaan dari orang tuanya.
6. Beri Anak Kesempatan Menjelaskan Apa yang Terjadi
Tidak semua kesalahan anak membutuhkan perdebatan panjang, tetapi memberi kesempatan untuk menjelaskan dapat membantu orang tua memahami situasi dengan lebih utuh. Ada kalanya perilaku yang terlihat sebagai pembangkangan ternyata muncul karena anak salah memahami instruksi, sedang kesulitan mengendalikan emosi, atau bereaksi terhadap sesuatu yang terjadi sebelumnya. Mendengarkan bukan berarti otomatis membenarkan tindakannya.
Orang tua dapat bertanya dengan sederhana, seperti, “Tadi sebenarnya apa yang terjadi?” atau “Kenapa kamu mengambil barang itu tanpa izin?” Dengarkan terlebih dahulu, kemudian tetap luruskan perilaku yang memang tidak dapat diterima. Misalnya, “Ibu mengerti kamu kesal karena mainanmu diambil. Tapi memukul tetap tidak boleh.” Cara ini menunjukkan bahwa perasaan anak dapat didengar tanpa membuat semua perilakunya menjadi diperbolehkan.
7. Hindari Sindiran, Ejekan, dan Kalimat yang Menjatuhkan Harga Diri
Teguran yang disampaikan dengan sindiran terkadang terasa lebih ringan bagi orang dewasa, tetapi dapat terasa sangat berbeda bagi anak. Ucapan seperti, “Wah, pintar sekali sampai gelasnya pecah,” atau “Memang kamu paling hebat bikin rumah berantakan,” tidak menjelaskan perilaku yang diharapkan. Anak justru dapat menangkap pesan bahwa dirinya sedang ditertawakan ketika melakukan kesalahan.
Begitu pula dengan kalimat yang meremehkan kemampuan, seperti “Begitu saja tidak bisa,” “Kamu bikin malu,” atau “Dasar cengeng.” Jika tujuan orang tua adalah membantu anak belajar dari kesalahan, gunakan bahasa yang mengarahkan pada tindakan. Contohnya, “Airnya tumpah, sekarang ambil kain dan kita bersihkan.” Anak tetap menghadapi konsekuensi dari tindakannya, tetapi tidak harus dibuat merasa bodoh atau tidak berharga karena sebuah kesalahan.
8. Berikan Konsekuensi yang Berkaitan dengan Perilaku
Teguran akan lebih mudah dipahami ketika konsekuensi memiliki hubungan dengan perilaku yang dilakukan. Jika anak sengaja melempar mainan, misalnya, mainan tersebut dapat disimpan sementara karena belum digunakan dengan aman. Jika anak membuat sesuatu berantakan, ia dapat diminta ikut membereskannya. Fokusnya bukan membuat anak menderita, melainkan membantu anak melihat hubungan antara pilihan dan akibatnya.
Hindari memberikan hukuman yang terlalu jauh dari masalah hanya karena orang tua sedang marah. Ancaman seperti tidak boleh bermain selama sebulan karena lupa membereskan satu barang cenderung terasa tidak proporsional dan sulit dipertahankan secara konsisten. Konsekuensi yang sederhana, masuk akal, dan dapat dijalankan biasanya lebih mudah dimengerti anak sekaligus membuat batas yang diberikan orang tua terasa jelas.
9. Arahkan Anak untuk Memperbaiki Kesalahannya
Setelah mengetahui bahwa tindakannya salah, anak membutuhkan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dapat memperbaiki keadaan. Jika ia menjatuhkan barang, ia dapat membantu mengambilnya. Jika menyakiti saudaranya, ia perlu berhenti melakukan tindakan tersebut dan, setelah suasana tenang, mencari cara memperbaiki hubungan. Jika membuat kekacauan, anak bisa dilibatkan dalam membereskannya sesuai kemampuan dan usianya.
Langkah ini membuat teguran tidak berhenti pada “kamu salah”. Anak belajar bahwa setelah melakukan kesalahan masih ada tindakan yang bisa dilakukan. Orang tua juga tidak perlu memaksa anak mengucapkan permintaan maaf secara tergesa-gesa ketika emosinya masih memuncak. Terkadang anak perlu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum benar-benar memahami apa yang telah terjadi dan mampu melakukan perbaikan dengan lebih tulus.
10. Setelah Menegur, Jangan Menarik Kasih Sayang sebagai Hukuman
Ketegasan tidak mengharuskan orang tua menjadi dingin setelah konflik selesai. Anak perlu mengetahui bahwa perilakunya memang dapat dikoreksi, tetapi hubungan dengan orang tua tetap aman. Setelah masalah dibicarakan dan konsekuensi dijalankan, hindari terus mengungkit kesalahan, mendiamkan anak berlebihan, atau memperlakukannya seolah ia harus menebus kesalahannya sepanjang hari.
Hubungan dapat kembali normal tanpa menghilangkan aturan yang sudah diberikan. Orang tua tetap bisa mengajak anak makan, berbicara, bercanda, atau melakukan aktivitas seperti biasa setelah situasi mereda. Sikap ini membantu anak memahami sebuah pesan penting: melakukan kesalahan tidak membuat dirinya kehilangan kasih sayang, tetapi ia tetap bertanggung jawab memperbaiki perilaku yang salah.
Pertanyaan dan Jawaban
Apakah orang tua boleh membentak anak ketika perilakunya berbahaya?
Dalam keadaan mendesak, suara keras dapat digunakan untuk segera menghentikan tindakan yang berbahaya. Setelah anak aman, lanjutkan penjelasan dengan nada yang lebih terkendali.
Bagaimana jika anak tertawa ketika sedang ditegur?
Tidak selalu berarti anak meremehkan orang tua. Tertawa terkadang muncul sebagai reaksi gugup atau tidak nyaman, sehingga tetap fokus pada perilaku yang sedang dibicarakan dan sampaikan batas dengan jelas.
Bagaimana jika anak terus membantah saat ditegur?
Hindari mengubah teguran menjadi adu argumen. Beri kesempatan anak menyampaikan pendapat, tetapi tetap pertahankan aturan atau konsekuensi yang masuk akal.
Apakah anak harus langsung meminta maaf setelah melakukan kesalahan?
Tidak selalu harus saat itu juga. Anak dapat diberi waktu untuk menenangkan emosi sebelum meminta maaf atau melakukan tindakan lain untuk memperbaiki kesalahannya.
Apa yang harus dilakukan jika orang tua terlanjur mempermalukan anak saat menegur?
Akui cara penyampaiannya yang kurang tepat dan minta maaf tanpa menghapus batas yang diberikan. Orang tua tetap dapat menjelaskan bahwa perilaku anak perlu diperbaiki, tetapi cara menegurnya seharusnya lebih baik.